Oleh: Rosichin Mansur*

TERDENGAR sayup suara genderang Pilkada, yang semakin hari semakin keras bunyinya. Suara itu tak lain suara genderang politik yang berbunyi secara periodik. Para kontestan pun siap melangkah untuk mengibarkan benderanya dalam pesta demokrasi di daerahnya. Pesta itu suatu peristiwa yang menarik karena akan dipertontonkan varian-varian strategi pencapaian kemenangan.

Strategi menjadi alat penentu meraih kemenangan dalam pesta demokrasi dan tanpa strategi yang pas sulit mencapai tujuan, meraih kemenanga. Meraih kemenangan suatu impian setiap orang atau kelompok orang yang ingin diwujudkan dengan indah. Strategi politik dengan variannya pun harus dimainkan secara manis untuk dapat menarik simpatisan dan menyisihkan lawan politiknya tanpa setetes darah jatuh di atas bumi pertiwi. Di antara strategi yang ada, strategi terbuka dan strategi tertutup. Strategi terbuka, strategi yang sejalan dengan rambu-rambu aturan politik, etika dikedepankan. Sedangkan strategi tertutup, strategi yang dirahasiakan, (cenderung) keluar dari rambu aturan politik, menghalalkan segala cara, etika pun terlupakan dari kancah politik.

Sejatinya politik merupakan fitrah manusia, manusia  hidup di atas bumi tak bisa lepas dari benang merah kekuasaan dan atau negara karena manusia hidup berdiri di atas lingkaran negara. Dan hakikatnya politik adalah suci (bersih), dan baik tidaknya perjalanan politik itu terletak pada tindakan dan pengalaman manusia; tak ubahnya manusia lahir dalam keadaan suci bersih, tabularasa meminjam istilah John Lock, dan baik tidaknya dalam tumbuhkembang manusia terletak pada pengalamannya. Oleh karenanya perjalanan dan kehidupan politik akan tergantung pada tindakan manusia, khususnya politikus-politikus dalam menggoreskan tinta politiknya, apakah tinta merah, putih, hitam, abu-abu dan atau warna lain yang inginkan digoreskan.

Dunia politik, dunia yang penuh seni, warna dan lika-liku dalam perjalanannya, itulah yang menjadi salah satu daya tarik, sehingga orang atau kelompok orang ingin ikut bermain di dalamanya, lebih dari itu ingin meraih kemenangan dan tak ingin tersisihkan. Kemenangan inilah titik capaian, yang seringkali menggoda seorang atau kelompok orang (yang etikanya terlupakan) untuk melakukan dan menggunakan strategi-strategi atau cara-cara yang cenderung tertutup, kotor, dan menghalalkan segala cara untuk mencapainya.

Machiavelli bangun dari kuburnya dan tersenyum bangga melihat para politikus mengimplementasikan ide-idenya “menghalalkan segala cara” dalam mewujudkan ambisinya untuk meraih kemenangan di panggung politik. Etika terlupakan, etika tak tersentuh sama sekali. Yang dikedepankkan pokoke menang

Konspirasi, transaksi dan kompromi bukan barang baru atau sesuatu yang asing dalam panggung politik sebagai alat, strategi atau cara dalam meraih kemenangan. Ketiganya dilakukan tertutup penuh kerahasiaan sehingga masyarakat umum tidak melihatnya hal itu terjadi. Masyarakat hanya melihat fenomena-fenomena yang terjadi dalam panggung politik. Namun masyarakat bisa jadi memahami apa yang terjadi di balik fenomena tiga hal di atas seperti pelacuran politik, karena kini masayarakat cerdas dan telah melek politik, tetapi masyarakat tidak menghendaki peristiwa kekacauan terjadi yang membawa resiko besar pada masyarakat. Masyarakat pun telah memahami sesuatu itu ada batasnya, sesuatu ada kadarnya dalam kehidupan di dunia fana. Demikian pun ada batasnya dalam membagi dan menikmati kue politik.

