SURABAYA | duta.co – Pharmacoeconomics, mungkin belum familier di telinga para peneliti dan akademisi.

Namun bisa juga ada penafsiran yang salah dengan kata tersebut bagi orang yang awam.

Namun, Departemen Farmakologi Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga (FK Unair) sudah mulai menggalakkan untuk melakukan penelitian tentang hal tersebut.

Pharmacoeconomics adalah suatu ilmu yang mempelajari apakah suatu obat yang sudah dibeli untuk menyembuhkan itu bisa meningkatkan quality of life dari pasien atau tidak.

Intinya, adalah apakah biaya yang sudah dikeluarkan pasien untuk membeli obat itu sebanding dengan hasil yang didapat atau tidak.

Sehingga di situ ada cost effective analysis dengan tolak ukur quality of life dari pasien. Dengan pengobatan ini bukan sekedar menambah usia panjang pasien tapi usia yang panjang itu bisa memberikan hidup yang berkualitas, tidak menyusahkan orang lain.

Untuk itu, Departemen Farmakologi FK Unair pun mendatangkan ahli di bidang tersebut Prof dr Maarten J Postma PhD dari Department of Pharmacy University of Groningen, Belanda.

Dan penyambutan profesor yang memiliki indeks dunia 44 ini dilakukan di Aula FK Unair, Jumat (22/2).

Dalam paparannya di depan sivitas akademika FK Unair, Prof Maarten mengungkapkan Pharmacoeconomics penting dilakukan para dokter terhadap semua obat-obatan yang ada.

Tujuannya untuk mengukur sejauh mana obat yang diberikan pada pasien berdampak pada perpanjangan usia pasien dan peningkatan kualitas hidupnya.

“Kalau di luar negeri penelitian Pharmacoeconomics sudah pada obat vaksin dan semua jenis obat yang diberikan kepada pasien,” ujar Prof Maarten.

Kepala Departemen Farmakologi FK Unair, Dr dr Arifah Mustika MSi mengakui bahwa di Indonesia hal itu masih belum banyak dilakukan.

Selama ini penelitian Pharmacoeconomics baru pada obat antibiotic. Padahal seharusnya banyak obat yang bisa diteliti terutama obat yang diberikan kepada pasien dengan jangka waktu cukup lama. Misalnya obat diabetes dan tubercolusis (TBC).

“Kita beranjak untuk bisa melakukan penelitian itu. Semoga semua lancar dan bisa berjalan seperti harapan semuanya,” tukasnya.

Karena itu, dikatakan dr Arifah didatangkannya Prof Maarten ke FK Unair ini dalam rangka untuk memberikan pendampingan kepada para mahasiswa baik S1, S2 dan S3 tentang penelitian Pharmacoeconomics ini.

“Sehingga kami bisa melakukannya dan semangat untuk melakukannya,” tukasnya.

Sementara itu, Dekan FK Unair, Prof Dr dr Soetojo, SpU (K) selama ini FK Unair sudah cukup baik melakukan kerjasama dengan kampus-kampus di Belanda.

Apalagi sejarah FK Unair adalah peninggalan Belanda. Sehingga cukup mudah untuk bisa berkolaborasi.

“Kita kirim mahasiswa juga ke University of Groningen untuk PhD dan sejenisnya. Banyak juga yang dari Belanda ke sini. Semua saling berkolaborasi,” tandasnya. end

Bagaimana Reaksi Anda?
Like
Love
Haha
Wow
Sad
Angry