Machmudah, S.Psi.M.Psi.Psi.
Dosen S1 PG PAUD, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan

PADA dasarnya tidak ada yang salah dengan work from home (WFH) dan education from home (EFH) sebagaimana kebijakan pemerintah dalam mencegah penyebaran covid 19, dan bahkan dapat dikatakan momen ini sangat langka dan harus disyukuri dan dimanfaatkan dengan sebaik mungkin sehingga dapat dijalani se-enjoy mungkin oleh setiap keluarga.

Selama ini cukup banyak keluarga yang kesulitan mencari waktu bersama antara orang tua dan anak, orang tua sibuk bekerja sementara anak sejak kecil sudah terbiasa kesehariannya dengan layanan lembaga pendidikan anak yang fullday.

Namun kenyataannya di lapangan menunjukkan tidak banyak keluarga yang mampu menciptakan dan mempertahankan suasana menyenangkan pada saat stay at home sebagaimana diawal-awal diberlakukannya program tersebut, sehingga pelaksanaan EFH saat ini malah menimbulkan masalah baru. Salah satu masalah baru tersebut yakni gangguan psikososial-emosional baik pada anak pra sekolah maupun anak usia sekolah.

Beberapa bukti prilaku nyata yang tampak akibat gangguan psikososial-emosi anak antara lain :
1. Gagguan Psikososial :
a. Pembangkangan
Sikap ini kerap kali muncul ketika proses pembelajaran daring berlangsung. Anak-anak sering membangkang perintah guru, seperti misalnya ketika diperintahkan guru untuk menyebutkan sesuatu lantas dengan spontan anak mengatakan tidak mau dengan nada pembangkangan.

2. Agresi
Agresi merupakan perilaku menyerang balik secara fisik maupun dengan kata-kata yang sering muncul tampak dari keseharian siswa saat melakukan pembelajaran daring. Perilaku ini dilakukan siswa kepada guru atau kepada teman lainnya saat melakukan pembelajaran online multi arah (bersama dengan siswa lain), saling mengolok, dsb.

3. Munculnya selfishness (mementingkan diri sendri)
Hal ini disebakan karena lamanya proses EFH, sehingga ketika pada tatap muka terbatas siswa menunjukkan sikap selfishness karena terbiasa sendiri di rumah dn menguasai segala permainan di rumah.

2. Gangguan Psikoemosional :
a. Pemalu
b. Arogansi (Sikap berlebih-lebihan)

Saat pembelajaran daring berlangsung kerap juga ditemui beberapa siswa yang marah kepada orang tua, bahkan kepada gurunya sendiri. Sikap marah atau emosi berlebihan ini sebenarnya pada pembelajaran tatap muka pun kerap juga terjadi, hanya saja dapat dikontrol mereka dikarenakan dekat dengan guru,.

Ketika anak belajar di rumah (jarak jauh) anak kerap kali kehilangan kontrol sehingga kerap anak bersikap marah kepada guru, dan imbasnya adalah menolak perintah guru namun jika permasalahan ini terus dibiarkan begitu saja, maka tidak menutup kemungkinan anak akan tumbuh dan berkembang dengan sikap emosinya tersebut. Lambat laut anak akan menjadi sulit untuk merubahnya sebab sudah menjadi kebiasaan sejak kecil. Oleh karena itulah di kategorikan bahwa emosi yang berlebihan juga termasuk dalam gangguan psikoemosional.

Ada beberapa solusi yang bisa dilakukan untuk mengatasi masalah gangguan ini selama EFH :
Mengalihkan anak dengan kegiatan bermain

1. Kegiatan penugasan seperti berhitung, menulis, mengerjakan LKS kerap membuat anak menjadi jenuh, sehingga wajar kalau mereka menjadi emosi bahkan menjadi pembangkang terhadap guru dan orang tuanya. Oleh karena itu untuk mengatasi hal yang demikian perlulah kiranya diberikan solusi atau alternatif lain yaitu mengintegrasikan pembelajaran akademis dalam bentuk game yang bersifat funlearnin antara lain story telling, role play secara virtual, bermain tebakan, dsb.

2. Metode Nasihat
Metode nasihat ini dapat dilakukan oleh orang tua, dapat juga dilakukan oleh guru langsung. Metode ini secara spontan dilakukan ketika anak menunjukkan sikap pembangkangan, emosi berlebihan, agresi dan pemalu. Metode nasihat ini memang jika tidak tepat dalam mempergunakannya malah membuat anak semakin agresi, atau malah balik memberikan serangan verbal kepada guru, atau juga dapat menimbulkan efek tidak mood untuk belajar kepada siswa, karena merasa takut setelah di nasihati oleh guru.

Info Lebih Lengkap Buka Website Resmi Unusa

3. Metode Keteladanan
Metode ini merupakan keepakatan antara orang tua dan guru yang memang telah sepakat untuk mendominankan sesuatu sikap yang akan menjadi keteladanan bagi siswanya. Keteladanan dibutuhkan siswa, karena dalam hal ini anak membutuhkan contoh atau uswah dalam menentukan sikap mereka. Kerap kali siswa melalukan sikap yang tidak baik, karena meneladani hal yang tak baik juga.

Demikian tulisan ini, semoga bisa bermanfaat bagi guru dan orang tua dalam mensikapi dan mendampingi anak selama EFH. *

Bagaimana Reaksi Anda?
Like
Love
Haha
Wow
Sad
Angry