Keterangan gambar x.com.
Catatan Pinggir Romadlon Sukardi

NAHDLATUL Ulama (NU) adalah jam’iyyah terbesar. Lahir dari rahim para ulama pembawa kesejukan, kini tiba-tiba menjadi ruang debat paling bising di jagat maya. Mirip alun-alun kota yang tiba-tiba dijejali pedagang, orator, penonton, hingga tukang parkir dadakan.

Di grup WA ‘Menjaga Marwah NU’, misalnya, percakapan melompat-lompat dari analisis tajam, guyonan khas pesantren, hingga rengekan satir yang cuma bisa lahir dari orang-orang yang benar-benar mencintai NU.

Atmosfernya seperti warung kopi selepas subuh: para pendekar NU nongkrong, tapi yang diseruput bukan kopi item, melainkan kegelisahan kolektif yang semakin pekat. Namun satu hal tetap sama: NU tak pernah kehilangan daya humornya. Bahkan di tengah badai, tawa masih bisa ditemui. Itulah alasan NU tetap tegak; sebab jam’iyyah ini berdiri bukan hanya dengan nalar, tapi juga dengan rasa.

Pertarungan Klaim, Saling Menohok Berujung Gergeran

Geger bermula ketika kabar pemecatan Ketum PBNU kembali menyeruak. Komentar-komentar pedas berhamburan. Salah satu aktivis menimpali tajam: “Kalau ketum dimakzulkan, ya harus ada yang ikut mundur juga. Masa hanya satu yang disuruh bersih-bersih?” tulisnya.

Seorang kiai lain membalas santai namun menghujam: “Budaya mundur itu belum masuk kurikulum nasional…” Seketika grup ini pecah tawa. Dalam dunia politik nasional saja budaya mundur masih langka, bagaimana mungkin tiba-tiba menjadi tradisi baru di tubuh NU?

Diskusi makin menghangat saat muncul kalimat lugas dari aktivis lain: “Paling arogan. Sombong.”

Lengkap sudah; forum berubah seperti mimbar bebas. Belum sempat reda, komentar pamungkas muncul lagi: “Sumber petaka PBNU itu dua-duanya. Kalau satu minggat, satunya ya ikut minggat. Baru imbang!”

Namun, sebagaimana kultur NU, ketegangan selalu diimbangi kejenakaan. Ada yang tiba-tiba menulis: “Tarrrik sisss… smongko!!!” tulisnya mengutip kalimat popular dari seorang MC Soneta.

Semua langsung pecah. Di NU, humor adalah mekanisme pertahanan. Kritik tajam boleh, tapi jangan sampai akal sehat ikut pecah.

Nama Kiai Ma’ruf Terseret

Situasi memuncak saat ada kabar bahwa seorang tokoh mengaku mendapat restu dari KH Ma’ruf Amin untuk menjadi pejabat ketua umum. Namun keluarga Kiai Ma’ruf langsung memberi klarifikasi tegas: “Tidak benar.”

Grup kembali riuh. “Kalau begitu, siapa yang bermain?” “Biasanya kebohongan ditutup kebohongan baru,” sahut yang lain.

Diskursus berubah menjadi persimpangan antara kredibilitas, klaim, dan etika. Tetapi di tengah hiruk-pikuk itu, ada suara lembut seorang muslimah: “Ya Allah, lindungilah NU dari perpecahan. Kami di daerah ikut sedih.” Suasana grup yang panas mendadak hening. Doa memang selalu memenangkan ruang.

Munculnya Narasi “Sang Pengendali”

Di tengah riuh rendah, ada narasi yang meluncur: hadirnya “Sang Pengendali”—figur yang dituduh mengatur arah NU seperti pilot pesawat tanpa awak. Di sinilah mulai muncul analisis-analisis liar yang menyebut bahwa PerKum NU dibuat untuk kepentingan tertentu.

Namun kita perlu berhenti sejenak. Tarik nafas. Gunakan akal sehat. Pertama: Tidak Ada PerKum 2025. Yang sah dan ada hanyalah PerKum NU 2022.

Kedua: PerKum 2022 bukan produk gelap. Ia adalah turunan resmi dari AD/ART hasil Konbes 2022 di Hotel Yuan Garden, disusun oleh tim besar, dibahas dalam sidang pleno, ditandatangani:

KH Amin Said – Ketua Sidang dan KH Miftah Faqih – Sekretaris Sidang. Dua tokoh ini—kiai alim, akademis, dan aktivis senior—yang menandatangani konsideran. Menyebut bahwa PerKum 2022 adalah “rekayasa Sang Pengendali” sama saja meremehkan martabat puluhan ulama dan akademisi NU yang hadir dalam Konbes itu.

Ketiga: Jika tuduhan diarahkan ke Prof Dr Ir Mohammad Nuh, maka analisis itu perlu diuji kembali. Beliau dikenal sebagai konseptor sistem, bukan sebagai operator yang mengacak-acak organisasi. Menuduh tanpa dasar hanya akan menghasilkan kabut baru, bukan kejernihan.

Humor Kiai dan Aktivis Muda

Narasi “Sang Pengendali” justru dibantah oleh para kiai muda dengan cara khas pesantren: “Iki NU lho. Kiai-kiai sepuh itu tidak gampang diputer-puter. Yang gampang diputer ya cuma kipas angin.”

Guyonan ini sederhana tapi mengandung tesis akademik: NU terlalu besar, terlalu tua, terlalu kaya pengalaman, untuk dikendalikan satu orang saja. “Kapal besar NU” tidak bisa disetir seperti motor bebek. Struktur NU berlapis-lapis, mekanismenya kolektif, keputusannya berjenjang. Tuduhan single-handler nyaris mustahil secara teknis.

Tebuireng: Titik Balik atau Titik Uji?

Silaturahim di Tebuireng disebut sebagai momentum meredakan badai. Tapi sebagian mengingatkan agar tetap waspada: seruan “selesaikan secara internal” bisa berarti islah, tapi bisa juga strategi menenangkan publik sambil skenario tetap berjalan.

Realitasnya, arah NU sedang diuji. NU mengalami turbulensi, namun turbulensi adalah gejala pesawat yang sedang bergerak, bukan pesawat hendak jatuh.

Penutup: NU Tetap Rumah Kita Semua

Catatan pinggir ini bukan untuk memperkeruh suasana, tetapi untuk mengembalikan akal sehat publik NU. NU memang sedang gaduh, namun kegaduhan itu lahir dari cinta. Dalam rumah NU, kritik adalah bagian dari afeksi; humor adalah bagian dari keteduhan; doa adalah bagian dari daya tahan.

Selama NU masih diperdebatkan, itu tanda NU masih dicintai.

Selama warga NU masih mengguyon, itu tanda NU belum sekarat.

Geger? Silakan. Tetapi biarlah geger itu berubah menjadi ger-geran, bukan gontok-gontokan. Karena NU berdiri bukan hanya di atas argumentasi para ulama, tetapi juga di atas tawa hangat para santri yang tak pernah rela jam’iyyah ini retak.(*)

 

Bagaimana reaksi anda?
Like
Love
Haha
Wow
Sad
Angry