Oleh Bey Arifin*

DI tengah tekanan geopolitik global yang kian memanas terutama dalam tarik-menarik kepentingan antara Iran dan Amerika Serikat, Iran justru tampil sebagai anomali peradaban.

Alih-alih runtuh oleh embargo dan sanksi, negara ini menunjukkan daya tahan yang tidak biasa: berdiri tegak, bahkan melesat dalam bidang ilmu pengetahuan dan teknologi.

Kunci utamanya tidak semata pada strategi politik atau militer, melainkan pada satu fondasi yang sering diabaikan banyak negara Muslim: pendidikan berbasis peradaban.

Pendidikan sebagai Benteng Kedaulatan
Pasca Revolusi Islam 1979, Iran tidak sekadar membangun sistem pendidikan teknokratis. Mereka merancang pendidikan sebagai alat perjuangan sebuah proyek peradaban untuk melawan dominasi global.

Di tengah tekanan Amerika, Iran tidak memilih jalan kompromi intelektual. Justru sebaliknya, mereka memperkuat sistem pendidikan yang menanamkan:

Kemandirian berpikir, Ketahanan ideologis. Keberanian menghadapi dominasi global.

Pendidikan tidak diarahkan untuk mencetak tenaga kerja pasar global, tetapi untuk melahirkan manusia merdeka yang mampu berdiri di atas kaki sendiri. Inilah yang membuat Iran tetap “gagah” bukan karena bebas dari tekanan, tetapi karena tidak tunduk pada tekanan.

Hegemoni Dilawan dengan Epistemologi

Saat banyak negara berkembang bergantung pada kurikulum Barat, Iran mengambil jalur berbeda: membangun ulang basis keilmuan berbasis tradisi Islam.

Filsafat tidak dimusuhi, tetapi dijadikan jantung pendidikan. Pemikiran tokoh-tokoh seperti Mulla Sadra dan Ibnu Sina dihidupkan kembali, bukan sekadar sebagai warisan sejarah, tetapi sebagai kerangka berpikir aktif dalam menjawab tantangan modern.

Dari sini lahir generasi yang tidak inferior secara intelektual. Mereka tidak sekadar mengonsumsi ilmu, tetapi memproduksi ilmu.

Ini menjelaskan mengapa, di tengah embargo: Iran mampu mengembangkan teknologi strategis. Mandiri dalam riset medis dan nuklir

Masuk dalam jajaran negara unggul di bidang nanoteknologi. Semua itu bukan keajaiban, tetapi hasil dari keberanian membangun kedaulatan ilmu.

“Jihad Ilmiah” di Tengah Tekanan Global

Ketika tekanan ekonomi membatasi akses terhadap sumber daya luar, Iran justru mengubah keterbatasan menjadi energi kolektif. Mereka menyebutnya sebagai jihad ilmiah perjuangan berbasis pengetahuan.

Dalam logika ini: Sanksi bukan hambatan, tetapi pemicu inovasi. Isolasi bukan kelemahan, tetapi ruang kemandirian. Tekanan bukan ancaman, tetapi ujian ketahanan. Inilah yang tidak dimiliki banyak negara: keberanian menjadikan pendidikan sebagai alat resistensi, bukan sekadar alat adaptasi.

Pendidikan Karakter: Fondasi Ketahanan Peradaban

Iran tidak berhenti pada penguasaan sains. Mereka memahami bahwa peradaban tidak dibangun oleh kecerdasan semata, tetapi oleh karakter.

Sejak dini, peserta didik dibiasakan: Berpikir kritis dan filosofis. Mendalami Al-Qur’an secara reflektif. Menghidupkan tradisi sastra dan hikmah. Memiliki kesadaran sejarah umat.

Hasilnya adalah manusia yang tidak hanya pintar, tetapi memiliki keberanian moral dan tanggung jawab peradaban.

Di sinilah letak kekuatan Iran: mereka mencetak manusia yang siap memikul beban sejarah, bukan sekadar mengejar kenyamanan hidup.

Pelajaran untuk Indonesia dan Pesantren

Bagi Indonesia terutama komunitas pesantren pengalaman Iran memberikan pelajaran penting, tanpa harus menyalin ideologi politiknya.

Yang relevan untuk diadopsi adalah:

Pertama, menjadikan pendidikan sebagai alat pembebasan, bukan sekadar produksi tenaga kerja.

Kedua, membangun integrasi nyata antara pesantren dan sains modern bukan dikotomi.

Ketiga, menghidupkan kembali tradisi filsafat dalam Islam sebagai basis berpikir kritis.

Keempat, menanamkan kesadaran sejarah dan tanggung jawab umat dalam pendidikan karakter.

NU dan Jalan Kemandirian Peradaban

Bagi Nahdlatul Ulama, tantangannya bukan sekadar menjaga tradisi, tetapi mengembangkan tradisi menjadi kekuatan peradaban. Pesantren memiliki modal besar: tauhid, adab, dan jaringan sosial. Namun, tanpa keberanian epistemologis, semua itu bisa terjebak dalam romantisme masa lalu.

Iran menunjukkan bahwa: Peradaban tidak dibangun dari nostalgia, tetapi dari keberanian mencipta masa depan. Jika pesantren mampu menyatukan: Kedalaman spiritual. Ketajaman intelektual. Kemandirian teknologi.

Maka bukan tidak mungkin Indonesia akan melahirkan gelombang baru “jihad ilmiah Nusantara”yang tidak hanya relevan secara lokal, tetapi berpengaruh secara global.

Penutup

Di tengah bayang-bayang hegemoni Amerika, Iran memberi satu pelajaran penting:
kekuatan sejati sebuah bangsa tidak terletak pada bebasnya tekanan, tetapi pada kemampuan mengubah tekanan menjadi energi peradaban.

Dan jalan menuju itu semua, sekali lagi, dimulai dari satu hal mendasar: pendidikan yang merdeka dan berdaulat.

*Bey Arifin adalah Pengurus IKAPETE Jombang
Bagaimana reaksi anda?
Like
Love
Haha
Wow
Sad
Angry