Agus Wahyudi, S.Sos., M.Pd.
Dosen PGSD, FKIP

DI era digital saat ini, media sosial juga berperan besar dalam membentuk ekspektasi yang tidak realistis tentang dunia kerja. Banyak orang hanya membagikan kesuksesan mereka tanpa menunjukkan proses panjang dan sulit yang mereka lalui.

Akibatnya, lulusan baru sering kali membandingkan diri mereka dengan teman-teman yang terlihat sudah sukses, tanpa mengetahui perjuangan di baliknya.

Hal ini bisa menyebabkan perasaan rendah diri, kecemasan, dan bahkan depresi pada mereka yang belum mendapatkan pekerjaan. Mereka mulai menyalahkan sistem, perusahaan, atau bahkan diri mereka sendiri, tanpa melihat bahwa mungkin ada keterampilan yang masih perlu mereka tingkatkan (Prasetyo, 2023).

Peran Keluarga dalam Mendukung Lulusan Baru

Keluarga memiliki peran yang sangat besar dalam menentukan bagaimana seorang lulusan baru menghadapi dunia kerja. Ada dua jenis pola dukungan yang sering diberikan oleh keluarga, yaitu pola yang terlalu menekan dan pola yang terlalu protektif.

Di satu sisi, ada keluarga yang menuntut anak mereka untuk segera mendapatkan pekerjaan yang stabil, yang dapat meningkatkan tekanan psikologis pada lulusan baru.

Di sisi lain, ada juga keluarga yang terlalu protektif dan membiarkan anak mereka tetap tinggal di rumah tanpa dorongan untuk segera mencari pekerjaan. Kondisi ini dapat membuat lulusan baru terlalu nyaman di zona aman mereka dan kehilangan momentum untuk berkembang (Santoso, 2024).

Sarjana Menganggur Sebuah Refleksi 

Fenomena sarjana menganggur tidak hanya mencerminkan persoalan ekonomi atau ketidakseimbangan antara jumlah lulusan dan lapangan pekerjaan, tetapi juga menggambarkan krisis eksistensial yang dialami oleh generasi terdidik. Bagi banyak lulusan, dunia pasca-kampus menjadi ruang abu-abu yang membingungkan—antara identitas akademik yang telah dibangun selama bertahun-tahun dan kenyataan sosial yang menuntut adaptasi cepat.

Ketika gelar yang diperoleh tidak secara otomatis mengantarkan pada posisi profesional yang diidamkan, muncul rasa kehilangan makna diri, keraguan terhadap kemampuan pribadi, bahkan pertanyaan mendasar tentang nilai pendidikan itu sendiri. Dalam situasi ini, eksistensi mereka seolah terpinggirkan di tengah sistem sosial yang masih mengukur keberhasilan melalui status pekerjaan.

Di sisi lain, kondisi menganggur bagi lulusan sarjana juga menjadi ruang reflektif yang paradoksal—antara keterpurukan dan peluang. Dalam keterbatasan kesempatan kerja, sebagian lulusan mulai menegosiasikan ulang makna “bekerja” dan “berdaya”.

Ada yang mengalihkan potensi akademiknya ke jalur kreatif seperti wirausaha digital, konten edukatif, atau gerakan sosial berbasis komunitas. Mereka mencoba membangun eksistensi baru yang tidak sepenuhnya ditentukan oleh struktur kerja formal, melainkan oleh kemampuan untuk beradaptasi dan menciptakan ruang aktualisasi diri di tengah disrupsi ekonomi dan teknologi.

Dengan demikian, eksistensi sarjana menganggur bukan semata tentang ketiadaan pekerjaan, tetapi juga tentang pergulatan identitas dan pencarian makna di tengah perubahan lanskap sosial yang terus bergerak. Wallahua’lam bisshawab. *
Bagaimana reaksi anda?
Like
Love
Haha
Wow
Sad
Angry