
SURABAYA | duta.co – Bank Indonesia (BI) terus berkomitmen untuk mengembangkan dan mendukung transformasi ekonomi syariah. BI memiliki enam inisiatif strategis sebagai bentuk nyata komitmen tersebut.
Hal itu dikatakan Kepala Departemen Ekonomi dan Keuangan Syariah BI, Imam Hartono saat pembukaan Festival Ekonomi Syariah (FeSyar) Regional Jawa di Marwah Ballroom, Masjid Al Akbar Surabaya, Jumat (12/9/2025). “Transformasi ekonomi syariah ini menuju Indonesia emas pada 2045 mendatang,” katanya.
Inisiatif pertama adalah Gerbang Santri atau Gerakan Pengembangan Pesantren. Di sini, pesantren bukan hanya sebagai pusat ilmu tetapi juga pusat ekonomi umat. Pesantren dapat mengembangkan koperasi syariah, digitalisasi usaha santri sehingga menjadi bagian dari rantai nilai halal.
Kedua adalah Jawara Ekspor atau Jaringan Wirausaha Syariah Mendorong Ekspor. Potensi produk olahan kayu, kopi, ikan, produk manufaktur memiliki peluang di pasar global. Jawara ekspor membuka akses pasar internasional, memperkuat branding dan menciptakan UMKM halal agar bisa go global.
Inisiatif ketiga adalah Gerakan Berjamaah Akselerasi Halal atau Gema Halal. Dikatakan Imam, hingga kini banyak produk yang belum tersertifikasi halal. Dengan Gema Halal akan mempercepat sertifikasi, memperkuat peran halal center di daerah dan memastikan ketersediaan bahan baku halal. Serta bisa memberi peluang pasar UMKM ke pasar global.
Inisiatif keempat adalah Sapa Syariah atau Sinergi Perdagangan dan Pembiayaan Syariah. Sapa Syariah memfasilitasi koneksi antara pelaku usaha dengan lembaga keuangan syariah. Pembiayaan syariah yang lebih mudah untuk petani, nelayan dan UMKM sekaligus memperdalam pasar uang dan pasar keuangan syariah agar lebih efisien.
Inisiatif kelima adalah Zizwaf atau zakat, infaq, shodaqoh dan wakaf. Ziswaf sebagai dana sosial syariah bisa menjadi kekuatan ekonomi umat. Dana ini bisa dikelola dengan modern dan produktif misalnya membiayai usaha seperti membangun sekolah, klinik atau mendanai usaha mikro.
Inisiatif keenam adalah Lentera Emas yakni Literasi dan Eksklusi Ekonomi Syariah Menuju Indonesia Emas. Ini bisa memperluas edukasi ke sekolah, kampus, pesantren hingga ruang digital. Dengan literasi yang lebih luas, masyarakat akan semakin percaya, berpartisipasi dalam ekosistem halal global.
“Enam inisiatif ini adalah strategi bersama untuk memperbanyak penumpang di kendaraan Ekstar, memperluas pembiayaan inklusif dan mempercepat literasi ekonomi syariah,” jelasnya.
Jawa Timur sebagai Embrio Eksyar
Jawa Timur menjadi daerah yang pertama kali menumbuhkan ekonomi syariah. Melalui Indonesia Shari’a Festival (ISEF) yang digelar pada 2014 lalu. Lalu berjalan hingga 2018. Pada 2019 ISEF diambil alih BI Pusat dan digelar di Jakarta. Lalu di Jawa Timur digelar Festival Ekonomi Syariah (FeSyar). BI menggelarnya di tiga regional di Indonesia setiap tahunnya. Di Jaw Timur untuk wilayah Jawa. Di Sumatra untuk wilayah se Pulau Sumatra dan di wilayah Timur digelar bergantian sesuai kesiapan daerah.
“Hanya di regional Jawa yang tuan rumahnya tidak pernah berganti, yakni di Jawa Timur terus. Karenanya Jawa Timur yang mengawali gelaran ekonomi syariah ini,” kata Imam.
Selain itu alasan kedua adalah Jawa Timur memiliki pesantren terbanyak di Indonesia. Sekitar 4.450 pesantren dengan jumlah santri mencapai 566 ribu santri. Jatim juga menjadi pusat pendidikan pesantren terbesar di Indonesia.
Alasan ketiga saat ini Jawa Timur menjadi penyumbang kedua terbesar perekonomian Jawa dengan kontribusi mencapai sekitar 25% di bawah sedikit DKI Jakarta.
Jatim memiliki potensi besar dalam meningkatkan pertumbuhan ekonomi dan kesejahteraan masyarakat melalui pengembangan industri manufaktur yang menjadi andalan dan komoditas unggulan yang dimiliki seperti besi, tembaga, tekstil, kayu, ikan, udang dan lainnya.
Alasan keempat adalah potensi pariwisata dari alam, religi hingga budaya. kawah Ijen dan Bromo adalah dua wisata alam yang sangat terkenal.
Sementara itu Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia (KPwBI) Jawa Timur, Ibrahim menambahkan BI Jatim memiliki tiga pilar untuk pengembangan ekonomi dan keuangan syariah. Yakni Penguatan ekosistem produk halal, Penguatan keuangan syariah dan Penguatan literasi inklusi can halal lifestyle
“Ini adalah gerakan sinergi atau kolaborasi bersama agar ekonomi dan keuangan syariah bisa tumbuh dan berkembang ke depannya,” jelasnya.
Gubernur Khofifah dalam kesempatan yang sama mengungkapkan Jawa Timur siap dan selalu berkomitmen untuk mengembangkan perekonomian dan keuangan syariah di Indonesia.
“Salah satu yang kami lakukan dengan membicarakan dengan rektor di beberapa kampus agar bisa mencetak tenaga ahli di bidang Islamic Finance,” ungkapnya.
Selain itu Jatim juga berupaya untuk melakukan sertifikasi dan pembinaan terhadap Juru Sembelih Halal atau Juleha di seluruh Rumah Pemotongan Hewan (RPH). Serta bisa beberapa langkah strategis lainnya demi kemajuan ekonomi dan keuangan syariah di Jawa Timur dan Indonesia serta dunia.
FeSyar Regional Jawa ini akan digelar selama tiga hari 12-14 September 2025 di Masjid Al Akbar Surabaya dan beberapa lokasi lain di Surabaya. Ada banyak kegiatan selama berlangsungnya kegiatan ini, mulai bazar pelaku UMKM binaan BI di seluruh Jawa, Business Matching, Fashion Show hingga talkshow serta pengajian akbar. lis






































