(C) BHTC Some Rights Reserved

JOMBANG | duta.co – Gak pakai lama alias GPL. Pembentukan struktur kepengurusan Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) hasil Muktamar Ke-35 NU ditargetkan rampung paling lama satu bulan. Bahkan Ketua Umum PBNU terpilih KH Abdul Hakim Mahfudz atau Gus Kikin optimis diselesaikan lebih cepat. ”InsyaAllah segera beres, dan langsung kerja,” demikian sumber duta.co, Rabu (2/9/26).

Seperti janji Pimpinan Sidang Pleno V Muktamar Ke-35 NU, Prof Ganefri, bahwa setelah Ketua Umum PBNU ditetapkan, tahapan berikutnya adalah menyusun rencana pelaksanaan formatur. Tim formatur mendapat amanah untuk membentuk struktur kepengurusan dalam waktu paling lama satu bulan. Tim formatur terdiri dari H Abdul Qahar Yelipele mewakili Papua Pegunungan, H Amar Manaf dari Maluku, Prof Mansur Ma’shum mewakili NTB, dan KH Muhammad Wildan Salman dari Kalimantan Selatan. “Gus Kikin sudah perintahkan secepatnya, tidak perlu sebulan,” tambahnya.

Apalagi dalam formatur adalah orang-orang hebat. Ada KH Abdul Ghaffar Rozin mewakili Jawa Tengah, Prof Ganefri mewakili Sumatra, serta tuan rumah KH Abdul Matin Djawahir Tuban. Gus Kikin mengatakan target satu bulan merupakan batas maksimal sehingga tidak menutup kemungkinan penyusunan kepengurusan selesai lebih cepat. “Ya enggak tahu, nanti kita lihat aja. Tapi itu kan target maksimal 1 bulan. Itu kan butuh cepat juga, nanti kita lihat aja. Jadi seharusnyabisa dipercepat,” ujar Gus Kikin kepada wartawan.

Menurutnya, pengisian struktur menjadi pekerjaan awal yang harus diselesaikan sebelum PBNU menjalankan program-program organisasi. “Programnya tetap aja 1 bulan, itu kita ngisi dulu organisasi. Tanpa itu kita bagaimana mau kerja,” ujarnya.

Terkait empat kandidat calon ketum lainnya yang masuk tabulasi, Gus Kikin mengatakan seluruh potensi NU akan diakomodasi dan dioptimalkan. “Itu kita akan coba kita wadahi. Karena itu memang potensi-potensi yang ada itu memang harus kita optimalkan,” katanya.

Bahkan Gus Kikin juga membuka ruang sinergi dengan Kiai Ma’ruf Amin dan elemen politik lainnya. “Betul, betul. Itu memang NU itu didirikan memang sangat inklusif..Jadi kita kembali lagi di sini,” tuturnya.

Ia menekankan pembangunan sumber daya manusia, ekonomi, serta pengelolaan tanah NU dengan merujuk pada Qanun Asasi. “Ada di pembangunan SDM, itu ada di buku Qanun Asasi itu. Nah ini, nanti kita pertimbangkan semuanya supaya semuanya itu nanti bisa berjalan bagus, jadi SDM-nya bagus, dan kemudian yang lain-lain, ekonomi juga itu kita optimalkan, bagaimana ekonomi kita, tanah juga di NU ini,” katanya.

“Jadi buku di situ itu nampak bahwa NU itu di buku itu sangat-sangat inklusif, terbuka. Nah itu nanti ada persyaratannya, bagaimana masuk ke dalam NU, nah di situ itu kita harus bersatu. Kemudian tidak ada kebersamaan, itu inti dari NU,” lanjutanya.

