Penandatangan kerjasama antara FK Unair , RSU dr Soetomo dan RSIA Kendangsari dan RSIA Kendangsari Merr. DUTA/ist

SURABAYA | duta.co – Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga (FK Unair) memperluas kerjasama dan jumlah rumah sakit (RS) jejaring di luar RSU dr Soetomo dan RS Universitas Airlangga (RSUA).

Ini dilakukan untuk memberikan kompetensi dan keahlian bagi para lulusannya terutama lulusan program pendidikan dokter spesialis (PPDS).

Kerjasama itu salah satunya dengan jaringan Rumah Sakit Ibu dan Anak (RSIA) Kendangsari Group yakni di Kendangsari dan Merr. Perjanjian kerjasama dilakukan Jumat (4/3/2022) di Aula FK Unair.

Dekan FK Unair, Prof Dr Budi Santoso, SpOG (K) didampingi Direktur RSU dr Soetomo, Dr dr Joni Wahyuhadi, SpBS (K), serta perwakilan dari RSIA Kendangsari Group.

“Sejak Covid-19 membuat kita prihatin. Karena PPDS itu tidak bisa terjun langsung ke rumah sakit. Padahal, mahasiswa PPDS seharusnya waktunya full di rumah sakit untuk magang. Untuk bisa melihat bagaimana cara kerja dokter dari seniornya. Melihat bagaimana operasi sesar, bagaimana operasi ginekologi dan sebagainya,” jelas Prof Bus, panggilan akrab Prof Budi Santoso.

Karena itu, pandemi pula, banyak pasien di dua RS pendidikan FK Unair juga sepi pasien selain Covid-19. Sehingga banyak PPDS yang tidak bisa melihat langsung bagaimana penanganan pasien di luar Covid-19.

“Karenanya kami memang harus memperluas jaringan ke rumah sakit swasta. Seperti dengan RSIA Kendangsari. Selama ini PPDS hanya ‘ngintili’ seniornya yang juga dosen FK Unair di mana tempat praktiknya, termasuk di RSIA Kendangsari. Sekarang ini itu kita legal formalkan supaya lebih aman,” ujar Prof Bus.

Direktur RSU dr Soetomo, dr Joni Wahyuhadi menyambut baik kerjasama ini. Dikatakannya, tempat untuk belajar memang tidak hanya di rumah sakit milik pemerintah atau RS pendidikan FK Unair.

Tempat belajar bisa di rumah sakit lain terutama RS swasta yang juga memiliki fasilitas lengkap bagi pasien. “Intinya, PPDS itu adalah dokter magang yang harus selalu mengikuti dokter seniornya praktik. Karena, pelajaran PPDS itu tidak ada di buku, tapi harus praktik langsung. Tidak ada buku-bukunya. Teknik bagaimana operasi misalnya itu harus ikut senior bagaimana seniornya melakukan penanganan,” ungkap dr Joni.

Dengan cara seperti ini, ke depan, lulusan FK Unair akan semakin mumpuni dan memiliki keahlian yang luas biasa. “Saya mendapatkan banyak keahlian di bidang bedah syaraf itu karena saya dulu ikut ke mana senior saya praktik. Saya lihat, juga ikut melakukan dan senior saya selalu siaga di ruang operasi misalnya karena kalau terjadi sesuatu bisa langsung ditangani,” tambahnya.

Direktur RSIA Kendangsari, dr Hermien Hadiati mengaku senang bisa ikut berkontribusi terhadap pendidikan kedokteran di Unair. Pihaknya mengaku senang, nantinya PPDS FK Unair bisa menjadikan RSIA Kendangsari sebagai tempat untuk meningkatkan kompetensi. “Kita akan senang membantu karena kita saling membutuhkan,” tukasnya. ril/end

Bagaimana Reaksi Anda?
Like
Love
Haha
Wow
Sad
Angry