1. Elena Sazonova, keponakan anak angkat Presiden Soekarno memberikan foto kenangan keluarganya bersama Presiden Soekarno kepada Dubes Wahid.
MOSKOW | duta.co – Tarian Gemu Famire semakin dikenal di Rusia. Moscow City Open College, hari Selasa (11/12/18) lalu mengawali penyelenggaraan Hari Indonesia dengan tarian Gemu Famire yang yang ditampilkan sekitar 25 siswa dan disaksikan sekitar 400 siswa-siswi sekolah tersebut. Hadir juga Duta Besar Republik Indonesia untuk Federasi Rusia merangkap Republik Belarus, M. Wahid Supriyadi.
Dengan tema “Republik Indonesia, Budayanya, Sejarah dan Perjuangan Kemerdekaan”, para siswa secara bergantian menceritakan sejarah Indonesia, mulai dari perjuangan sebelum dan sesudah proklamasi kemerdekaan 17 Agustus 1945, budaya dan tradisi diselingi beberapa tarian dan lagu-lagu. Ditampikan pula video tentang obyek-obyek wisata, budaya dan tradisi dari berbagai daerah Indonesia serta biografi singkat para presiden Indonesia dari Soekarno hingga Joko Widodo.
Kedekatan hubungan Indonesia dan Rusia di tahun 1960-an mendapat perhatian tersendiri. Para siswa menceritakan biografi Soekarno, kehidupan keluarganya, lengkap dengan kiprah putra-putrinya dari Guruh yang aktif di bidang seni hingga Megawati Soekarnoputri yang akhirnya menjadi Presiden RI ke-5. Yang menarik adalah sebuah foto yang menggambarkan ketika Presiden Sukarno mengunjungi Uzbekistan tahun 1956 yang waktu itu bagian dari Uni Soviet dan dikenalkan dengan seorang gadis kecil bernama Yulduz yang kemudian menjadi anak angkat Presiden Soekarno.
Pada acara ini hadir juga seorang gadis remaja bernama Elena Sazonova dan memperkenalkan diri sebagai keponakan Yulduz. Elena pun berpidato dalam Bahasa Indonesia yang cukup lancar, mengenang bibinya yang menjadi anak angkat Presiden Soekarno. Elena juga menunjukan dan memberikan beberapa foto kenangan keluarganya bersama Presiden Soekarno kepada Dubes Wahid.
Igor Surat, Rektor Institut Ekonomi Moskow yang menaungi Moscow City Open College kepada Dubes Wahid mengatakan bahwa pemilihan tema Indonesia pada acara ini karena Indonesia adalah negara yang eksotik, memiliki kekayaan budaya yang beanekaragam namun penuh toleransi.
Dubes Wahid dalam sambutan di acara tersebut menyampaikan rasa haru dan terkesan dengan acara yang diselenggarakan Moscow City Open College. “Ini adalah acara Hari Indonesia pertama di tingkat College yang saya kunjungi dan saya sangat menghargai upaya-upaya college ini dalam memperkenalkan Indonesia. Bagi saya, Rusia adalah tetangga jauh Indonesia, jauh di mata namun dekat di hati,” ujar Wahid yang diikuti tepuk tangan meriah dari para hadirin.
Moscow City Open College adalah salah satu sekolah menengah kejuruan yang murid-muridnya telah menyelesaikan pendidikan dasar kelas 9. Di college ini mereka belajar tiga tahun sebelum melanjutkan ke perguruan tinggi. College memiliki 14 jurusan dengan jumlah siswanya sebanyak 1600 orang, termasuk para siswa yang belajar mengambil kelas jarak jauh.
Memperkenalkan Indonesia kepada masyarakat Rusia dilakukan KBRI Moskow secara berkesinambungan. Sehari sebelumnya, Dubes Wahid menyampaikan kuliah umum tentang hubungan Indonesia-Rusia di Moscow City University of Management. Dalam kulian umum tersebut Dubes Wahid menyoroti tentang hubungan Indonesia dengan Rusia dari sisi budaya dan sejarah, kesamaan-kesamaannya dan bagaimana kedua negara menanfaatkan hal ini untuk mengisi hubungan yang lebih luas, khususnya ekonomi, perdagangan dan people to people contact. (gatot susanto)

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.