SURABAYA | duta.co –  Ada tujuh museum digandeng BI (Bank Indonesia)  Jatim dalam tajuk Woman of Life: Tracing Courage Across Time. Mereka adalah Museum Bank Indonesia (Jakarta), Museum Nasional Indonesia, Museum RA Kartini (Rembang), Museum Kebangkitan Nasional, Museum 10 November, Museum Dr Soetomo, dan Museum Srikandi Pergerakan Wanita dari Yogyakarta.

“Sesuai tajuknya Woman of Life. Di kami (Museum NU), misalnya, kegiatan itu terekam apik dalam gambar foto, betapa ibu-ibu Muslimat NU (dulu) juga akrab dengan pistol. Bahkan di dinding Museum NU, ada banyak muslimat NU yang tengah berlatih menembak dengan mata tertutup,” demikian disampaikan Mohammad Azharuddin, petugas Museum NU (Nahdlatul Ulama) dalam acara penutupan di Museum De Javasche Bank Surabaya, Selasa 28 April 2026.

Menurut Azhar, gelar Woman of Life: Tracing Courage Across Time oleh BI itu menarik sekali. Setidaknya, Kantor Perwakilan Bank Indonesia (KPw BI) Provinsi Jawa Timur mengajak kita untuk menjadi bagian dari upaya memperluas edukasi sejarah dan budaya, sekaligus menjadi pemberdayaan pelaku UMKM. “Perlu sekali bagi generasi penurus untuk memahami sejarah dan budayasecara benar,” tegasnya.

BI sendiri mengajak tujuh museum dari berbagai daerah dalam rangkaian peringatan Hari Kartini bertajuk Woman of Life: Tracing Courage Across Time. Ibrahim. Kepala KPw BI Jatim mengatakan, keterlibatan sejumlah museum menjadi bagian dari upaya memperluas edukasi sejarah dan budaya, sekaligus menjadi pemberdayaan pelaku UMKM. “Ada peran perempuan, ada peran budaya, ada peran edukasi wisata. Semua itu bisa kita maknai untuk mendorong perekonomian masyarakat dengan lebih luas,” katanya.

Rangkaian Hari Kartini tersebut, juga menghadirkan talkshow bertema peran perempuan dan pelestarian budaya lokal, termasuk pengenalan Aksara Jawa kepada generasi muda, serta bedah buku berjudul Sketsa Lama Kota Surabaya. Selain Ibrahim, hadir Heri Purwadi, Plt Kadis Kebudayaan, Kepemudaan dan Olahraga serta Pewriwisata Kota Surabaya.

Melalui kegiatan itu, BI Jatim berharap museum tidak hanya menjadi ruang penyimpanan sejarah, tetapi juga menjadi pusat aktivitas publik yang mampu mendorong ekonomi kreatif dan meningkatkan kunjungan wisata edukasi di Surabaya. “Ini memang butuh sentuhan khusus. Kami tengah menjajaki kerjasama dengan LP Ma’arif dan TV9 untuk memperluas peran serta Museum NU,” jelas Azhar.

Keberadaan Museum NU, tegas Azhar, sangatlah urgen. Museum tidak hanya menjadi tempat penyimpanan barang atau dokumen lama (artefak), tetapi, juga sebagai penetrasi kebangsaan, penetrasi Islam yang rahmatan lilalamin. “Di dalam Museum NU ada surat balasan Raja Saud Arab Saudi, isinya tanah suci harus menjadi tempat bersama, bukan satu paham. Pun soal kebangsaan ada ‘Resolusi Jihad’, serta ‘Baju Banser’ yang menjadi saksi korban bom di Gereja Mojokerto. Semua kita simpan dengan apik, di samping itu dokumen para kiai, tentu,” pungkasnya. (mky)

Bagaimana reaksi anda?
Like
Love
Haha
Wow
Sad
Angry