SURABAYA | duta.co  – Pelaksanaan musyawarah tertinggi di Nahdlatul Ulama, yakni Muktamar ke-35 NU sudah semakin dekat. Perhelatan bersejarah ini direncanakan digelar pada awal Agustus 2026.

Pengurus Besar Nahdlatul Ulama telah menunjuk Sekretaris Jenderal PBNU, Saifullah Yusuf (Gus Ipul) sebagai Ketua Panitia Muktamar Ke-35 NU. Kendati demikian, proses penyusunan kepanitiaan masih berjalan dan ditargetkan ter-SK sebelum rangkaian Musyawarah Nasional dan Konferensi Besar (Munas dan Konbes) NU digelar akhir bulan ini.

Ketua Forum Kader NU se-Dunia, Syukron MD menuturkan bahwa Muktamar ke-35 NU adalah perhelatan pertama dalam lembaran abad kedua NU. Menurutnya, sudah sepatutnya kekuatan struktur dan kultur NU bersatu menyukseskan hajatan besar ini, demi lahirnya kepemimpinan ulama yang bermartabat, suprematif dan transformatif.

“Kami mengajak semua pihak baik unsur pengurus dan warga NU untuk bersatu membangun kebersamaan mengawal suksesnya Muktamar ke-35 NU ini, dan memberikan support ke panitia agar bekerja menyiapkan Muktamar yang teduh serta menolak politik uang (risywah) yang merusak marwah ulama dan membusukkan institusi NU,” tegas Syukron MD melalui keterangan pers, Selasa 14 April 2026.

Sebelumnya, di hadapan ratusan peserta Musyawarah Kerja Wilayah (Muskerwil) PWNU Jatim di Pesantren Sunan Bejagung 2, Tuban, 11-12 April 2026, Rais Aam PBNU, KH Miftachul Akhyar mengharapkan tanggal pelaksanaan Muktamar ke-35 pada 1-5 Agustus 2026. Hal itu sesuai siklus musyawarah tertinggi NU. Adapun tempat pelaksanaan Muktamar ke-35 NU masih belum ada keputusan resmi.

“Soal tempat, kita rapatkan dulu, apakah Surabaya atau Jakarta. Bisa juga di pesantren, apakah di Pesantren Walisongo, Situbondo asuhan KH Cholil Asad atau pesantren tuan guru di NTB yang juga sudah lama minta, ataukah di Sumbar yang didukung tiga provinsi, maupun di Cirebon, Kediri dan Bangkalan,” ujar Kiai Miftach.

Momentum Kebangkitan Baru NU

Harus kita akui dan sadari bila Muktamar ke-35 NU dibayangi oleh dua muktamar sebelumnya yang marak praktek risywah dan penuh kegaduhan. Inilah momentum di awal abad kedua untuk menghadirkan proses Muktamar ke-35 NU dengan penuh kebersamaan struktur dan kultur NU demi kebangkitan baru Nahdlatul Ulama.

“Dinamika kontestasi harus tetap dalam kerangka adab keulamaan khas NU. Saya mengajak seluruh nahdliyin mengawal muktamar dengan penuh kesadaran dan tanggung jawab. Selain itu, Pengurus PWNU dan PCNU harus memastikan proses dan hasil Muktamar berjalan sejuk, bersih dan bermartabat,” pungkas Wakil Sekretaris PWNU Jatim 2018-2024 ini. (*)

Bagaimana reaksi anda?
Like
Love
Haha
Wow
Sad
Angry