Oleh: Muhammad Syaikhon

DALAM pembahasan filsafat, epistemologi dikenal sebagai sub sistem dari filsafat yang meliputi epistemologi, ontologi dan aksiologi. Epistemologi adalah teori pengetahuan yang membahas bagaimana cara mendapatkan pengetahuan dari objek yang ingin dipikirkan.

Ontologi adalah teori tentang “ada”, yaitu tentang apa yang dipikirkan, yang menjadi objek pemikiran. Sedangkan aksiologi adalah teori tentang nilai yang membahas tentang manfaat, kegunaan maupun fungsi dari objek yang dipikirkan.

Karena itu, ketiga sub sistem ini biasanya disebutkan secara berurutan, mulai dari ontologi, epistemologi, kemudian aksiologi. Dengan gambaran yang sederhana dapat dikatakan ada sesuatu yang perlu dipikirkan (ontologi), lalu dicarikan cara-cara memikirkannya (epistemologi), kemudian muncul hasil pemikiran yang memberikan suatu manfaat atau kegunaan (aksiologi).

Dalam epistemologi Islam, ilmu pengetahuan bisa dicapai melalui tiga elemen; indra, akal, dan hati. Indra untuk metode observasi (bayānī), akal untuk metode logis atau demonstrative (burhānī), dan hati untuk metode intuitif (‘irfānī).

Dengan panca indra, manusia mampu menangkap obyek-obyek indrawi, dengan menggunakan akal manusia dapat menangkap obyek-obyek spiritual (ma’qūlāt) atau metafisik secara silogistik, yakni menarik kesimpulan tentang hal-hal yang tidak diketahui dari hal-hal yang telah diketahui.

Dengan cara inilah akal manusia, melalui refleksi dan penelitian terhadap alam semesta, dapat mengetahui Tuhan dan hal-hal gaib lainnya. Melalui metode intuitif atau eksperensial (dzauq) sebagaimana dikembangkan kaum sufi dan filosof iluminasionis (isyrāqiyah), hati akan mampu menangkap obyek-obyek spiritual dan metafisik.

Antara akal dan intuisi, meskipun sama-sama mampu menangkap obyek-obyek spiritual, keduanya memiliki perbedaan fundamental secara metodologis dalam menangkap obyek-obyek tersebut. Akal menangkapnya secara inferensial, sementara intuisi menangkapnya secara langsung.

Bayani adalah metode pemikiran khas Arab yang didasarkan atas otoritas teks (nash), secara langsung atau tidak langsung. Secara langsung artinya memahami teks sebagai pengetahuan jadi dan langsung mengaplikasikan tanpa perlu pemikiran; secara tidak langsung berarti memahami teks sebagai pengetahuan mentah sehingga perlu tafsir dan penalaran.

Pengetahuan irfani tidak didasarkan atas teks seperti bayani, tetapi pada kasyf, tersingkapnya rahasia-rahasia realitas oleh Tuhan. Karena itu, pengetahuan irfani tidak diperoleh berdasarkan analisa teks tetapi dengan olah ruhani, dimana dengan kesucian hati, diharapkan Tuhan akan melimpahkan pengetahuan langsung kepadanya. Masuk dalam pikiran, dikonsep kemudian dikemukakan kepada orang lain secara logis.

Berbeda dengan bayani dan irfani, burhani menyandarkan diri  pada kekuatan rasio, akal, yang dilakukan lewat dalil-dalil logika. Perbandingan ketiga epistemologi ini adalah bahwa bayani menghasilkan pengetahuan lewat analogi furû` kepada yang asal, irfani menghasilkan pengetahuan lewat proses penyatuan ruhani pada Tuhan dan burhani menghasilkan pengetahuan melalui prinsip-prinsip logika atas pengetahuan sebelumnya yang telah diyakini kebenarannya.

Dalam epistemologi Barat, pengetahuan ilmiah hanya bisa diraih melalui indra dan akal (bukan hati). Penggunaan indra dan akal ini telah melahirkan dua aliran, yakni Rasionalisme dan Empirisme. Rasionalisme yang dipelopori Rene Descartes (1596-1650) berpandangan bahwa sumber pengetahuan yang dipandang memenuhi syarat ilmiah adalah akal budi.

Akal merupakan satu-satunya sumber pengetahuan yang benar. Pengetahuan yang diperoleh melalui akal tidak mungkin salah. Sementara itu empirisme berpendapat bahwa sumber satu-satunya pengetahuan manusia adalah pengalaman indrawi, yakni pengalaman yang terjadi melalui panca indra.

Panca indra memainkan peranan penting dibanding akal budi karena semua proposisi yang diucapkan manusia merupakan hasil laporan dari pengalaman, manusia tidak memiliki konsep atau ide apapun tentang sesuatu kecuali yang didasarkan pada apa yang diperoleh dari pengalaman, dan akal budi hanya bisa berfungsi apabila memiliki acuan ke realitas atau pengalaman.

Konflik antara pendukung rasionalisme dan empirisme akhirnya bisa didamaikan oleh Immanuel Kant dengan melakukan sintesis terhadap keduanya, yang kemudian disebutkan dengan kritisisme atau rasionalisme kritis. Menurut Kant pengetahuan manusia diperoleh dari pancaindra dan akal budi. Semua pengetahuan manusia tentang dunia bersumber dari pengalaman indrawi, namun akal budi ikut menentukan bagaimana manusia menangkap fenomena di sekitarnya. Semoga bermanfaat.

* Dosen Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP)

Bagaimana Reaksi Anda?
Like
Love
Haha
Wow
Sad
Angry