Dekan FEB UNISMA, Nur Diana SE MSi (atas tengah) saat membuka Webinar Internasional Indonesia - Amerika. (FT/IST)

MALANG | duta.co — Hubungan RI-AS kini berada pada tahap Strategic Partnership. Sebuah tahapan penting bagi kedua negara untuk berbagi tanggung jawab mencari solusi atas tantangan-tantangan global. Berdasar inilah Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Islam Malang (UNISMA) bekerjasama dengan kantor urusan internasional UNISMA menyelenggarakan Webinar dengan menghadirkan Zelda Wulan Kartika (Direktur Amerika Utara dan Tengah Kementrian Luar Negeri Republik Indonesia) dan Mark Govern (Konsulat jenderal Amerika Serikat di Surabaya).

Acara dibuka oleh Dekan FEB UNISMA, Nur Diana SE MSi, yang menyatakan Indonesia telah membuka hubungan bilateral dengan Amerika Serika sejak 28 Desember 1949 silam. Dijelaskannya, saat itu Menteri Kemakmuran RI Dr AK Gani berangkat dalam sebuah misi diplomatik ke Amerika. Sejak saat itu hubungan diplomatik kedua belah pihak terus berkembang dan menjadi rekan penting di berbagai sektor, terutama ekonomi.

“Kamar Dagang Amerika Serikat di Indonesia (AmCham Indonesia) dalam kajian terbarunya menunjukkan temuan nilai total kerja sama ekonomi bilateral Indonesia dan AS mencapai 90,1 miliar dolar AS per tahun pada 2014 (tahun terakhir data tersedia) atau setara 10 persen PDB Indonesia. Nilai total kerja sama ekonomi bilateral tersebut diproyeksikan mampu mencapai 131,7 miliar dolar AS di 2019 atau meningkat 46,2 persen dalam waktu lima tahun” ujar Diana dalam sambutan pembuka webinar tersebut, Rabu (17/06/2020).

Dekan FEB yang getol menggelar seminar keilmuan ini kemudian juga mengatakan bahwa dengan adanya hal tersebut, maka webinar yang membahas potensi hubungan kerjasama pendidikan dan ekonomi antara Indonesia dan Amerika Serikat ini digelar guna memberikan wawasan, pengetahuan dan insight kepada mahasiswa, akademisi, praktisi tentang potensi dan peluang kerjasama.

Webinar yang dimoderatori Dr Imam Wahyudi Karimullah Ketua Kantor Urusan internasional UNISMA memberikan waktu kepada narasumber Zelda Wulan Kartika untuk memaparkan materinya. Dalam paparannya Zeldan yang juga Direktur Amerika Utara dan Tengah tersebut menyatakan hubungan bilateral Indonesia dan Amerika Serikat mencapai kesepakatan pada tahun 2015 sebagai kesepakatan Kemitraan Strategi yang mana keduabelah pihak bersepakat untuk  berkomitmen untuk memperluas kerja sama pada kepentingan strategis guna memajukan perdamaian dan kemakmuran bersama di kawasan, serta mencapai prioritas-prioritas bilateral.

“Indonesia memiliki kepentingan utama untuk bekerjasama dengan Amerika Serikat disebabkan oleh beberapa hal diantaranya, AS merupakan mitra dagang terbesar ke-4 (surplus) bagi Indonesia, Sumber investasi terbesar ke-8 bagi Indonesia. Selain itu negara paman Sam ini merupakan tujuan ekspor non-migas Indonesia terbesar. Juga menjadi salah satu mitra utama pengadaan Alutsista dan Kehadiran AS di kawasan sebagai kekuatan penyeimbang,” urai Zelda.

Di samping itu, imbuh dia, neraca perdagangan Indonesia yang surplus terhadap AS dan perolehan fasilitas Generalized System of Preferences (GSP) termasuk pengurangan tarif masuk bagi lebih dari 3.000 produk bagi Indonesia. Ia juga menambahkan, Amerika sendiri memiliki kepentingan terhadap negara. Pasalnya, penurunan defisit nilai perdagangan, Indonesia merupakan pasar potensial bagi produk AS. Nusantara ini juga merupakan negara tujuan investasi untuk sektor ekstraktif/sumber daya mineral.

Selain itu, menurutnya, Indonesia dianggap sebagai sumber investasi sektor ekstraktif/sumber daya mineral  serta pasar potensial produk AS seperti kacang kedelai, pesawat terbang dan suku cadang. Maka untuk mencapai target perdagangan RI AS dapat dilakukan dengan berbagai strategi diantarnya mendorong peningkatan daya kompetisi industri dalam negeri, termasuk dalam aspek tenaga kerja, produktifitas, dan regulasi terkait perizinan,mendorong peningkatan kunjungan misi perdagangan serta kegiatan-kegiatan yang melibatkan sektor swasta kedua negara. Juga mendorong perbaikan peraturan perdagangan nasional agar lebih business-friendly; sertamendorong peningkatan kapasitas, mutu dan efisiensi proses produksi agar dapat bersaing dari segi kualitas maupun pricing di pasar internasional.

Zelda selanjutnya menjabarkan bahwa guna mempererat kedua belah pihak, telah ditandatangani pula Perjanjian Pendidikan dan Budaya pada 15 Juli 1992 dan telah berakhir pada 2002.  Dalam kerjasama bidang pendidikan memiliki ruang lingkup Pertukaran informasi dan publikasi ilmiah pada setiap jenjang pendidikan, pengakuan pendidikan pada setiap jenjang pendidikan, pengembangan kurikulum, program bersama, dan publikasi, pengembangan kapasitas tenaga pengajar.

“Selain itu kerjasama bidang pendidikan juga mencakup manajemen sekolah dan kepemimpinan tenaga pengajar, pertukaran tenaga pengajar dalam berbagai bidang, pertukaran tenaga ahli, pertukaran materi cara mengajar dan kurikulum, promosi program bahasa serta fasilitasi beasiswa degree dan non-degree,” jelas Zelda dalam webinar yang digelar FEB UNISMA.

Webinar ke 13 yang digelar FEB UNISMA ini berlangsung dinamis, dengan begitu banyaknya antusiasme peserta yang mengikuti via Zoom, Youtube FETV UNISMA, dan FB Humsa FE UNISMA. Partisipan mencapai 1.500 peserta berasal  dari dalam dan luar negeri telah mengikuti kegiatan ini. (dah)

Bagaimana Reaksi Anda?
Like
Love
Haha
Wow
Sad
Angry