Semua warga negara pada dasarnya memiliki hak yang sama untuk berebut kue politik, dan bertanding meraih kursi nomor satu di daerahnya. Tetapi seiring perjalanan waktu terlihat tukang bakso, penjual jamu gendong, sopir taksi, tujang ojek/ojol hanya bertopang dagu dan melihat bendera para kontestan berkibar. Rakyat pinggiran dan atau rakyat kecil hanya menggunakan hak pilihnya, sulit untuk merasakan hak dipilih, karena tak punya kapital, baik kapital finansial atau kapital kekerabatan.

Kapital sangat diperlukan untuk bisa menembus tembok tebal yang membentengi kursi empuk, dan untuk mendapat restu partai yang mengusungnya atau mengusung sendiri. Kapital finansial unlimited sangat menopang dan menentukan untuk melenggang ke kursi nomer satu. Di sisi lain kapital kekerabatan atau kedekatan pun tidak kalah menentukan, bila bukan kerabat dan tidak dekat dengan pengambil kebijakan partai bisa tersisih, bisa ketelikung di tengah jalan walau akar rumput mendukung kuat. Sehingga kedua kapital itu lebih menentukan dibanding keilmuan untuk bisa ikut bertanding meraih kursi nomor satu di daearahnya. Sehingga tak heran kini politik dinasti bersemi kembali di sudut-sudut kota yang dulu pernah dicibirnya.

Kapital yang menentukan dan etika yang terlupakan. Di sinilah kapitalisme telah merasuki jiwa-jiwa yang ingin melenggang ke kursi nomor satu di daerahnya beserta timnya. Sehingga tidak menutup kemungkinan para pemilik kapital, para pemodal ikut bermain dalam pesta demokrasi, yang secara sembunyi melakukan transaksi atau kompromi di luar pagar, konspirasi pun bisa jadi dilakukan untuk memuluskan, mensukseskan jagonya dalam bertanding, etika (Pancasila) terlupakan tak tersentuh anak-anak negeri sendiri.

Etika Pancasila seharusnyalah dikedepankan oleh anak-anak negeri dalam tatanan kehidupan, khususnya dalam pesta demokrasi karena etika itu lahir dari kebudayaan negeri sendiri yang berlandaskan nilai Ketuhanan Yang Maha Esa dan nilai Kemanusiaan yang Adil dan Beradab. Sehingga dalam pesta demokrasi tidak ada nilai dan perbuatan kotor yang mencederai demokrasi. Tidak ada tetes darah anak negeri jatuh di atas bumi pertiwi. Tidak ada pelacuran politik, tidaka ada kampenye hitam, tidak ada kampanye program pokoke menang, tetapi yang ada kampanye program untuk kemajuan dan pembangunan daerahnya serta kesejahteraan masyarakatnya. Masyarakat merindukan kemajuan, kedamain, keadilan dan kesejahteraan sosial.

Etika (akhlak) menjadi fondasi tatanan kehidupan individu dan kehidupan sosial, sehingga etika harus dipupuk, disirami agar terus tumbuhkembang lebih baik dalam jiwa individu dan jiwa sosial anak negeri, serta tidak akan layu kedepannya, karena bila etika layu dan mengering akan bersemi materialisme yang mengusung jiwa-jiwa manusia tak ubahnya batu dan kayu, dan agama adalah candu rakyat. Oleh karena itu jangan ada ruang embrio materialisme untuk tumbuhkembang, jangan sampai bendera materialisme berkibar di bumi pertiwi yang berdasarkan Pancasila, yang sila pertamanya  Ketuhanan Yang Maha Esa. Dengan demikian etika tidak boleh terlupakan, dan etika harus dikedepankan dalam tatanan kehidupan manusia, dan anak-anak negeri tak kenal lelah memperjuangkannya sampai titik kesempurnaan ahklak (etika) manusia. Sang Utusan Tuhan, Muhammad Rosululloh bersabda: “Aku diutus tidak lain untuk menyempurnakan akhlak”. Menyempurnakan akhlak manusia yang multidimensi.

*Penulis adalah Dosen FAI Universitas Islam Malang, Doktor PI Multikultural.

Bagaimana Reaksi Anda?
Like
Love
Haha
Wow
Sad
Angry