BLITAR | duta.co – Sudah sebulan ini, Ali Mahmud (39), tidak menjual garam kasar atau garam grasak di tokonya. Supplier dari Surabaya yang biasa memasok garam grasak sudah tidak datang mengirim barang lagi ke tokonya. “Saya sudah berkali-kali pesan tapi tidak dikirim, barangnya tidak ada,” kata pemilik toko pracangan di Pasar Legi, Kota Blitar, itu Senin (17/7/2017).

Sebenarnya, pasokan garam grasak ke tokonya mulai seret sejak menjelang Ramadan. Meski jarang-jarang, distributor masih datang memasok garam. Tetapi, setelah Lebaran, pasokan garam grasak malah berhenti. Berkali-kali ia order garam grasak tapi tidak pernah dikirim. “Sekarang harganya mahal, tapi saya tidak jual, tidak ada kiriman,” ujarnya.

PETANI garam di Pulau Madura.

Pemilik Toko Bumi Jaya di Pasar Legi, Khusnul Khotimah (42) mengatakan harga garam grasak sekarang sangat mahal. Satu sak garam grasak isi 25 kilogram harganya mencapai Rp 200.000.
Padahal, sebelumnya, harga satu sak garam grasak dengan berat yang sama harganya masih sekitar Rp 45.000 sampai Rp 50.000.

Khusnul juga tidak mempunyai stok garam grasak di tokonya. Ia biasanya dipasok garam grasak oleh distributor dari Surabaya. Sekarang kiriman garam grasak berhenti karena barangnya tidak ada. “Sudah hampir sebulan ini tidak ada garam grasak,” kata perempuan berjilbab itu.

Tak hanya garam grasak, kata Khusnul, garam halus sekarang juga sulit. Ia baru saja mendapatkan kiriman 500 bal garam halus pada Jumat pekan lalu. Itupun dengan merek yang baru, tidak seperti biasanya. Merek garam halus yang biasanya dipasok ke tokonya merek S. Tetapi, merek garam halus yang baru dikirim itu mereknya daun.

Saat ini garam menjadi barang langka dan mahal di Blitar. Kelangkaan terjadi merata di semua pasar tradisional dan mini market di wilayah Kab dan Kota Blitar. Seperti Pasar Wlingi sebagai pasar sentral wilayah Kab Blitar bagian timur, Pasar Sutojayan untuk Blitar bagian selatan, Pasar Dayu Nglegok bagian Utara dan Pasar Legi di Kota Blitar.

“Sudah sejak mau Lebaran itu gak ada yang ngantar ke toko saya. Jadi ini sekarang malah gak ada stok sama sekali. Saya belanja di pasar Blitar gak boleh beli bal-balan, suruh ngecer biar semua kebagian,” kata Erna Juwita (44) pedagang kelontong di Pasar Dayu Nglegok Kab Blitar saat ditemui di tokonya, Senin (17/7/2017).

Keluhan serupa juga dikatakan Wiwik Windarsih (51) warga Jl Yos Sudarso Beru, Wlingi Kab Blitar. Wiwik mengaku hanya punya stok satu bal garam kasar. Sebab di Pasar Wlingi, sudah tidak ada yang jual garam halus.

“Tinggal satu bal grasak, saya tidak jual semua, sisain buat keperluan sendiri. Masak sekarang pakai grasak, wong yang halus gak ada. Ini tadi malah naik Rp 7 ribu per saknya,” tambahnya.

Selain langka, beberapa pedagang di Pasar Legi yang masih punya stok, terpaksa menaikkan harga hampir dua kali lipat karena ada garam merek baru.

“Baru kemarin Jumat (14/7) itu dapat kiriman dari Surabaya hanya 500 kg. Merknya baru tapi sudah berizin katanya. Harganya juga lebih mahal. Kalau yang merek biasa itu satu sak isi 20 harganya Rp 24 ribu untuk garam halus dan Rp 27 ribu untuk garam kasar. Yang merek baru ini satu sak isi 20 harganya Rp 47 ribu,” jelas pedagang grosir di Pasar Legi, Khusnul (47).

Khusnul mengaku, para suplier garam dari Kediri yang biasa mengantar garam merek biasa takut mengirimkan barang. Mereka baru mau mengantar jika malam hari, namun Khusnul menolaknya.

“Sejak ada peraturan denda Rp 50 juta bagi penjual garam tak berizin itu lho, yang kirim dari Kediri pada berhenti semua. Mereka maunya kirim malam, ya saya tolak wong tidak berizin. Nanti saya khan yang kena dendanya,” ungkap wanita berhijab ini.

Sementara Kepala Dinas Perdagangan Kota Blitar, Ariyanto belum bisa dikonfirmasi terkait kelangkaan garam di Kota Blitar. Sedangkan Kasisperindag Kab Blitar, Agung Pudjianto dihubungi justru mengaku belum ada laporan terkait kelangkaan garam di wilayah kerjanya.

Kelangkaan garam ini sungguh ironis sebab Indonesia termasuk negeri dengan laut yang sangat luas. Bahkan di Jatim ada Pulau Garam, yakni Madura. Lalu apakah Pulau Garam sudah tak mampu memasok garam lagi untuk warga Jatim. “Apa kabar Pulau Garam, kok bisa garam jadi sangat mahal begini. Bahkan gak ada garam alias kosong,” kata seorang pedagang di Blitar Senin siang tadi. (hen, det)

BAGIKAN

Tinggalkan Balasan