SURABAYA | duta.co –  Enam mahasiswa Universita Bhayangkara Surabaya (Ubhara) akan berangkat ke Thailand untuk menempuh pendidikan selama dua semester atau satu tahun di Raja Mangala University of Technology Thanyaburi (RMUTT). Ini merupakan program kerjasama antara Ubhara dengan universitas tersebut yang sudah berlangsung sejak tujuh tahun lalu.

Enam mahasiswa itu, empat di antaranya berasal dari Fakultas Teknik dan dua dari Fakultas Ekonomi. Mereka adalah Renza Ilhami Rizki, Deo Istiandi, Nurul Azizah dan Nurul Hidayah dari Fakultas Teknik. Sedangkan Surya Ramadhani dan Siti Zaenab berasal dari Fakultas Ekonomi.

Senin (19/6), dengan didampingi orang tua masing-masing mereka diberi pembekalan sekaligus pelepasan di kampus Ubhara Jalan Ahmad Yani Surabaya. Walau berangkatnya masih di Juli dan Agustus, pembekalan terus dilakukan mulai jauh-jauh hari.

Mereka adalah mahasiswa semester enam yang nantinya semester akhir perkuliahan dilakukan di RMUTT. Nantinya dari kampus itu mereka akan mendapatkan sertifikat khusus yang berguna bagi kelanjutan studi dan karier mahasiswa ke depannya.

Tidak mengherankan jika keenam mahasiswa ini sangat antusias untuk berangkat. Padahal, program di tahun ini berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya. Di mana tidak semua kebutuhan kuliah dan biaya hidup akan ditanggung kampus.

Untuk biaya kuliah, enam mahasiswa ini diberikan secara gratis. Sementara untuk biaya hidup hanya ditanggung selama sepuluh bulan. Sedangkan empat bulan sisanya, mahasiswa yang harus menanggungnya sendiri ditambah tiket Surabaya ke Thailand dan sebaliknya.

Salah satu mahasisw Deo Istiandi, mengaku senang bisa mendapatkan kesempatan kuliah di luar negeri. Sehingga menanggung biaya hidup dan tiket PP tidak dirasakannya berat. Apalagi, dia sudah menyiapkan dana itu sendiri dari hasil bekerja di sebuah perusahaan boiler.

“Saya ini kuliah sambil bekerja. Sejak lulus SMK sudah bekerja. Karenanya ketika ada kesempatan ikut program kerjasama kuliah di Thailand saat manfaatkan. Karena kesempatan ini sangat langka dan tidak akan datang dua kali. Saya rela resign dari perusahaan lo untuk bisa kuliah di Thailand. Saya sudah niat ke sana. Karena saya yakin kalau ilmu bertambah tinggi, pekerjaan akan menyesuaikan,” jelasnya.

Senada dengan Deo, Surya Ramadhani dari Fakultas Ekonomi mengaku juga memanfaatkan kesempatan yang ada untuk bisa berkuliah di luar negeri. Karena kuliah di luar negeri adalah sebuah kebanggaan tersendiri baginya. “Alhamdulillah orang tua mendukung. Itu yang penting,” tukasnya.

Peran orang tua sangat penting untuk menyukseskan program ini. Karena diakui Ketua Bidang Kerjasama Ubhara, Rifki Fahrizal. Mengatakan, kalau dulu dengan adanya kerjasama penyediaan beasiswa dari  BPKLM, mahasiswa yang berangkat ke Thailand tidak perlu lagi mengeluarkan dana sendiri. Semua sudah ditanggung. Namun, sejak BPKLM memberikan beasiswa per seroangan tanpa melibatkan lembaga, akhirnya mahasiswa harus dikenakan biaya-biaya tambahan semisal biaya hidup.

“Akhirnya sekarang s eleksi kami perketat. Ada psikotes dan ada surat perjanjian komitmen untuk melanjutkan kuliah di sana hingga selesai. Tidak boleh pulang kalau belum satu tahun,” tandas Rifki Fahrizal. (end)

BAGIKAN

Tinggalkan Balasan