Dekan FEB UNISMA, Nur Diana SE MSi (tengah) saat menjadi narasumber dalam Talk Show program Kampus Ramadhan yang ditayangkan NU Chanel, Selasa (12/05) bersama Host Rektor UNISMA, Prof Dr H Maskuri Bakri MSi. (FT/IST)

MALANG | duta.co – Dekan Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Islam Malang (UNISMA) mencetuskan solusi pembangunan perekonomian Islam. Pemikiran pemecahan masalah ini terutama untuk mencapai tujuan pembangunan yang berkelanjutan atau istilah asingnya, Sustainability Develompment Goals (SDGs). Hal penting ini ia sampaikan dalam  program Kampus Ramadhan yang ditayangkan oleh NU Channel, Selasa (12/05).

Dekan FEB UNISMA, Nur Diana SE MSi, menyampaikan ahwa perekonomian Islam mengajarkan tentang pentingnya keadilan, pemerataan, kesejahteraan, dan ada standar etika yang luhur, karena berbasis syariah jauh sebelum munculnya era SDGS.

“Konsep khalifah dalam perekonomian Islam sejatinya bertujuan memakmurkan dunia guna kelangsungan kehidupan manusia,” tutur Nur Diana.

Acara program Kampus Ramadhan yang ditayangkan NU Channel ini dipandu oleh Host Prof Dr Masykuri MSi. Ia melontarkan konsep SDGs dan tatarannya dalam pembangunan perekonomian Islam.

Kampus Ramadhan kali ini menghadirkan dua narasumber, Nur Diana SE, MSi dan Harun Al Rasyid MIEB, PhD selaku Ketua Program Studi Perbankan Syariah FEB UNISMA.

Selanjutnya Dekan FEB UNISMA memaparkan mengenai 17 agenda SDGs sebagaimana dicanangkan PBB sebagai kesepakatan pembangunan Global yg ditargetkan pada 2030. Di antara agenda SDGs tersebut diantaranya tanpa kemiskinan, tanpa kelaparan, kehidupan sehat dan sejahtera, pendidikan berkualitas, kesetaraan gender, air bersih dan sanitasi layak, energi bersih dan terjangkau, pekerjaan layak dan pertumbuhan ekonomi, industri, inovasi dan infrastruktur, berkurangnya kesenjangan, kota dan komunitas berkelanjutan, konsumsi dan produksi yang bertanggung jawab, serta lain sebagainya.

“Jadi jika lihat ada benang merah antara konsep pembangunan ekonomi Islam dengan SDGs, bahkan pembangunan perekonomian Islam sudah terimplementasikan terlebih dahulu dibanding konsep SDGs yg dicanangkan tahun 2015 lalu,” ungkap dekan yang dikenal inovatif ini.

Sistem perekonomian Islam sendiri, kata dia, dimulai sejak Rasulullah wafat, dilanjutkan oleh para sahabat nabi dengan membangun sistem kekhalifahan baik dalam pemerintahan maupun sistem perekonomian.

“Sebagaimana Rasulullah yang telah mengajarkan dan memberikan pijakan pedoman nilai perekonomian Islam yang kemudian tetap berlanjut kendati Rasulullah telah wafat. Era Khalifah Abu Bakar Asshidiq melanjutkan sistem perekonomian yang menggiatkan Baitul Maal,” ujar wanita berkacamata ini.

Ia menambahkan, di era Khalifah Umar Bin Khattab yang berijtihad untuk membentuk lembaga pengontrol harga serta melembagakan Baitul Maal. Khalifah Utsman Bin Affan yang lebih mengedepankan perbaikan infrastruktur dalam perekonomianserta Khalifah Ali Bin Abi Tholib yang fokus pada pemungutan pajak dan zakat yang pendistribusian berdasarkan azas pemerataan serta memungut pajak Jizyah kepada non-mulim.

“Indonesia sebagai negera dengan penduduk muslim terbesar di dunia harus menjadi pijakan utama dalam implementasi perekonomian islam,” tandasnya.

Ia menyampaikan bahwa nilai-nilai dalam Islam sejalan dengan tujuan untuk mencapai SDGs. Dalam Islam terdapat dua instrumen keuangan yang dapat dimanfaatkan fungsinya untuk mendukung tercapainya SDG, yaitu zakat dan wakaf.

Saat ini yang lebih banyak dikenal masyarakat adalah zakat fitrah. Padahal ada zakat Maal atau zakat harta, yang belum terlalu banyak yang membayar dan ada lagi wakaf, sedekah, infaq dan lain sebagainya.

“Terdapat potensi 280 Triliun Rupiah Wajib Zakat dari umat Islam yang ada di Indonesia. Maka peran badan pengelola zakat seperti Badan Zakat Nasional, LAZISNU, LAZISMUH maupun lembaga pengelola zakat lainnya dapat lebih menyosialisasikan definisi ‘Maal’ serta menerapkan pengelolaan zakat yang transparan,” pungkasnya.

Di sisi lain, Harun Al Rasyid MIE PhD menjelaskan konsep ekonomi Islam secara menyeluruh. Bahwa perekonomian dalam konsep Islam sejatinya telah diajarkan oleh Nabi Muhammad SAW.  Beliau dikenal sebagai pedagang yang amanah, seolah mengajarkan pada umatnya bagaimana untuk tidak gampang putus asa dan selalu berikhtiar dalam hidup.

Sebelum mengakhiri paparannya, dosen FEB UNISMA lulusan Jordania ini menuturkan, bahwa Rasulullah mengajarkan pada kita untuk memiliki kemandirian diri, sifat amanah dan kejujuran bahkan sebelum beliau diberikan wahyu kenabian. Ini menunjukkan dan mengajarkan kepada umatnya untuk memiliki jiwa entrepreneur. (dah)

Bagaimana Reaksi Anda?
Like
Love
Haha
Wow
Sad
Angry