Suasana ceria para mahasiswa juara dalam Pekan Ilmiah Olahraga dan Seni dan Riset (PIONIR) VIII 2017 di UIN Ar Raniri Aceh. (FT/KEMENAG)

BANDA ACEH | duta.co – Sampah sagu atau biasa disebut Ela Sago, itu benar-benar menjengkelkan. Bukan saja bikin pencemaran lingkungan, tetapi juga tidak indah dipandang mata. Kondisi ini memaksa Shofia Latifa dan Syafrizan Ruslan, mahasiswa IAIN Ambon untuk mengotak-atiknya. Walhasil, sampah itu disulap menjadi barang berharga, bahan baku dalam pembuatan produk bioetanol, pupuk organik dan bioabsorben.

Karya ini dibawa dua mahasiswa IAIN Ambon untuk unjuk prestasi di ajang Pekan Ilmiah Olahraga dan Seni dan Riset (PIONIR) VIII 2017 di UIN Ar Raniri Aceh. Acara yang berlangsung di Aceh, tepatnya di Universitas Islam Negeri (UIN) Ar-Raniry, Darussalam, Banda Aceh dibuka oleh Menteri Agama RI, Lukman Hakim Saifuddin, pada 26 April 2017 lalu, diikuti oleh 2.250 mahasiswa dari 55 Perguruan Tinggi Keagamaan Islam Negeri (PTKIN) di Indonesia, Dari sini Shofia Latifa dan Syafrizan Ruslan meraih medali emas Lomba Karya Inovasi Mahasiswa.

Kepastian juara itu diperoleh, setelah kedua mahasiswa Jurusan Biologi Fakultas Tarbiyah itu mempresentasikan temuannya yang berjudul: ‘Pemanfaatan Limpah Ampas Sagu sebagai Bahan Baku dalam Pembuatan Produk Bioetanol, Pupuk Organik dan Bioabsorben’.

Ditemui di arena PIONIR VIII Aceh, Sabtu (29/04), kedua mahasiswa yang sehari-hari menekuni riset dan pembelajaran Biologi di kampusnya ini mengaku awalnya melihat banyak limbah sagu yang terbuang percuma, terutama di daerahnya Desa Waai Kecamatan Salah Utu Kab. Maluku Tengah. Dalam Bahasa Ambon, limbah itu disebut dengan Ela Sago.

“Sagu biasanya oleh masyarakat Ambon dijadikan makanan pokok. Ela sagonya dibuang percuma sehingga mengakibatkan pencemaran lingkungan,” ujarnya.

Melalui bimbingan Dosen Bio Teknologi Abajaidun Mahulauw, Ketua Jurusan Bilogi M. Rizal, serta Ketua Laboratorium Biologi FT IAIN Ambon Mulyadi Taslim, Shofia dan Syafrizan mulai menekuni penelitian memanfaatan limbah ampas sagu tersebut sebagai bahan baku dalam pembuatan produk bioetanol, pupuk organik, dan bioabsorben.

Syafrizan merasa prihatin dengan adanya pencemaran limbah sagu. Karenanya, dia tertarik menjadikan limbah tersebut sebagai bahan bakar yang bisa digunakan untuk memasak, mengolah home industry, dan hal lainnya. Pada umumnya Bioetanol didapatkan dari tumbuhan jarak, kotoran manusia atau hewan yang mempunyai zat gas.

Ditambahkan Syafrizan dan Shofia, limbah sagu juga bisa diolah menjadi pupuk organik yang bermanfaat untuk menyuburkan tanaman. Di samping itu, limbah sagu juga bisa dibuat bioabsorben yang bermanfaat untuk membersihkan air kotor menjadi bersih.

Di tempat yang sama, Abajaidun mengatakan bahwa pihaknya melakukan bimbingan intensif kepada keduanya untuk mempersiapkan perlombaan PIONIR di Aceh. “Tidak ada kesulitan berarti karena keduanya mempunyai minat yang besar untuk meneliti dan menjadi mahasiswa biologi yang cukup cerdas,” katanya.

Menanggapi kreatifitas mahasiswa dalam lomba karya inovasi mahasiswa, Direktur Pendidikan Tinggi Keagamaan Islam Nizar Ali mengaku bangga. Dia berkomitmen untuk memberikan perhatian khusus kepada mahasiswa yang mempunyai prestasi dan daya kreatifitas tinggi.

“Para dosen dan pimpinan PTKI harus berkomitmen tinggi pada peningkatan intelektualitas dan riset agar mahasiswa mampu ikut berperan mewujudkan PTKI sebagai perguruan tinggi berbasis riset untuk peradaban,” harap Nizar. (hud,kmg)

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.