Dr Suparto Wijoyo

Oleh:  H Suparto Wijoyo*

PILWALI Surabaya semakin unik. Paslon dari “jamaah partai” sudah merasa tenang dan yang bermula dari “partai penguasa” terus menggeliat dengan calon yang semakin kentara rivalitasnya. Penggalan bulan yang merangsek ke arah cokromanggilingan 9 Desember 2020 berjalan cepat. Rekomendasi dan bisik-bisik partai semakin lantang menjadi alunan yang merasuk telinga. Tanda gambar diri sudah dipasang mewarnai teritorial Surabaya penuh gairah. Poros MA  dan “kandidat paslon” berseliweran. Semuanya sudah mengkristal menjadi bongkahan yang hendak diadu di palagan yang  sama-sama merasa berkelambu kiai-kiai NU.

Hari-hari mendatang tampaknya akan menuturkan banyak kisah. Ujaran di medsos sudah berseliweran penuh “nafsu meraih” kedudukan. Sampai pada tahapan coblosan yang diagendakan KPU  tertanggal 9 Desember 2020 pastinya semarak. Gagasan dan program diadu dengan argumentasi yang memyakinkan dari proses panjang yang tengah terlalui. Parpol dan yang “risau untuk mengindependenkan diri” sudah mengusung jagonya.

Perjamuan pasangan kini masih dinamis. Partai-partai saling mengintip sambil menyodorkan diri ke mana harus mendekat atau bahkan membentuk “blok baru” bagi parpol nonparlemen. Perjamuan sekarang ini akan membawa konsekuensi hari depan masing-masing. Pergulatan menarik dirumuskan dan besar-kecilnya partai yang “tercecer” tetaplah sangat berarti dalam bersumbangsih.

Terhadap hal ini ada novel bagus yang sebaiknya dibaca para calon sambil leyeh-leyeh di kendaraan mereka sewaktu  hendak menyapa warga. James Herriot pada tahun 1972 telah menuliskan cerita hidup dirinya dalam karya humanisnya All Creatures Great and Small. Beragam kisah tentang praktik kedokteran di pedalaman diusung penuh cinta yang tidak ditemukan dalam kampusnya. Interaksi dengan para petani miskin maupun ragam binatang menjadi satu tarikan nafas yang mewajibkan orang berkomitmen menemukan perannya. Semua karya cipta itu sangat fantastis dan pastilah berarti, baik yang besar ataupun yang kecil.

Kepandaian untuk mengelola “sirkulasi suara” warga  dibutuhkan pemahaman bahwa perjamuan pasangan ini masih menyimpan banyak rahasia. Akibat yang terpendam dalam “dapur masing-masing” dapat menghadirkan “adonan kesedihan” ataukah “bunga-bunga pujian” yang dipetik dari “ujaran-ujaran kebencian”. Belajar dari Gubernur DKI Jakarta dapat diunggah kata “cacian sebagai bonus” atas jabatan yang diraihnya. Menyapa dan mengayomi semua merupakan pilihan terbaik dalam menampakkan jatidiri. Situasi sekarang ini seperti terekam dalam novel apik Ally Condie (2012), Matched. Perjamuan Pasangan yang dikisahkan berselubung dalam sulaman “kesempurnaan dan hasrat” untuk memenangkan “lahan percintaan”. Kursi kepala daerah pastilah memukau bagi yang berhasrat untuk meraihnya.

Di tengah situasi ramainya  paslon, sejatinya rakyat sedang menunggu apa yang dilakonkan partai-partai “jumawa” yang sudah kondang kaloko mengusung jargon sok nasionalis. Adakah pasangan  ketiga, keempat atau kelima dinanti penuh hasrat pula untuk menengahi maupun menepikan paslon yang kini sudah keliling. Sambil menunggu “perjamuan pasangan lainnya”, saya tetap dalam koridor bahwa hiruk pikuk Pilkada yang menyerta hajatan demokrasi ini tidak boleh mengabaikan semangat lingkungan yang telah berkembang di ranah publik.

Berbagai peristiwa  alam yang melanda tanah air  membutuhkan solusi terencana secara ekologis.  Simaklah kekeringan dan banjir yang melanda di banyak wilayah, tanah longsor, rumah yang terendam dan warga yang mengungsi penuh derita. Sungguh suatu realitas yang sering terjadi membawa nestapa  yang tidak terkirakan. Transportasi dan mobilitas barang, orang dan jasa terhambat dalam kisaran ekonomi yang berada di luar proyeksi pengambil kebijakan. Kerusakan ekologis dengan konsekuensi kerugian ekonomi dan sosial sangat tak terperikan. Distribusi logistik untuk pemenuhan kebutuhan rakyat terhambat dalam kisaran yang  memilukan.

Mengapa tragedi krisis air bersih saat musim kemarau,  banjir di kala hujan, jalan rusak, tanah longsor senantiasa mentradisi dan intensitas hujan dijadikan sang tertuduh tanpa henti.  Kekuasaan terkadang  tidak pernah jujur bahwa penyebab utama banjir bukanlah air hujan. Sungai yang meluap akibat curah hujan yang mengguyur sejatinya hanyalah akibat saja dari buruknya manajemen lingkungan oleh penyelenggara negara. Renungkanlah, apa yang telah kita perbuat terhadap hutan, sawah dan ladang serta sungai yang membentang. Kekuasaan di daerah ada yang terlalu abai atas kondisi ekologis daripada peduli. Taman yang memukau dianggap menuntaskan segalanya.

Apa yang dapat dibanggakan dari sebuah kondisi alam yang mengalami derita peradaban.  Marilah menyimak zona sumber daya alam (SDA) Indonesia secara cermat dan tematik. Perspektif ekologis menginformasikan betapa rapuhnya perlindungan lingkungan Indonesia, apalagi ditambah dengan program Perhutanan Sosial yang memperkenankan hutan diubah menjadi “tambak” sesuai ucapan Presiden. Lihatlah pula bahwa perkotaan sudah kehilangan basis konservasi  SDA yang berfungsi menjamin keberlanjutan hidupnya.   Bahkan, kewilayahan nusantara telah disinyalir dengan sengaja  melakukan bunuh diri ekologi (“ecological suicide”). Secara planologis, realitas telanjang tata ruang kota misalnya tengah menyuguhkan pentas drama penjungkirbalikan pemanfaatan ruang yang tidak sesuai dengan landasan substansi geografis-topografisnya.

Untuk itulah Pilkada harus menjadi momentum menggelorakan semangat go green sebagai pandom pembangunan. Visi misi calon peserta “festival paslon”  yang tidak implementatif secara ekologis saatnya tidak dipilih. Jangan lahirkan di negeri ini tuan-tuan yang hanya menunggangi lingkungan. Jadikan pilkada sebagai instrumen ekologis yang strategis dalam mengkonstruksi kebijakan lingkungan. Hal ini jelas membutuhkan pemilih-pemilih yang cerdas secara ekologis. Ingatlah bahwa   lingkungan adalah keseluruhan ruang dan segala benda, termasuk manusia  dan prilakunya. Festival paslon dinanti dengan program ekologisnya. Begitulah Cak Mispon berpesan.

*Akademisi Fakultas Hukum dan Koordinator Magister Sains Hukum dan Pembangunan Sekolah Pascasarjana, Universitas Airlangga

 

Bagaimana Reaksi Anda?
Like
Love
Haha
Wow
Sad
Angry