SUKSES: Ikramullah berada di ladang Melon Golden miliknya dan siap panen (duta.co/habib)

PAMEKASAN | duta.co -Sebagian masyarakat pamekasan menganggap harga tembakau saat sudah tidak menjanjikan seperti dulu. Untuk itu, sebagian petani pamekasan beralih menanan Melon Golden. Seperti yang dilakukan Perhimpunan Petani Muda Pamekasan di Dusun Cengkareng, Desa Cenlecen, Kecamatan Pakong, dengan membuka usaha pertanian melon jenis Golden Alissa.

“Kita mencoba selain tembakau dan Alhamdulullah sukses, setiap kali panen kami mampu meraup keuntungan hingga Rp 20 juta,” kata Ketua Perhimpunan Petani Muda Pamekasan, Ikramullah, Jumat (8/8).

Awalnya, kata Ikramullah, melon jenis Golden Alissa yang berasal dari daerah Purwakarta, Jawa Barat tersebut kami bawa bibit melonnya dibawa untuk ditanam. Untuk mengetahui kualitas melon tersebut serta gejala penyakitnya, Ikram melakukan penanaman percobaan pada November tahun 2018 lalu.

“Awalnya menanam sedikit menggunakan pot. Setelah itu baru saya pindah ke lahan dan Alhamdulillah hasilnya terbilang sukses dan memuaskan,” ungkapnya.

Sejak saat itu dirinya mulai serius menggarap lahan untuk menanam melon jenis Alissa dari bulan Mei 2019 lalu. Ia menggunakan trik khusus dengan meminjam cultivator cakar baja agar menghasilkan tanah yang gembur serta menggunakan kapur pertanian agar menaikkan PH (kadar keasaman) tanah.

“Karena kebetulan untuk tanaman melon ini kita butuh PH tanah minimal 6 hingga 7. Sedangkan PH tanah disini hanya 5,” terangnya.

Untuk modal awalnya, Ikram memgaku mengeluarkan modal Rp 11 juta. Uang tersebut untuk membeli bibit sebanyak empat pak, masing-masing pak seharga 650.000, berikut biaya perawatan dan penggarapan lahan, pengobatan serta pemupukan.

“Kita juga belajar dari internet. Dan akhir Juli 2019 kemarin, kami panen pertama sebanyak 3,8 ton. Panen pertama terjual hingga Rp 20 juta. Dibanding tembakau, tentu lebih besar untung tanam melon,” tambahnya.

Dari panen tanam melon tersebut, dihasilkan buah yang terdiri dari empat kelas. Untuk Kelas tertinggi dipatok dengan harga, Rp 10.000 per kilogram (kg). Sementara kelas paling bawah seharga Rp 4.000 per kg.

“Kita jual melon ini ke Bali, bukan di Madura karena di sana lebih menjanjikan harganya,” kata Ikram saat ditemui di ladang.

Sementara, petani muda lainnya, Abdul Basir berharap agar jerih payah dari kelompok petani bisa mendapat perhatian dari Pemkab Pamekasan. Pasalnya, saat ini para petani lokal membutuhkan alat pertanian yang lebih canggih.

“Semoga ada perhatian baik itu suntikan dana atau alat-alat pertanian supaya pemuda di desa kami lebih giat dan lebih bersemangat sehingga bisa berkreasi dan mandiri mengembangkan Melon Golden,” harap Basir. (bib)

 

 

Bagaimana Reaksi Anda?
Like
Love
Haha
Wow
Sad
Angry