Tampak, para pembicara dalam acara webinar Optimalisasi Peran Digital Financing dalam Mendukung Pembiayaan Syariah yang digelar di ajang Festival Ekonomi Syariah (Fesyar) Regional Jawa 2021 secara virtual, Selasa (28/9/2021). DUTA/ist

SURABAYA | duta.co – Literasi dan inklusi keuangan Syariah masih menjadi kendala utama  di Indonesia. Sehingga pertumbuhannya kalah jauh kalau kita bandingkan dengan literasi dan inklusi keuangan konvensional.

Hal inilah yang menyebabkan keuangan dan ekonomi Syariah masih belum bisa maksimal tumbuh di Indonesia. Padahal, Indonesia memiliki jumlah penduduk muslim terbesar di dunia.

Demikian Ketua Bidang Pengembangan Ekonomi Digital Ikatan Ahli Ekonomi Islam (IAEI), Astri Wahyudi dalam webinar Optimalisasi Peran Digital Financing dalam Mendukung Pembiayaan Syariah yang digelar di ajang Festival Ekonomi Syariah (Fesyar) Regional Jawa 2021 secara virtual, Selasa (28/9/2021).

Menurut Astri, pada 2019 lalu, literasi keuangan Syariah meningkat 0,83 persen, ini kalau melihat angka 2016 dari 8,1 persen pada 2016 menjadi 8,93 persen pada 2019. Padahal literasi keuangan konvensional melesat dari 29,7 persen menjadi 38 persen.

“Kolaborasi maupun kerjasama yang perlu kita (para pemain industri syariah) lakukan adalah untuk bisa meningkatkan lagi literasi keuangan Syariah,” ujarnya.

Ungkapan senada datang dari Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Riswinandi. Menurut Riswinandi, literasi keuangan Syariah memang masih sangat rendah dan harus terus kita tingkatkan.

“Artinya apa, sampai saat ini dari 100 orang hanya 9 orang yang mengenal keuangan Syariah dengan baik. Sisanya tidak. Kalau ini kita biarkan, jelas tidak akan bisa berkembang maksimal,” ungkapnya.

Untuk menuju ke arah sana, digital financing memang menjadi kunci utama untuk meningkatkan akses keuangan Syariah di masyarakat. Dengan kondisi Indonesia yang memiliki banyak daerah kepulauan, jangkauan kantor cabang keuangan secara fisik sulit terwujud secara merata.

“Dengan digitalisasi, semua masyarakat akan memiliki akses yang baik tentang keuangan Syariah,” tukasnya.

Sementara, Kepala Perwakilan Bank Indonesia DKI Jakarta, Onny Widjanarko juga mengatakan Indonesia memiliki potensi yang sangat besar untuk pengembangan ekonomi dan keuangan Syariah. Karena sampai saat ini, Indonesia masuk peringkat empat untuk ekonomi Syariah dan juga peringkat empat untuk industri halal dunia.

“Karenanya perlu kita bagun internediasi keuangan agar ini bisa berkembang pesat, sehingga mengalahkan Malaysia, Thailand dan negara lainnya,” tukasnya.

Tiongkok Tertarik

Kelemahan itu harus segera tertutupi. Apalagi, sehari sebelumnya, Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa, mengatakan, perkembangan ekosistem ekonomi syariah di Pulau Jawa memiliki peran esensial dalam perkembangan ekonomi syariah di Indonesia.

Khofifah mengutip data, dalam tiga tahun terakhir saja, kata dia, posisi Indonesia dalam ekonomi syariah global terus meningkat. Indonesia sudah masuk dalam Top 10 seluruh sektor industri halal.

“Selain penguatan Halal Value Chain, kami juga terus mendorong adanya penguatan pembiayaan ekonomi syariah. Pun penguatan dan pemberdayaan UMKM syariah dan ekonomi pesantren, penguatan halal lifestyle, serta optimalisasi Islamic Social Finance dan fintech syariah. Ini upaya yang kami lakukan untuk mengembangkan ekosistem ekonomi dan keuangan syariah yang terintegrasi dari hulu ke hilir,” ungkap Khofifah di Atrium Tunjungan Plaza Surabaya.

Khofifah mengatakan, dalam mengembangkan Halal Value Chain ini, Pemprov Jatim terus mendukung penguatan industri halal. Pembangunan ekosistem industri halal saat ini sudah terlaksana. Yakni melalui pembangunan Kawasan Industri Halal (KIH) Safe and Lock di Sidoarjo yang telah mendapatkan surat keterangan dari Kemenperin Nomor: 373/KPAAII/X/2020 tanggal 22 Oktober 2020 yang telah memenuhi kriteria dan persyaratan sebagai Kawasan Industri Halal pertama yang ada di Jatim.

Sampai saat ini, telah terjual 21 unit dari target pembangunan 32 unit. Pada Tahun 2022 akan ada 38 unit. KIH safe and lock telah berhasil menarik animo investasi dari  Amin Bio Group dari Tiongkok dalam membangun kemitraan pabrik gelatin halal di Sidoarjo, sebagai bentuk penguatan branding produk halal.

“Kita berharap, kerjasama tersebut dapat memperkuat local halal value chain dengan program kemitraan menggandeng para pelaku UMKM syariah lokal sebagai pemasok bahan baku dari sisi hulu, sekaligus  menarik gravitasi ekonomi syariah dunia ke Indonesia pada umumnya dan Jawa Timur pada khususnya,” katanya. (end)

Bagaimana Reaksi Anda?
Like
Love
Haha
Wow
Sad
Angry