Oleh Bey Arifin*

SEBUAH gamelan tidak pernah menanyakan siapa yang paling penting di antara gong, kendang, bonang, saron, demung, atau gender. Masing-masing memiliki suara dan fungsi berbeda. Namun ketika semuanya dimainkan dalam laras dan irama yang tepat, lahirlah sebuah gending yang indah.

Filosofi sederhana ini relevan untuk membaca kehidupan sebuah jam’iyyah sebesar Nahdlatul Ulama. NU tidak membutuhkan semua pengurus memainkan nada yang sama. NU membutuhkan setiap pengurus memainkan perannya dengan tepat dalam satu irama khidmah.

Di sinilah kepengurusan NU seharusnya dipahami: bukan sebagai kumpulan orang yang berlomba menjadi pusat perhatian, tetapi sebagai orkestra pengabdian.

Tidak Semua Harus Menjadi Gong

Dalam gamelan, gong memang memiliki posisi penting. Tetapi gong tidak berbunyi setiap saat. Ia justru menjadi bermakna karena tahu kapan harus berbunyi.

Begitu pula dalam kepengurusan. Tidak semua persoalan harus direspons oleh semua orang. Tidak setiap pengurus harus tampil di ruang publik. Tidak setiap perbedaan harus diumumkan menjadi perdebatan.

Ada waktunya berbicara, ada waktunya mendengar. Ada saatnya tampil, ada saatnya memberi ruang kepada yang lain.

Kebijaksanaan dalam berorganisasi salah satunya adalah kemampuan mengetahui kapan harus bersuara dan kapan harus menahan suara.

Syuriah dan Tanfidziyah: Pembagian Peran, Bukan Perebutan Peran

Dalam struktur NU terdapat pembagian peran antara Syuriah dan Tanfidziyah. Secara prinsip, pembagian tersebut bukan untuk membangun dua pusat kekuasaan yang saling berhadapan, melainkan untuk memastikan jam’iyyah berjalan dengan fungsi yang tertata.

Jika dianalogikan dengan gamelan, yang penting bukan siapa yang paling keras bunyinya, melainkan bagaimana setiap unsur memainkan fungsi sesuai tempatnya sehingga keseluruhan komposisi tetap harmonis.

Kepengurusan yang sehat membutuhkan kejelasan peran, komunikasi, dan saling menghormati kewenangan.

Ketika fungsi bercampur tanpa batas, irama organisasi mudah terganggu.

Sebaliknya, ketika setiap unsur memahami tugasnya dan mampu bekerja sama, perbedaan fungsi justru menjadi kekuatan.

Kendang dan Kepemimpinan

Kendang menarik karena berperan dalam mengatur dinamika dan tempo permainan.

Ini dapat menjadi metafora kepemimpinan dalam jam’iyyah.

Ketua bukanlah orang yang harus mengerjakan semuanya. Ia adalah orang yang harus mampu membaca irama organisasi, mengatur tempo, menghubungkan berbagai unsur, dan memastikan seluruh perangkat bergerak menuju tujuan bersama.

Pemimpin yang baik bukan yang paling sering berbicara.

Pemimpin yang baik adalah yang mampu membuat orang lain bekerja dengan tenang, jelas, dan terarah.

Dalam bahasa organisasi: koordinasi lebih penting daripada dominasi.

Kenong, Saron, dan Kerja yang Tidak Selalu Terlihat

Dalam sebuah gending, ada instrumen yang mungkin tidak selalu menjadi perhatian penonton. Namun tanpa instrumen tersebut, struktur musik dapat kehilangan keseimbangannya.

Begitu pula dalam NU. Ada pengurus yang sering tampil di panggung. Ada yang bekerja di belakang layar. Ada yang mengurus pendidikan, kesehatan, ekonomi, dakwah, kaderisasi, kebencanaan, riset, media, dan berbagai bidang pelayanan umat.

Tidak semuanya dikenal publik. Tetapi khidmah tidak ditentukan oleh seberapa sering seseorang terlihat.

Ada kerja yang mendapatkan tepuk tangan. Ada kerja yang hanya diketahui oleh sedikit orang. Keduanya tetap bernilai ketika dilakukan dengan amanah.

