Prof. dr. EM. H. I Gusti Nyoman Gde Ranuh, SpA(K) (tiga dari kanan) menerima lukisan dirinya didampingi Dekan FK Unair Prof Soetojo (dua dari kanan) saat Tribute Lecture di Aula FK Unair, Rabu (14/2). DUTA/endang

SURABAYA | duta.co – Usia tidak bisa menghalangi seseorang untuk terus berkarya dan bermanfaat bagi orang lain. Salah satu contohnya adalah Prof. dr. EM. H. I Gusti Nyoman Gde Ranuh, SpA(K). Di usia 90 tahun, pria kelahiran Jember 23 November itu masih tetap mengabdi sebagai dokter spesialis anak dan dosen di Fakultas Kedokteran (FK) Univesitas Airlangga (Unair).

Departemen/SMF Ilmu Kesehatan Anak RSU dr Soetomo Surabaya dan FK Unair, Rabu (14/2) memberikan penghargaan bagi Prof Ranuh, panggilan akrabnya. Dalam gelar acara Tribute Lecture XVI, Prof Ranuh diberi penghargaan yang setinggi-tingginya dari rumah sakit dan FK Unair.

Karena bapak empat anak ini bukan sekadar dokter spesialis anak, melainkan dokter spesialis anak pertama lulusan FK Unair dan yang ada di RSU dr Soetomo. Selain itu, dia juga mantan Dekan FK Unair.

Di usia hampir satu abad, Prof Ranuh masih terlihat energik. Bahkan, dia pun tetap menjalankan aktivitas setiap harinya. Hobi bermain biola tetap dilakukannya. Bahkan, kepiawaiannya itu, dia pertujukkan kepada para undangan yang hadir di Aula FK Unair, Rabu (14/2). Dua lagi klasik dia persembahkan. Tepuk tangan bergema memberikan apresiasi.

“Luar biasa. Masih bisa menggesek biola dengan sangat luar biasa. Saya kagum,” ujar Dekan FK Unair, Prof. Dr. dr. Soetojo, SpU (K).

Tak salah jika FK Unair dan Departemen Ilmu Kesehatan Anak RSU dr Soetomo memberikan penghargaan buat Prof Ranuh. “Ini penghormatan dari kami kepada senior, kepada gurunya. Karena guru mulai dari SD, SMP hingga perguruan tinggi harus kita hormati,” tandas Prof. Soetojo.

Salah satu murid Prof Ranuh, dr. Agus Hariyanto, SpA(K) mengaku bangga memiliki guru seperti Prof Ranuh. Dikatakannya, Prof Ranuh bisa berusia panjang hingga 90 tahun dalam keadaan sehat dan masih bisa berkarya tidak lepas dari kesabaran dan nerimo ing pandum (merima apa adanya). Selain itu, Prof Ranuh sangat humoris, suka menghibur dan pemain musih yang handal.

Prof Ranuh masih piawai menggesek biola. duta/endang

“Beliau sangat mencintai pekerjaannya. Tidak ada guru yang sesabar beliau. Semoga saya bisa awet muda seperti beliau dan masih bisa berkarya seperti beliau,” kata dr Agus yang mengaku sangat berutang budi pada Prof Ranuh karena dialah yang membantu memasukkannya ke studi ilmu kesehatan anak.

Prof Ranuh adalah lulusan Dokter Spesialis Anak FK Unair pada 1966. Itulah pertama kali FK Unair memberikan ijazah pada dokter yang memang khusus menangani kesehatan anak. Sebelumnya, pada 1950, pendidikan kesehatan anak masih berupa magang dengan cara berkeliling ruangan dan poliklinik mengikuti dokter senior.

Prof Ranuh yang ditemui usai acara mengaku tertarik untuk mendalami ilmu kesehatan anak karena diajak seorang guru yang diseganinya. Padahal cita-cita sebenarnya ingin menjadi pegawai di Perhutani. “Katanya masih belum banyak dokter anak. Ini masalah pengabdian. Akhirnya terjun di sini,” katanya.

Prof Ranuh juga tidak menyangka jika dia akhirnya bisa sampai usia 90 tahun bisa mengabdi sebagai dokter dan dosen. “Alhamdulillah diberi usia yang panjang dan bermanfaat bagi sesama. Semoga saya masih dibutuhkan,” jelas Prof Ranuh yang mengaku selalu menyempatkan diri untuk berenang agar staminanya tetap terjaga di usia senja. end

Tinggalkan Balasan