
SURABAYA | duta.co – Saat memberikan materi digital pada Pelatihan Manajemen Masjid, pengasuh sekaligus pemilik Pesantren Digipreneur Al Yasmin, Helmy M. Noor, menyambut hangat pelaksanaan Pelatihan Manajemen Remaja Masjid yang diselenggarakan oleh Lembaga Pengembangan Pembinaan Remaja Masjid (LPPRM) BKPRMI Jawa Timur.
Kegiatan yang berlangsung di kompleks Pesantren Digipreneur Al Yasmin, Surabaya, pada Ahad (26/4/2026) ini bertujuan untuk memperkuat kapasitas tata kelola organisasi remaja masjid di wilayah Jawa Timur.
Dalam arahannya, Helmy M. Noor menyampaikan apresiasi atas inisiatif DPW BKPRMI Jawa Timur yang memilih pesantrennya sebagai pusat penggemblengan para aktivis masjid.
“Melalui kolaborasi ini, diharapkan lahir kader-kader remaja masjid yang tidak hanya cakap secara spiritual, tetapi juga unggul dalam mengelola potensi umat di tengah arus digitalisasi,” ujar Helmi.
Dalam sesi materi, Helmy memaparkan pentingnya penguasaan media digital bagi remaja masjid sebagai sarana dakwah yang efektif di era modern.
Ia mengajak para peserta untuk memanfaatkan teknologi secara kreatif, produktif, dan tetap berlandaskan nilai-nilai keislaman.
“Optimalkan YouTube atau Instagram di masing-masing masjid. Komunikasikan kepada takmir bahwa jika kita memiliki kemauan, kemampuan itu pasti akan datang,” tegasnya di hadapan para peserta.
Tidak hanya teoritis, Helmy juga berbagi pengalaman praktis yang inspiratif tentang kisah perjalanan dan strategi dalam membangun platform digital yang berdampak luas bagi masyarakat, khususnya dalam syiar dakwah, sehingga peserta terlihat bertanya.
“Digitalisasi manajemen masjid dan masjid itu sebuah keniscayaan, karena era digital memang bukan pilihan, namun bagaimana teknologi digital digunakan untuk bermanfaat bagi umat dan menjadikan masjid sebagai pusat peradaban modern,” katanya.
Menurut Helmy, masjid itu bukan hanya tempat ibadah, namun masjid di era digital harus memanfaatkan teknologi untuk menjadi pusat peradaban modern melalui manajemen digital, jangkauan dakwah dan pemberdayaan ekonomi yang luas secara digital, dan kegiatannya menarik minat generasi muda (milenial dan Gen Z).
“Pemanfaatan teknologi digital untuk masjid itu mencakup manajemen/operasional masjid yang efisien; dakwah/kajian yang lebih inklusif; kemudahan beramal (ZIS/Wakaf); dan pemberdayaan ekonomi umat,” katanya.
Di hadapan 60 remaja masjid se-Jatim yang mengikuti pelatihan BKPRMI pada 25-26 April 2026 di Pesantren Al Yasmin itu, Helmy menilai kunci pemanfaatan teknologi digital untuk manajemen/operasional masjid adalah remaja masjid.
“Karena itu, masjid harus adaptif terhadap remaja, karena remaja masjid adalah motor penggerak digitalisasi, karena mereka itu kreatif dalam membuat konten, mengembangkan medsos masjid, dan memiliki inisiasi/inovasi yang out of the box,” katanya dalam pelatihan yang dibuka Kabiro Kesra SetdaProv Jatim Dr Agung Subagyo itu.
Ia menyebut sejumlah contoh, diantaranya layar pintar untuk jadwal sholat, laporan keuangan digital, platform khusus untuk data jamaah dan kalender kegiatan, administrasi kesekretariatan, konten/live streaming dakwah di media sosial (Instagram, TikTok, YouTube), donasi/kotak amal digital menggunakan QRIS, transfer bank, atau dompet digital, serta pemberdayaan ekonomi digital seperti Baitul Maal atau unit usaha digital. (*/alyasmin)





































