Dari kiri: Ustad Adi Hidayat (FT/IST), Gus Luthfi (FT/sidogiri) dan KH Marzuki Mustamar (FT/santrinews.com)

SURABAYA | duta.co – Grup whatsApp warga NU, Senin (6/9/21) hari ini, ramai dengan potongan video soal Doa Iftitah, Ustad Adi Hidayat (UAH) vs KH Marzuki Mustamar (KH MM), Ketua PWNU Jawa Timur.

Video ‘Info Poluler’ itu sengaja terpotong untuk kepentingan penggabungan. Entah siapa yang membuat. Dalam pengamatan duta.co, ‘bumbunya’ di WA grup, kelewat pedas.

“Tidak ada masalah. Ini hanya disinformasi, akibat info yang tidak benar. Akhirnya banyak yang terbakar, apalagi bumbunya menyebut (UAH) dai kebanggaan Muhammadiyah,” demikian disampaikan Imam Budi Utomo, aktivis GP Ansor Surabaya kepada duta.co.

Menurut Imam, materi ngaji UAH di depan jamaahnya, itu bagus. Dia beber 12 macam doa iftitah. Termasuk doa iftitah yang menjadi amalan warga nahdliyin.  Di mana usai takbiratul ikhrom (Allahu Akbar) warga NU lazim membaca: kabiro, walhamdu lillahi katsiro, wasubhanallahi bukrotaw wa ashila.

“Di depan jamaahnya UAH membedah hadits-hadits terkait doa iftitah tersebut. Kata UAH, ada yang bersandar di hadits Bukhori (No 711), hadits Imam Muslim (No 1848). Jumlahnya 12 macam,” jelasnya.

“Begitu juga doa iftitah yang menjadi amalan nahdliyin, ada haditsnya, sohih. Dia mengutip Musnad Ahmad (No 4339 dan No 764). Bahkan yang terakhir  ini, (hadits nomor 764) menurut UAH isinya sama dengan hadits Imam Muslim. Jadi, sohih juga,” tegas Imam.

Masih menurut Imam, ada sedikit ulasan UAH, adalah bacaan inni wajjahtu wajhiya lilladzi fatharas samawati wal ardha.. dst. Di mana kata ‘inni’ versi UAH tidak ada, yang ada langsung wajjahtu wajhiya lilladzi fatharas samawati wal ardha…. Inilah sedikit perbedaan itu.

Sama-sama Sohih

Sementara, dalam video, KH Marzuki Mustamar menjelaskan dalih membaca iftitah kabiro, walhamdu lillahi katsiro, wasubhanallahi bukrotaw wa ashila. Ini tampak dalam sebuah pengajian yang sperti termuat di akun info popular, KH MM mengatakan:

Poro rawuh (hadirin). Kulo (saya) hanya ingin matur tentang satu masalah mawon  (satu masalah saja.red). Jangan percaya dengan ustad-ustad atau siapa pun di luar NU. Tak baleni (saya ulangi), jangan percaya kepada omongan atau apa pun yang mereka di luar ahlussunnah waljamaah. Niku saksine (itu saksinya) Gus Mundlir,” begitu KH MM dalam video itu.

Ten jero sediluk kale kulo (di dalam sebentar sama saya), menanggapi tentang ceramahnya Ustad Adi Hidayat, yang biasa dipakai di lingkungan Muhammadiyah. Ngotot sak ngotot-ngotote (bersikeras) iftitah kabiro, walhamdu lillahi katsiro, wasubhanallahi bukrotaw wa ashila katanya, ini tidak ada haditsnya, (katanya) sudah saya cari pada  1235 kitab hadits, tidak ada. Sampai hadits palsu pun, tidak ada.”

“Lajeng kulo ken buka, bukaen, sohih muslim, buka kale kulo, lha tibae enten (lalu saya suruh buka, sohih muslim, bersama saya, ternyata ada). Asli hadits muslim, doa setelah takbir membaca kabiro, walhamdu lillahi katsiro, wasubhanallahi bukrotaw wa ashila.”

