
Dosen PGSD, FKIP
DI era digital saat ini, media sosial juga berperan besar dalam membentuk ekspektasi yang tidak realistis tentang dunia kerja. Banyak orang hanya membagikan kesuksesan mereka tanpa menunjukkan proses panjang dan sulit yang mereka lalui.
Hal ini bisa menyebabkan perasaan rendah diri, kecemasan, dan bahkan depresi pada mereka yang belum mendapatkan pekerjaan. Mereka mulai menyalahkan sistem, perusahaan, atau bahkan diri mereka sendiri, tanpa melihat bahwa mungkin ada keterampilan yang masih perlu mereka tingkatkan (Prasetyo, 2023).
Peran Keluarga dalam Mendukung Lulusan Baru
Keluarga memiliki peran yang sangat besar dalam menentukan bagaimana seorang lulusan baru menghadapi dunia kerja. Ada dua jenis pola dukungan yang sering diberikan oleh keluarga, yaitu pola yang terlalu menekan dan pola yang terlalu protektif.
Di satu sisi, ada keluarga yang menuntut anak mereka untuk segera mendapatkan pekerjaan yang stabil, yang dapat meningkatkan tekanan psikologis pada lulusan baru.
Sarjana Menganggur Sebuah Refleksi
Fenomena sarjana menganggur tidak hanya mencerminkan persoalan ekonomi atau ketidakseimbangan antara jumlah lulusan dan lapangan pekerjaan, tetapi juga menggambarkan krisis eksistensial yang dialami oleh generasi terdidik. Bagi banyak lulusan, dunia pasca-kampus menjadi ruang abu-abu yang membingungkan—antara identitas akademik yang telah dibangun selama bertahun-tahun dan kenyataan sosial yang menuntut adaptasi cepat.
Ketika gelar yang diperoleh tidak secara otomatis mengantarkan pada posisi profesional yang diidamkan, muncul rasa kehilangan makna diri, keraguan terhadap kemampuan pribadi, bahkan pertanyaan mendasar tentang nilai pendidikan itu sendiri. Dalam situasi ini, eksistensi mereka seolah terpinggirkan di tengah sistem sosial yang masih mengukur keberhasilan melalui status pekerjaan.
Ada yang mengalihkan potensi akademiknya ke jalur kreatif seperti wirausaha digital, konten edukatif, atau gerakan sosial berbasis komunitas. Mereka mencoba membangun eksistensi baru yang tidak sepenuhnya ditentukan oleh struktur kerja formal, melainkan oleh kemampuan untuk beradaptasi dan menciptakan ruang aktualisasi diri di tengah disrupsi ekonomi dan teknologi.







































