Bernadette Vassula Thiores, mahasiswa Fakultas Industri Kreatif angkatan 2018 menggambar seketsa Batik “Gending Panji Sekartaji”. DUTA/Wiwiek Wulandari

SURABAYA | duta.co – Fakultas Industri Kreatif Universitas Surabaya (FIK Ubaya) berkolaborasi dengan 38 pengrajin batik di 38 kota/kabupaten di Jawa Timur hasilkan 38 karya batik tulis bertema cerita Panji Jawa Timur.

Dosen dan mahasiswa FIK bersama perajin yang berada dalam naungan Asosiasi Perajin Batik Jawa Timur, serta Dewan Kerajinan Nasional Daerah (Dekranasda) Provinsi Jawa Timur, ini berkolaborasi guna melestarikan cerita Panji Jawa Timur ke dalam bentuk media batik.

Hasil kreasi batik akan didigambar ulang oleh mahasiswa bersamaan dengan dipamerkan 38 karya batik cerita Panji. Kegiatan dilaksanakan pada Rabu, 19 Januari 2022 di Seminar Room Gedung International (HI) Kampus II Ubaya Tenggilis jalan Raya Kalirungkut Surabaya.

Kolaborasi ini merupakan salah satu luaran dari Hibah Kementerian Riset dan Teknologi / Badan Riset dan Inovasi Nasional (Kemenristek/BRIN) yang diterima oleh FIK Ubaya dengan tajuk “Simbolisme dan Nilai Cerita Panji Jawa Timur pada Ragam Hias Jawa Timur”.

Prof Ir Markus Hartono, ST, MSc, PhD, CHFP, IPM, ASEAN Eng, selaku Dekan Fakultas Industri Kreatif Ubaya serta Ketua Tim Peneliti pun menjelaskan bahwa motif baru ini muncul dari karya mahasiswa dan dosen FIK Ubaya yang dikolaborasikan dengan karya pengrajin melalui motif kearifan lokal.

Kisah Panji adalah kisah tradisional dari Jawa Timur yang berlatar zaman Kediri yang kemudian menyebar ke daerah di Nusantara, meliputi seluruh Jawa dan Bali, Nusa Tenggara, dan berbagai daerah Sumatra. Sedangkan di mancanegara, cerita Panji juga sempat terdengar di wilayah Asia Tenggara, khususnya Thailand, Kamboja, dan Myanmar. “Diwarnai dengan niatan tulus untuk memberikan sumbangsih dalam eksplorasi cerita Panji Jawa Timur,” tambah Prof.  Markus sapaan di kampus.

Cerita-cerita panji tersebut berkembang melalui beberapa aspek kehidupan dan muncul dalam beragam bentuk seni, seperti seni tari, sastra, teater, wayang, lukis, dan pahat. Dalam konteks sastra, cerita Panji tersendiri mulai berkembang dalam bentuk puisi maupun prosa yang dituturkan secara lisan dan tercatat oleh khalayak umum. Beberapa diantara cerita Panji tersebut menjadi cerita rakyat populer yang beberapa sudah kita kenal, misalnya: Keong Emas, Ande-Ande Lumut, Cinde Laras, dan sebagainya.

Walaupun terdiri dari beberapa versi, inti dari kisah selalu ini menceritakan tentang perjalanan Raden Panji (Panji Asmorobangun) dari Kerajaan Jenggala dan Putri Candrakirana (Dewi Sekartadji) dari Kerajaan Daha atau Kediri, yang saling mencintai satu sama lain dan ingin membangun kehidupan yang harmonis dalam sebuah keluarga.

 

Batik “Gending Panji Sekartaji”

Salah satunya adalah Batik “Gending Panji Sekartaji”. Batik yang menceritakan romantisme Panji Asmorobangun dan Dewi Sekartaji ini dikombinasikan dengan motif Kota Probolinggo yakni angin gendhing. Batik khas ini terinspirasi dari kondisi alam Probolinggo, yang juga dikenal dengan sebutan Bayuangga. Bayuangga memiliki makna daerah yang berangin kencang (atau angin gendhing), mewarnai pertemuan Panji Asmorobangun dan Dewi Sekartaji ketika menari bersama setelah pengelanaan.

Selain itu motif Batik “Sawunggaling Panji Tekes” khas Surabaya juga mewarnai desain Panji dengan kekhasan masyarakat Surabaya, yakni Sawunggaling. Sawunggaling adalah sebutan dari Jaka Berek, putra dari Adipati di Kadipaten Surabaya, yakni Adipati Jayanegara dan Dewi Sangkrah. Walaupun diasingkan setelah lahir, Sawunggaling yang gagah berani menggantikan ayahnya sebagai Adipati Surabaya dan turut berperang melawan Belanda. Kebiasaan Sawunggaling yang terkenal membawa ayam jago kemanapun ia pergi pun diabadikan dalam sebuah motif batik Sawunggaling.

Bernadette Vassula Thiores, mahasiswa Fakultas Industri Kreatif angkatan 2018 juga menuturkan partisipasinya dalam melestarikan cerita Panji ini. “Project ini masuk dalam matakuliah Indonesian Heritage. Kami memilih Panji Sekartaji yang menggambarkan pertemuan Panji Asmorobangun dengan Dewi Sekartaji setelah melalui pengelanaan,” terang Lula, panggilan akrabnya.

Banyak tantangan yang dialami selama proses pembuatan selama 2-3 bulan, dosen dan fakultas pun memberi support penuh. Prayogo Widyastoto Waluyo, S.Pd., M.Sn., selaku Dosen FIK Ubaya dan salah satu anggota tim riset mengungkapkan bahwa karya dari teman-teman dosen dan mahasiswa FIK yang kemudian dipadukan dengan motif khas kota dan kabupaten. Selain itu juga tim dosen, sedang proses pengajuan Hak Kekayaan Intelektual (HKI).

“Cerita Panji ini merupakan cerita luhur akan syarat nilai keberanian, kepahlawanan dan kasih sayang,” terang Markus. Markus pun berharap bahwa nilai-nilai dan budaya yang terkandung di dalamnya dapat terus berlanjut, khususnya melalui peran generasi muda untuk mengenalkan dan mengeksplorasi cerita Panji Jawa Timur kepada generasi berikutnya. “Salah satunya melalui penciptaan produk kreatif,” tutur Markus.

Selain dari cipta karya batik, salah satu luarannya adalah buku yang akan dilaunching dan diresmikan oleh Arumi Bachsin Emil Dardak SE., Ketua Dewan Kerajinan Nasional Daerah (Dekranasda) Jawa Timur pada Maret mendatang. wik

 

Bagaimana Reaksi Anda?
Like
Love
Haha
Wow
Sad
Angry