Ketua KPU, Agus Rofik hanya didampingi Nurul Mamemun, Komisioner Divisi Hukum sementara komisioner lain bergegas meninggalkan jumpa pers (Nanang Priyo)

KEDIRI| duta.co — Memenuhi tuntutan tim kampanye Pasangan Calon (Paslon) Nomor Urut Tiga, Samsul Ashar–Teguh Junaidi agar KPU meminta maaf kepada warga Kota Kediri, telah dilakukan dengan menggelar pers conference pada Selasa (24/4) sore bertempat di Ruang Pintar Pemilu (RPP) Kilisuci KPU Kota Kediri, Jl. Jaksa Agung Suprapto.

Namun, isu yang kini berhembus justru terjadi keretakan diantara internal komisioner pasca diputuskan dipergunakan kembali CV. Graficom, event organizer dari Kabupaten Banten dalam Debat Publik Pilwali 2018 kedua, pada 22 Juni 2018 pada waktu dan tempat yang sama. Pihak event organizer ditemui di ruang tunggu KPU, membenarkan jika pihaknya tetap mendapat kepercayaan dari KPU untuk menggelar debat pilkada.

“Kami tetap dipercaya menggelar acara, meski anggarannya sangat membengkak. Bila sewa tempat dengan harga standart Rp 10 juta, maka untuk acara debat ini, sewanya hampir Rp 50 juta. Itupun tidak ada bonus apapun, terpaksa setelah kita menginap di hotel, rencana akan cari kontrakan atau homestay,” jelas Suryadi, salah satu tim CV. Graficom.

Sementara di hadapan perwakilan awak media dari televisi, radio, media cetak dan online, Ketua KPU Kota Kediri, H. Agus Rofiq menyatakan permintaan maaf atas suguhan debat publik pertama. “Kami akan melakukan evaluasi, termasuk masukan dari kawan – kawan wartawan telah kami catat untuk dipergunakan pada debat publik yang kedua,” jelasnya.

Saat dikonfirmasi atas keberadaan CV yang ditunjuk, Gus Rofiq menyatakan tetap mempergunakan kembali namun untuk stasiun televisinya yang dipastikan diganti. Sementara Penanggung Jawab Produksi, Misiono yang akrab disapa Kang Sabar saat ditemui usai rapat internal dengan KPU, mengaku bila dirinya pasrah atas putusan diberikan KPU.

“Kita tadi rapat mulai pukul 14.00wib dan ini baru selesai, kami sudah jelasnya semuanya termasuk minimnya peralatan disedian pihak EO. Jika disediakan meja tinggi untuk kamera utama, mungkin permasalahan ini tidak akan terjadi. Sementara yang bagian mixer ketakutan, karena didatangi sejumlah orang yang memprotes selama acara berlangsung,” jelasnya.

Yang mencolok, selain minimnya penerangan pada panggung utama, bahwa keberadaan studio mini milik KSTV ini tidak ada penyekat dengan barisan undangan Paslon nomor tiga. “Kenapa tidak disediakan tempat khusus dan disediakan tenaga pengamanana dari Kepolisian? Bahwa ini acara penting dan bila terjadi kesalahan akan berdampak sensitif karena menyangkut politik,” tanya Effendi Muhtar, salah satu wartawan televisi saat digelar dialog dengan KPU.

Atas kejadian ini, dikabarkan tim Samsul – Juanidi akan mengirimkan surat pengaduan ke Dewan Kehormatan Penyelenggara Pemilu (DKPP). “Kami akan berkirim surat untuk mengadukan permasalahan ini. Bila kemudian diantara komisioner terjadi keretakan, itu resiko mereka dalam membuat keputusan yang tidak disertai persiapan yang matang tanpa menggandeng banyak pihak,” jelas Roy Kurnia Irawan, Sekretaris Partai Hanura. (nng)

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.