SURABAYA | duta.co – Gestur (bahasa tubuh) calon presiden nomor urut 01 Joko Widodo dalam forum debat kedua Pilpres, Minggu (17/2) malam menjadi sorotan publik. Ada yang menyebutnya gaya ‘panas’ (memancing amarah), sampai indikasi otoriter alias tidak demokratis.

“Dalam debat dua sesi (pertama) Jokowi kelihatan marah, emosional. Gestur marah dan emosional Jokowi itu justru menunjukkan indikasi tidak demokratis, cenderung otoriter,” kata tokoh nasional Dr Rizal Ramli kepada Kantor Berita Politik RMOL, Minggu (17/2) malam

Gestur berbeda justru ditunjukkan Prabowo Subianto. Menurut Rizal, Prabowo yang diperkirakan emosional dan marah justru menunjukkan sikap simpatik. Rizal mengingatkan bahwa perbedaan adalah hal penting dalam demokrasi. “Perbedaan pendapat dalam negara demokrasi hal yang wajar,” katanya.

Hal yang sama disampaikan warga NU H Abdul Wachid, yang masih duzurriyah KH Wahab Chasbullah, Jombang. Menurut Gus Wachid, panggilan akrabnya, publik dengan mudah menangkap gaya bicara dan gaya tubuh Capres dari debat semalam.

“Ada kesan menyerang dan khawatir dikesankan kalah. Itu yang saya lihat dari gestur Pak Jokowi. Tidak salah kalau kemudian Pak Rizal menyebutnya terindikasi otoriter. Pemirsa juga melihatnya emosional,” tegasnya.

Sebaliknya, Prabowo yang selama ini distigma emosional, pemarah, justru tampil sejuk. “Setidaknya debat semalam menegaskan kepada publik bahwa Pak Prabowo lebih matang menghadapi masalah. Mesti mendapat serangan personal, tetapi, ia menyikapi dengan dewasa. Bravo Pak Prabowo!” tambahnya kepada duta.co, Senin (18/02/2019). (mky,rmol)

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.