Laras: Seni Menyatukan Perbedaan

Kata laras menjadi kunci penting. Dalam kehidupan jam’iyyah, laras bukan berarti semua orang harus berpikir sama. NU justru memiliki tradisi panjang dalam mengelola perbedaan melalui musyawarah, fikrah, dan tradisi keilmuan.

Yang dibutuhkan adalah keselarasan tujuan, bukan keseragaman pikiran.

Boleh berbeda pendapat tentang strategi. Boleh memiliki perspektif yang tidak sama. Boleh memberikan kritik.

Tetapi setelah keputusan organisasi diambil melalui mekanisme yang sah, seluruh unsur perlu kembali pada kepentingan yang lebih besar yaitu : khidmah kepada umat dan kemaslahatan jam’iyyah.

Jangan Sampai Organisasi Kehilangan Irama

Sebuah gamelan bisa memiliki instrumen terbaik, tetapi kalau dimainkan tanpa irama, yang terdengar bukan harmoni melainkan kegaduhan.

Begitu pula organisasi. NU memiliki banyak kader dengan kapasitas keilmuan, pengalaman, jaringan, dan kemampuan yang besar. Namun semua modal tersebut membutuhkan kesatuan orientasi dan koordinasi.

Kapasitas yang tidak terkoordinasi dapat menjadi energi yang saling berbenturan.
Sebaliknya, kapasitas yang ditempatkan dalam sistem yang sehat dapat menjadi kekuatan kolektif.

Karena itu, setelah sebuah kepengurusan terbentuk, energi kontestasi harus secara bertahap ditransformasikan menjadi energi khidmah.

Yang kemarin berbeda pilihan tidak harus terus berbeda tujuan. Yang kemarin berkompetisi tidak harus selamanya berhadap-hadapan.

Setelah gending dimulai, semua pemain harus membaca partitur yang sama: kepentingan umat.

Dari Kontestasi Menuju Kolaborasi

Inilah pelajaran terpenting gamelan bagi sebuah organisasi. Sebuah gending tidak lahir dari satu instrumen yang memenangkan instrumen lain. Ia lahir karena semua instrumen menemukan tempatnya.

Begitu pula NU. Kepengurusan tidak boleh menjadi arena pembuktian siapa yang paling berpengaruh. Ia harus menjadi ruang pembuktian siapa yang paling sungguh-sungguh berkhidmah.

Jabatan adalah fungsi. Amanah adalah tanggung jawab. Kekuasaan organisatoris hanyalah sarana. Yang menjadi tujuan akhirnya adalah kemaslahatan umat.

Satu Gending, Banyak Suara

Pada akhirnya, filosofi gamelan memberikan pesan yang sangat sederhana tetapi dalam:
NU boleh memiliki banyak suara, tetapi jangan kehilangan satu irama.
Syuriah dengan fungsi keulamaannya. Tanfidziyah dengan fungsi pelaksanaannya. Lembaga, badan, banom, pesantren, perguruan tinggi, serta seluruh jaringan jam’iyyah dengan bidang pengabdiannya masing-masing.
Semua memiliki karakter dan fungsi yang berbeda.

Tetapi semuanya dapat bertemu dalam satu tujuan: menjaga tradisi, mengembangkan pemikiran, melayani umat, dan membawa NU menjawab tantangan zaman.

Sebab organisasi yang sehat bukan organisasi yang semua orangnya memainkan nada yang sama.

Organisasi yang sehat adalah organisasi yang setiap orang tahu nada yang harus dimainkan, tahu kapan harus berbunyi, tahu kapan harus diam, dan bersedia menjaga irama bersama.

Seperti gamelan Jawa, berbeda suara tidak harus berbeda arah. Banyak instrumen tidak harus banyak kegaduhan. Ketika semuanya berada dalam laras, perbedaan justru menjadi harmoni.

?Bey Arifin adalah Pemerhati NU dan Pengurus LKSPHK IKAPETE.

Bagaimana reaksi anda?
Like
Love
Haha
Wow
Sad
Angry