“Kalau muslim, ya.. sohih. Lha kok bisa sekelas dai muballigh nasional, jadi kebanggaan di kalangan Muhamamdiyah, kok kondo (bilang red) tidak ada haditsnya. Gak ono, opo gak ero (tidak ada apa tidak tahu?). Ngoten (begitu) itu, semakin membuktikan jangan percaya omongan dai di luar ahlusunnah waljamaah.”

Masalah Furu’iyyah

Di sinilah terjadi distorsi informasi itu. Penjelasan KH MM, benar. Tetapi , tidak tepat untuk mengoreksi pendapat UAH. Apalagi sampai mengatakan dai kebanggaan Muhammadiyah, ini riskan. Pun soal klaim ahlussunnah wal-jamaah. Bagi warga NU, yang di luar NU, bukan berarti tidak ahlussunnah.

KH Luthfi Bashori, mengaku prihatin dengan kiai-kiai yang mudah terbakar dengan masalah pebedaan furu’iyyah. Sementara, masalah liberalisasi di tubuh NU, kalau kita lihat umbar-umbaran begitu saja.

“Doa iftitah itu, sunnah. Bukan wajib. Tidak layak memperdebatkannya. Apalagi memunculkan sentimen ormas,” tegas Gus Luthfi, panggilan akrabnya kepada duta.co.

Perbedaan furu’iyyah, jelasnya, itu sangat lumrah. Di kalangan para shahabat juga terjadi perbedaan pendapat, dalam masalah cabang agama.

Namun mereka saling memghormati, kecuali jika ada yang menyelisihi dalam bidang aqidah ketauhidan, seperti kemahaesaan Allah, maka para sahabat tak segan-segan angkat pedang untuk perang.

“Boleh terjadi perbedaan pendapat dalam masalah furu’iyyah, seperti bermunculan ormas-ormas Islam sejak jaman sebelum kemerdekaan Indonesia. Hal itu terjadi karena adanya silang pendapat tentang ijtihad dalam menerapkan metode dakwah di antara tokoh-tokoh Islam. Tidak perlu otot-ototan, apalagi menyebut sesat,” tegasnya.

Ia kemudian menukil pesan penting 4 ulama madzhab kepada umat Islam. Pertama, Imam Abu Hanifah. “Apabila aku mengatakan sesuatu perkataan (pendapat) yang menyelisihi Al Quran dan Sunnah Rasulullah, maka, tinggalkanlah perkataanku tersebut”.

Kedua, Imam Malik bin Anas pernah mengatakan hal yang sama sebagaimana Ibnu Abdil Barr mengutipnya:  “Aku ini hanyalah manusia yang terkadang salah terkadang benar. Maka perhatikanlah pendapatku, setiap pendapat yang sesuai dengan Kitabullah dan Sunnah Nabi-Nya, maka ambillah, dan yang tidak sesuai maka tinggalkanlah,” kutipnya.

Ketiga, Al Imam As Syafi’i mengatakan “Jika kalian menemukan dalam kitabku ada pendapat yang bertentangan dengan sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka berkatalah sesuai sunnah tersebut, dan tinggalkanlah perkataanku.”

Keempat, Imam Ahmad bin Hanbal. “Jangan engkau taqlid kepadaku, dan jangan pula kepada Malik, Asy-Syafi’i, Al-Auza’i, dan Ats-Tsauri. Tetapi ambillah darimana mereka mengambil”.

Jadi, pungkas Gus Luthfi dengan mengutip Alquran, “Sesungguhnya orang-orang mukmin adalah bersaudara. Karena itu, damaikanlah kedua saudara kalian, dan bertakwalah kalian kepada Allah supaya kalian mendapatkan rahmat.” (mky)

Bagaimana Reaksi Anda?
Like
Love
Haha
Wow
Sad
Angry