Oleh: Suparto Wijoyo

SAYA sangat terkagum-kagum. Dalam suasana Ramadhan ini ada intensitas yang membanggakan sekaligus membuncahkan rasa keindonesiaan yang manunggal. Di tengah kekacauan akhlak penerima beasiswa LPDP yang menafikan kebanggaan kebangsaannya, karena betapa terharunya sosok sang ibu itu terhadap anaknya yang telah diakui secara yuridis sebagai WNA di Inggris. Keterharuan yang akhirnya mengharu-biru hati bangsa Indonesia. Lihatlah bagaimana masyarakat nusantara masih terus mempersatukan jiwa-jiwa nasionalismenya di kala ada yang mencoba “mencuci” identitas dirinya yang harus menjauh dari tanah asalnya. Warga negara kini menggelorakan makna kebanggaan pada NKRI dengan segala problematikanya. Ini menandakan bahwa derajat bernegara sangat dijunjung tinggi oleh mayoritas publik.

Di samping itu, di luar soal ujian nasionalisme terhadap para penerima LPDP, sebagian anak-anak muda kita justru bangkit siap kembali ke desanya untuk membangun kawasan asal mulanya, tempat kelahirannya. Anak-anak muda yang tugas belajar di China, Eropa maupun Rusia dan berbagai negara di Eropa Timur, apalagi yang di Timur Tengah, sontak berkata: aku siap balik Prof Jojo, untuk mengabdi demi Indonesia masa depan yang penuh optimisme sebagai negara maju. Negara yang menghadirkna dirinya memberikan layanan terus menerus bagi warganya. Di sana sini memang ada protes-protes kecil, tepatnya kritisi dari rakyat mengenai jalan rusak, banjir yang belum surut, kemacetan lalu lintas, layanan kesehatan yang masih sangat berpendekatan administratif daripada pendekatan public services atas pesan konstitusi atas hak rakyat terhadap keterpenuhan hidup sehat.

Di belantara itu semuanya, saya tetap mengais pundi-pundi energi yang menandakan bahwa rakyat Indonesia ini sangat produktif. Simak saja, tua muda, terutama anak laki-laki, pada malam-malam menjelang sepertiga waktu menjelang fajar, mereka terbangun dan melakukan patroli keliling kampung dengan menyuarakan ungkapan membangunkan agar warga segera sahur. Para pedagang juga bergerak cepat membanjiri jalan-jalan raya, justru tepat tengah malam. Semua orang di negara maju atau yang selalu dibanggakan berkemajuan pastinya masih terlelap tidur, warga bangsa kita membuka lapak-lapak jualan sayur, ayam potong, telor dan kebutuhan dapur lainnya. Betapa meriahnya jam malam di pasar-pasar yang mendadak buka di jam-jam yang oleh skema kedokteran saatnya orang istirahat. Pagi-pagi usai shalat subuh berjamaah, warga-warga kampung di pedalaman wilayah Indonesia pergi semburat meramaikan suasan di sawah ladangnya. Mereka bekerja mengelilingi tambak-tambaknya, sawah-sawah dikontrol untuk menjemput masa panen yang dinanti.

Itulah potret paling asli warga negara yang amat rajin. Saudara-saudara di pedalaman Kalimantan, Sumatera, Sulawesi dan Papua di saat fajar malu-malu menunjukkan dirinya, warga penjaga hutan ini memanen karet, pergi menyadap menjelajahi rimbunnya hutan. Ini saya menyaksikan betapa bangsa kita dipenuhi orang-orang yang produktif. Jadi fakta tersebut sesungguhnya menjadi sanggahan bahwa kita bukan bangsa pemalas. Belum lagi mengenai anak-anak pesantren yang tidur dimulai jam 10.00 bahkan jam 11.00 karena mereka selalu asyik bertadarus guna memenuhi target khataman alquran, jam 02.30 rata-rata terbangun shalat tahajud atau melakukan ritual dzikir. Mempersiapkan sahur adalah langkah lanjutan dan meramaikan masjid pesantren untuk jamaah subuh yang sangat kolosal.

Saya tentu tidak punya alasan untuk menyatakan tidak terharu atas fenomena-fenomena yang faktual tersebut. Ditambah lagi ada kenyataan yang sangat mencengangkan tentang gerakan sedekah subuh. Banyak klaster umat yang melakukan gerakan sedekah subuh. Pagi-pagi mereka berbagi, baik secara konvensional maupun digital. Karena sekarang adalah bulan Ramadhan tempak bertambah bergairah lagi. Saya mendaoatkan penampakan hadirnya anak-anak muda di masjid atau bahkan sekadar komunitas kecil di kampung-kampung, serta di perempatan-perempatan jalan sekitar gang-gang perkotaan, anak-anak muda membentuk kerumunan membagikan takjil, ada gerakan iftar di jalanan. Tumpukan makanan dari para donatur yang mereka himpun dan air mineral yang tersajikan, amatlah membanggakan.

Warga negara kita yang di masjid-masjid, hari-hari ini, silahkan datang ke semua tempat dimana masjid-masjid bertengger, ternyata terkumpul sajian-sajian sebagai penanda bahwa terdapat gelombang filantropi yang kerap diajarkan. Komunitas sahur sampai takjil terus tumbuh. Ini menjadi bukti bahwa gelegak filantropi di Indonesia ini acap kali berkembang karena ada amanah keagamaan. Ajaran sedekah, berbagi atau saling memberikan adalah menjiwai umat beragama. Maka soal filantropi ini sejatinya bersumber dari suara batin religiusitas yang berbalut dengan kesadaran humanitas yang amat sempurna. Orang-orang Indonesia sangat dermawan. Apalagi yang diberi atribut ketuhanan, pasti sangat progresif pergerakannya.

Dalam konteks demikian maka sudah sewajarnya apabila terdapat data yang mencatat bahwa Indonesia diakui sebagai negara paling dermawan di dunia. Selama tujuh tahun berturut-turut Indonesia dapat mempertahankan peringkat pertama dalam World Giving Index (WGI) oleh CAF di tarikh 2024. Memang ada pemberitaan juga bahwa terjadi penurunan bahwa di tahun 2025 yang menempatkan Nigeria di posisi atas, tetapi Indonesia tetap konsisten di atas rata-rata global. Saya tetap meyakini bahwa inilah bangsa yang sangat dermawan dan suka tolong-menolong, bangsa yangbaliran darahnya suka bergotong royong. Demikiankah juga pembaca? Biar diri pembaca sendiri yang menjawabnya dengan tetap mengingat sabda Rasulullah SAW: “Sedekah tidaklah mengurangi harta. Tidaklah Allah menambahkan kepada seorang hamba sifat pemaaf melainkan akan semakin dimuliakan Allah. Dan tidaklah seorang hamba merendahkan diri karena Allah melainkan akan Allah meninggikan derajatnya” (HR. Muslim). Barokallah.

*Suparto Wijoyo adalah Guru Besar Hukum Lingkungan dan Wakil Direktur III Sekolah Pascasarjana Universitas Airlangga, Ketua Bidang Hukum dan Kerjasama MUI Provinsi Jawa Timur,  Wakil Ketua Tanfidziyah PWNU Jawa Timur.
Bagaimana reaksi anda?
Like
Love
Haha
Wow
Sad
Angry