
SIDOARJO | duta.co – Jumlah Panitia Peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-80 RI di Perumahan Graha Permata Sidorejo Indah (GPSI) didominasi anak muda, alias generasi Z dan milenial. “Separo lebih PANHUT ke-80 RI ini diisi anak-anak muda. Mereka butuh tempat untuk innovasi, kreasi,” demikian disampaikan Agus Hartono, Ketua Panitia Peringatan HUT ke-80 RI di Perum GPSI, Sabtu (21/6/25).
Menurut Agus, ini adalah momen penting bagi anak-anak muda, sekaligus sebagai bimbingan masa depan. Sebab, tantangan mereka ke depan lebih kompleks. Mereka mengadapi situasi yang sangat berbeda dengan orangtuanya. “RW-10 bisa menjadikan ini sebagai titik awal pendampingan mereka,” tegasnya.
Wakil Ketua RW-10 GPSI, Ipung Ardiyansyah menyambut baik kehadiran generasi milenial sebuah generasi Y atau Langgas. Mereka ini kelompok demografi setelah Generasi X dan mendahului Generasi Z, dan butuh pendampingan. “Benar. Generasi ini memiliki tantangan yang berbeda. Mereka harus didampingi, karena mamasuki era digitalisasi. Begitu juga generasi Z, yang lahir antara tahun 1997-2012, juga menghadapi tantangan yang tidak kecil,” jelasnya.
Dalam memperingati HUT ke-80 RI di Perum GPSI, jumlah panitia memang membengkak, dari 40 personel menjadi 80 personel. “Menurut laporan panitia, separo adalah generasi muda. Alhamdulillah, soal penambahan pengandaan kaos seragam panitia, ada perusahaan security service (T2P) yang siap menanggungnya. Terima kasih,” tambahnya.
Menurut Ipung, anak-anak muda di Perum GPSI ini bisa mengikuti pemberdayaan dalam menghadapi bonus demografi, di mana fenomena jumlah penduduk usia produktif lebih banyak dari jumlah penduduk usia non-produktif. “Ini kalau tidak dibaca secara cermat bisa menjadi masalah. Anak-anak GPSI tidak boleh menganggur,” urainya.
Dari angka di Badan Pusat Statistik (BPS), Lembaga Pemerintah Non Kementerian yang bertanggung jawab langsung kepada Presiden menunjuk, bahwa, sejak tahun 2012 hingga 2035 Indonesia diperkirakan memasuki masa bonus demografi dengan periode puncak antara tahun 2020-2030.
Hal ini ditunjukkan dengan jumlah penduduk usia produktif yang mencapai dua kali lipat jumlah penduduk usia anak dan lanjut usia. Jumlah penduduk usia produktif yang besar menyediakan sumber tenaga kerja, pelaku usaha, dan konsumen potensial yang sangat berperan dalam percepatan pembangunan.
Bonus Demografi merujuk pada sebuah fenomena penambahan jumlah penduduk usia produktif (15-64 tahun) yang membawa keuntungan bagi perekonomian suatu wilayah. Kelompok penduduk ini dapat menjadi motor penggerak dalam pemanfaatan sumber daya dan teknologi sehingga output perekonomian dapat meningkat.
Satu sisi, ini membuka peluang bagi banyak individu untuk mendapatkan pekerjaan, yang dapat mengurangi tingkat pengangguran dan meningkatkan kualitas hidup. Peningkatan jumlah tenaga kerja usia produktif itu dapat mendorong sektor-sektor pemerintah, seperti pendidikan dan kesehatan, untuk berkembang guna memenuhi kebutuhan masyarakat.
“Tetapi, jika lapangan kerja tidak dapat menyerap jumlah tenaga kerja yang meningkat, dapat terjadi peningkatan angka pengangguran. Ini bahayanya,. Anak-anak muda perumahan harus disiapkan secara matang,” jelas Mokhammad Kaiyis (Ketua RW-10, GPSI) yang juga anggota Dewan Kehormatan PWI (Persatuan Wartawan Indonesia) Jatim usai acara rakor HUT RI ke-80 di Balai RW Perum GPSI. (mky)