Endang Sulistiyani, M.Kom

Dosen Program Studi S1 Sistem Informasi Fakultas Teknik

Teknologi sudah berkembang sangat pesat. Generasi X menjadikan teknologi sebagai sebuah kebutuhan. Bahkan untuk generasi Z, teknologi sudah dikenal sejak dalam kandungan.

Salah satu produk teknologi itu adalah gadget. Semua orang mulai balita hingga dewasa sudah mengenal produk ini. Bahkan, gadget sudah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari dan sangat melekat dengan diri pemiliknya.

Adakah keuntungan dan kerugian gadget? Tentu saja ada. Banyak hal yang perlu kita waspadai dari adanya telepon pintar itu. Terutama pada anak-anak.

Salah satunya adalah waktu melihat layar atau screen time. Pada anak-anak di bawah usia lima tahun (balita) mengalami peningkatan dua kali lipat dalam rentang 17 tahun terakhir. Awalnya rata-ratanya hanya 1,32 jam sehari meningkat menjadi 3,05 jam sehari.

Lantas sudah tepatkah waktu tersebut?

WHO baru saja mengeluarkan saran terkait waktu penggunaan gadget. WHO menyarankan, balita diperbolehkan menatap layar gadget saat usia dua tahun ke atas dengan lama maksimal adalah 1 jam. Hal ini mengingat adanya risiko dari lamanya waktu melihat layar.

Sebagaimana disebutkan dalam jurnal ilmiah PLOS One, yang dilakukan oleh para peneliti dari University of Alberta di Kanada, menatap gadget secara berlebihan menyebabkan penyimpangan pada perilaku.

Akan tetapi, fenomena yang ada saat ini cukup mencengangkan. Tidak sedikit anak usia di bawah dua tahun sudah mulai dikenalkan dengan gadget. Sebagai contoh, bayi baru lahir sudah diambil gambar menggunakan kamera.

Memang tidak secara langsung menggunakan gadget, akan tetapi secara langsung bayi tersebut sudah melihat layar. Bertambah usia, balita mulai bertambah peran dalam melihat layar, mulai dari bangun tidur sampai akan tidur. Bahkan tidak jarang tertidur dengan ditemani gadget.

Apa peran gadget saat ini untuk balita? Hanya sebagai hiburan atau sebagai pengasuh?

Pertanyaan ini muncul karena banyak orang tua yang memilih gadget sebagai media untuk menidurkan bayinya. Orang tua rela membiarkan bayinya melihat layar gadget agar mereka tertidur.

Hal ini tidak jadi permasalahan ketika ini dilakukan hanya sekali atau sebagai hiburan. Akan tetapi akan menjadi sebuah keresahan apabila tindakan seperti ini dijadikan kebiasaan.

Gadget saat ini dijadikan senjata terfavorit para orangtua untuk membuat anak-anaknya tetap duduk tenang dan tidak rewel, terutama bagi mereka yang super sibuk dan memiliki banyak hal yang lebih mendesak daripada mengurus anaknya. Alhasil gadget menjadi pengasuh setia yang melebihi orang tua sendiri.

Benarkah mempercayakan anak diasuh oleh gadget?

Secara kesehatan saja tentu tidak dapat dipungkiri bahwa gadget membawa dampak buruk bagi anggota tubuh. Sebut saja mata, ketika balita disuguhi gadget sebagai pengantar tidur, tentu posisi tubuh adalah tidur.

Hal ini tentu akan menganggu kesehatan mata. Secara lingkungan social dan kedekatan dengan orang tua. Balita akan lebih senang beraktivitas dengan gadget dibandingkan bersama orang tuanya. Sisi social lain adalah interaksi dengan sesama balita. Ayo asuh anak kita dengan sentuhan kasih sayang orang tua bukan sentuhan gadget. Benahi pola asuh sedini mungkin sebelum semuanya terlambat. *

Bagaimana Reaksi Anda?
Like
Love
Haha
Wow
Sad
Angry