SURABAYA | duta.co – Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga (FK Unair) mendatangkan ahli radiologi dari Universiti Kebangsaan Malaysia (UKM) dalam Adjunct Professor.

Adalah Prof Dr Hamzaini bin Abdul Hamid yang nantinya akan bertugas untuk menjalin kolaborasi baik itu pendidikan, penelitian dan pengabdian masyarakat bersama.

Dalam orasi ilmiahnya bertajuk “Radiological Reasoning for Radiologists and Residents”, Prof Hamzaini menegaskan kemampuan penalaran radiologist sebagai fondasi utama, terutama bagi  dokter dalam tahap pendidikan atau residen.

Dikatakannya kesalahan penalaran itu paling sering terjadi pada radiolog junior karena dua hal utama, yaitu keterbatasan pengalaman dan pengetahuan yang masih berkembang. Sehingga  ada kemungkinan terjadi kekeliruan.

Prof Hamzaini menegaskan, tidak hanya di Malaysia, hasil pembacaan radiologi oleh residen di Indonesia juga tidak langsung difinalisasi. Namun, tetap harus melalui supervisi konsultan.

“Hasil pemeriksaan harus ditunjukkan terlebih dahulu kepada konsultan sebelum difinalkan. Itu adalah bagian dari proses pembelajaran. Residen belajar langsung dari kesalahan secara hands on, dan meskipun informal, metode ini justru sangat efektif,” ujarnya.

Prof Hamzaini menyebut,  tantangan terbesar dalam radiological reasoning di rumah sakit adalah kurangnya paparan variasi citra medis. “Radiolog harus melihat sebanyak mungkin gambar. Semakin banyak citra yang dilihat, semakin banyak pola yang terekam di otak. Inilah dasar dari pattern recognition,” ungkapnya.

Menurutnya, pembelajaran radiologi tidak cukup hanya melalui buku. Namun, juga didukung melalui citra nyata, pengetahuan, dan keterampilan radiolog. Selain itu, jenis pemeriksaan yang paling sering menimbulkan kesalahan pembacaan adalah foto polos atau X-ray.

“Tubuh manusia merupakan tiga dimensi, tapi X-ray hanya memberikan gambaran dua dimensi. Berbeda dengan CT scan yang bisa dilihat dari berbagai sisi. Karena itu, X-ray membutuhkan penalaran dan ketajaman observasi yang lebih tinggi,” terangnya. ril/lis