
JOMBANG | duta.co — Pagi itu, halaman kantor Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Kabupaten Jombang dipenuhi ratusan warga. Mereka datang membawa kegelisahan yang sama: merasa tak lagi didengar oleh wakilnya sendiri.
Aksi yang digelar Forum Rembug Masyarakat Jombang (FRMJ) pada Selasa (7/4/2026) itu awalnya hendak menyuarakan sejumlah persoalan riil di tengah masyarakat. Mulai dugaan pelanggaran zona hijau dalam proyek KDMP (Koperasi Desa/kelurahan Merah Putih) yang tidak sesuai spek di Desa Pulo Lor, hingga kebijakan anggaran yang dinilai makin jauh dari rasa empati publik.
Namun, pemandangan yang mereka dapati justru menyulut kemarahan baru. Tak satu pun anggota dewan terlihat di gedung megah tersebut. “Gedung DPRD seperti kuburan. Sepi. Tidak ada yang berani menemui kami,” teriak salah satu peserta aksi.
Belakangan diketahui, para anggota dewan sedang menjalankan agenda kunjungan kerja (kunker) ke luar kota. Fakta itu seketika mengubah nada protes menjadi sindiran keras.
Di tengah gencarnya seruan efisiensi anggaran oleh pemerintah, DPRD justru dinilai masih rutin menjalankan agenda kunker yang dianggap tidak mendesak dan minim dampak langsung bagi warga.

Kekecewaan warga semakin membesar ketika isu pengadaan baju seragam anggota dewan mencuat. Anggaran yang disebut-sebut mendekati Rp500 juta per tahun itu dianggap sebagai simbol ketimpangan rasa antara rakyat dan wakilnya.
“Kalau rakyat diminta sabar, diminta hemat, seharusnya dewan juga memberi contoh. Kunker dan seragam mahal itu untuk apa? Apa dampaknya langsung ke masyarakat?” ujar Fata kordinator Aksi, disambut sorakan massa.
Bagi warga, angka setengah miliar rupiah bukan sekadar nominal. Itu adalah gambaran jalan rusak yang belum diperbaiki, ruang kelas sekolah yang nyaris roboh, serta fasilitas publik yang lama menunggu perhatian.
FRMJ menilai, anggaran kunker dan seragam jauh lebih bermanfaat jika dialihkan untuk kebutuhan publik yang lebih mendesak, seperti perbaikan infrastruktur jalan maupun rehabilitasi gedung sekolah di sejumlah wilayah Jombang.
Aksi berlangsung tertib dengan pengawalan aparat keamanan. Massa akhirnya membubarkan diri setelah menyampaikan tuntutan. Tanpa dialog. Tanpa penjelasan. Tanpa satu pun anggota dewan yang menemui mereka. Gedung itu tetap berdiri megah. Tapi pagi itu, bagi warga, ia terasa seperti bangunan tanpa jiwa.
“Masak gedung sebesar ini tidak ada isinya, semua komisi A sampai D pada kunker meninggalkan jeritan penderita rakyat,” pungkasnya. (din)





