Qanun Asasi Sebagai Pondasi Abad Kedua

Gus Kikin juga mengungkapkan rencana untuk menghidupkan kembali naskah Qanun Asasi karya Hadratussyekh KH Muhammad Hasyim Asy’ari sebagai pedoman perjalanan NU ke depan di abad kedua. Menurutnya, Qanun Asasi merupakan naskah yang ditulis Hadratussyekh Hasyim Asy’ari pada tahun 1926 dan rampung pada tahun 1928 yang pada masanya menjadi roadmap sekaligus pedoman manhaj, fikrah, dan harakah NU. Meskipun naskah tersebut sempat tidak lagi digunakan sejak NU menjadi partai politik pada 1952. Ketika NU kembali ke Khittah 1926 pada 1984 naskah Qanun Asasi yang berhasil ditemukan hanya tersisa satu bab yakni bagian muqodimah atau pembukaannya, sehingga belum bisa dijadikan pedoman utuh bagi kegiatan NU.

“Tahun 1984 NU kembali ke Khittah artinya kembali ke awal didirikannya di tahun 1926. Tapi Qanun Asasi yang ditemukan hanya satu bab, adalah muqaddimah pembukaannya. Dan itu belum bisa dipakai digunakan sebagai pedoman untuk kegiatan-kegiatan NU,” ujarnya.

Ia mengungkapkan tiga tahun lalu pihaknya di Pondok Pesantren Tebuireng berhasil menemukan bab-bab lain dari naskah tersebut yang selama ini hilang yakni Bab 2, Bab 3, dan Bab 4, sehingga dapat dirangkai kembali menjadi satu naskah Qanun Asasi yang utuh. “Tiga tahun yang lalu, alhamdulillah kami di Tebuireng menemukan bab-bab yang selama ini tidak bisa kita dapatkan, Bab 2, Bab 3, Bab 4 akhirnya kita bisa temukan semuanya dan kita rangkai kembali menjadi satu buku, yaitu Qanun Asasi,” kata Cicit Hadratussyekh Hasyim Asy’ari itu.

Pengasuh Pondok Pesantren Tebuireng itu juga menyampaikan harapannya agar naskah yang telah lengkap tersebut dapat kembali dijadikan panduan bagi NU dalam menjalankan berbagai kegiatan ke depan, sebagaimana perannya di masa-masa awal berdirinya NU yang menurutnya berkembang sangat pesat berkat keberadaan Qanun Asasi.

“Buku itulah yang akan menjadikan panduan bagi NU, kegiatan-kegiatan NU di masa yang akan datang. Dulu awal NU berdiri menjadi satu organisasi yang sangat baik, sangat cepat perkembangannya karena ada Qanun Asasi. Nah, oleh karena itu rasanya tidaklah mustahil kalau itu kemudian diimplementasikan lagi di zaman sekarang di mana NU menapaki perjalanannya di abad kedua ini dengan menggunakan Qanun Asasi,” ujarnya.

Gus Kikin berharap semangat Qanun Asasi dapat menumbuhkan kembali persatuan di internal NU, sebagaimana halnya pada masa awal berdirinya organisasi, ketika NU menjadi kekuatan yang diperhitungkan oleh pemerintah kolonial Belanda. “Mudah-mudahan itu arahan-arahan manhaj itu menjadikan semangat kita untuk bersatu itu sangat luar biasa. Itu seperti NU di awal-awal berdirinya, di mana di zaman Belanda NU waktu itu sangat diperhitungkan oleh pemerintah Belanda,” katanya.

Ia menambahkan, dengan modal semangat Qanun Asasi, NU diharapkan dapat terus menggalang persatuan dan ukhuwah serta berkontribusi bagi ketenangan dan kerukunan masyarakat, khususnya di tingkat akar rumput yang menjadi basis massa besar NU. “Paling tidak bagi NU di grassroot-nya ini NU yang punya basis massa cukup besar ini, mudah-mudahan bisa dijadikan masyarakat yang lebih tenang, masyarakat yang lebih guyub, supaya kita semuanya termasuk NU juga nanti ke depan menjadi satu organisasi yang lebih guyub bersatu dengan tujuan yang utama adalah untuk khidmah kepada masyarakat untuk kemaslahatan umat yang kita miliki ini,” pungkasnya. (din, nu.or.id, net)

Bagaimana reaksi anda?
Like
Love
Haha
Wow
Sad
Angry