SURABAYA | duta.co – JATMI (Jam’iyyah Ahlith Thariqah Al-Mu’tabarah Indonesia), hari ini Sabtu (11/4/26) menggerlar Mujahadah Kubro di markas zawiyah PB JATMI. Ketua umum PB JATMI bersama Sekjan dan wakil ketua dan beberapa pengurus telah melakukan rapat dalam rangka mensikapi dinamika geopolitik belakangan ini.

“Memang dalam Munajat kubro ini ada kemauan kuat demi kemenangan Iran dan upaya memperkuat ukhuwah islamiyah dan ukhuwah ruhaniah sama umat manusia. Alhamdulillah persiapan sudah selesai,” demikian disampaikan H Mukhlas Syarkun, salah satu pengurus JATMI kepada duta.co, Sabtu (11/4).

PB JATMI, jelasnya, perlu menyikapi dinamika global sebagai rasa tanggung jawab organisasi keagamaan yang harus memiliki kepekaan untuk memberikan dukungan, doa dan pembelaan terhadap sesama saudara seiman yang kini sedang terdzalimi oleh kekuatan Zionis Israil dan negara adidaya.

Hasil rapat PB JATMI memutuskan: Pertama, MUJAHADAH kubro yang diselenggarakan pada hari ini, mulai pukul 16.00 Wib di Markas Zawiyah PB JATMI berdoa demi kemenangan Iran. Ini juga dalam upaya memperkuat ukhuwah islamiyah dan ukhuwah ruhaniah sama umat manusia.

Kedua, papat pimpinan juga menentukan sikap dan langkah langkah yang perlu diambil untuk ikut serta dan proaktif dalam mewujudkan tata kehidupan dunia yang aman damai dan bermartabat.

“Sebelum terjadi perang (Iran), peran agama termasuk Islam telah dipertanyakan dan apalagi banyak data yang menunjukkan negara negara yang kental dalam beragama (Islam) justru indentik dengan korupsi, kebodohan, konflik, kemiskinan dan juga keterberbelakang. Stigma ini harus diluruskan,” tegasnya.

Sudah begitu, harus diakui, gaya hidup elit agamawan yang terlihat hubbud dunya (gaya hidup glamour) dan hubbul-jah (cinta kuasa) sangat terasa. Namun setelah perang opini negatif di sekitar agama (Islam) mulai bergeser, berlahan tumbuh keingintahuan tentang ajaran agama (Islam) khususnya di Iran.

“Kini mulai ada pemahaman, bahwa jika ajaran Islam dijalankan dengan benar ia akan menjadi kekuatan dan membawa kemajuan.  Publik mulai mengkaji hal hal tentang agama khususnya Islam terlebih lagi di Iran dan ruh jihad dan pola hidup sederhana dari para pemimpinnya. Ini menjadi inti kekuatan Iran sehingga mampu menghadapi negara adidaya, Amerika Serikat,” tambahnya.

Nah! Dengan ruh jihad membentuk karakter pantang menyerah, berusaha keras, bekerja dan berpikir untuk menguasai sains dan teknologi, dah dengan keteladanan pemimpin membangkitkan kesadaran massal untuk rela berkorban dan hormat taat setia pada pemimpin. Kecintaan pada negaranya sangat kuat.

“Ini bisa mengulang era kejayaan Islam sebagaimana zaman nabi dan dilanjut oleh penerusnya yang maju menjadi kekuatan dunia saat itu oleh roh jihad dan keteladanan pemimpin. Karena kekuatan Islam runtuh disebabkan hilangnya ruh jihad dan ber mewah-mewahan sebagaimana pesan Nabi tentang bahaya penyakit “wahn”,” urainya.

“Saat itu, sahabat bertanya: Apakah itu wahn? Beliau menjawab: cinta (rakus) terhadap dunia dan tak lagi ingat kematian”. Umat Islam harus paham bahaya penyakit ini,” pungkasnya. (net)