Selalu ceria. Salah satu ciri H Fathorrasjid adalah selalu tersenyum. Tampak Kang Fathor, bagitu kadang disapa dalam sebuah acara. (FT/BP Politik)

SURABAYA | duta.co — Innalillahi wainna ilaihi roji’un. Keluarga besar Pengasuh Ponpes Addzikra berkabung. Sejak pagi, Rabu (15/11/2017) kabar duka itu beredar dari grup medsos, bahwa, salah satu tokoh di Situbondo, mantan Ketua DPRD Jawa Timur 2014-2009, H Fathorrasjid, tutup usia.

Pendiri dan Pengasuh Ponpes Addzikra, Kecamatan Arjasa, Situbondo itu menghembuskan nafas terakhirnya di rumahnya, di lingkungan Ponpes Addzikra, Rabu (15/11/2017), setelah lama menderita penyakit komplikasi. Ratusan pelayat dari berbagai kalangan mengiringi pemakaman almarhum di pemakaman keluarga, di dalam komplek Ponpes Addzikra, di Kecamatan Arjasa.

“Almarhum meninggal sekitar pukul 03.45 Wib tadi. Sudah lama menderita penyakit komplikasi. Termasuk gagal ginjal, dan disarankan cuci darah. Tapi almarhum memilih pengobatan akupuntur,” kata H Munir, salah satu menantu almarhum usai pemakaman kepada detikcom.

H Fathorrasjid meninggal pada usia 67 tahun. Ia meninggalkan dua orang puteri (salah satunya juga meninggal dunia) dan seorang putra. Selama masa hayatnya, almarhum dikenal sebagai sosok yang ulet dan gigih dalam perjuangan NU. Perjuangan itu dilakukan almarhum dengan mengabdikan dirinya dalam berbagai bidang. Di bidang pendidikan, almarhum pernah menjadi guru pengajar SMA Ibrahimy Situbondo. Di bidang organisasi keagamaan, almarhum pernah didapuk menjadi pengurus PCNU Situbondo.

Di bidang politik, ia pernah menjabat sebagai Ketua DPRD Jawa Timur. Ia juga intens memperhatikan pembangunan daerah melalui LSM Lembaga Independen Peduli Pembangunan Daerah (LIPPD) yang didirikan.

Setelah ‘pensiun’ dari anggota legislatif, almarhum kembali melanjutkan sisa hidupnya dengan mendirikan Ponpes Addzikra, di Kecamatan Arjasa, hingga akhir hayatnya.  “Almarhum adalah salah satu tokoh pergerakan NU Situbondo. Beliau gigih dan ulet memperjuangkan nilai-nilai ahlus sunnah wal jama’ah. Termasuk dengan mendirikan pesantren ini. Tentu saja kita merasa kehilangan,” tutur KH Zaini, Ketua PCNU Situbondo saat memberi sambutan atas nama keluarga.  (dtc,bdh,bdh)

BAGIKAN

Tinggalkan Balasan