
SURABAYA | duta.co – Menteri Sosial (Mensos) Syaifullah Yusuf (Gus Ipul) mengundang seribu siswa Sekolah Rakyat di Graha Unesa, Senin (29/12/2025).
Siswa yang diundang dari jenjang SD, SMP dan SMA. Tidak hanya siswa, tapi Mensos mengundang juga kepala sekolah, pembimbing asrama hingga orang tua. Bahkan kepala daerah di mana SR dibangun, juga turut hadir.
SR sudah berdiri di 166 kabupaten/kota di seluruh Indonesia. Ada tiga jenjang pendidikan yakni SD, SMP dan SMA yang jumlahnya total 1.000 siswa.
Target tahun depan, pemerintah akan membangun 104 SR lagi. “Targetnya satu kabupaten/kota punya satu Sekolah Rakyat, dan siswanya minimal harus 1.000 dari tiga jenjang itu. Kalau setiap kabupaten/kota punya satu Sekolah Rakyat maka ada 500 siswa bisa sekolah,” kata Mensos.
Dikatakan Gus Ipul, siswa yang berhak untuk sekolah di SR itu harus memenuhi syarat masuk. Tes kesehatan dilakukan karena SR ini menerapkan sistem boarding seperti pondok pesantren. “Dulu sebelum masuk, banyak yang sering ngantuk, gigi rusak, gizi buruk dan sebagainya. Pelan-pelan kita perbaiki dan sekarang semua sehat,” ujarnya.
SR ini akan berjenjang. Bagi yang sudah di tingkat SD bisa melanjutkan SMP di tempat yang sama. Begitupun yang lulus SMP bisa lanjut di SR yang sama atau ikut tes ke sekolah Garuda.
Dan bagi yang lulus SMA bisa meneruskan kuliah dengan beasiswa yang disiapkan pemerintah. “Bagi yang ingin kerja nanti dibekali keahlian agar bisa menjadi tenaga kerja terampil baik di dalam negeri maupun luar negeri,” tuturnya.
Walikota Surabaya,Eri Cahyadi mengaku sudah menyiapkan lahan. Namun lahan 6 hektar yang diisyaratkan Kemensos tidak bisa dipenuhi dalam satu lokasi. “Lokasinya berseberangan. Satu seluas 4 hektar dan satunya 2 hektar. Di Surabaya sulit mendapatkan lahan seluas itu,. Kata Kemensos tidak masalah nanti dibangun jembatan,” ungkapnya.
Bupati Gresik, Fandi Akhmad Yani juga menyanggupi lahan 6 hektar di Gresik untuk dibangun SR. “Siap, sudah kami siapkan lahannya,” tandasnya.
Dua anak kembar yang saat ini duduk di bangku SMP Sekolah Rakyat di Batu,
Love Sebening Wahid dan Love Sebening Isnani mengaku betah ada di SR Batu. Dia tidak ingin kembali pulang ke rumahnya. “Saya ingin jadi dokter makanya saya harus sekolah,” kata keduanya kompak.
Evaluasi Program
Ketua Formatur Sekolah Rakyat, Prof Mohammad Nuh mengatakan enam bulan atau satu semester beroperasi, saatnya untuk mengevaluasi pelaksanaan program prioritas pemerintah ini.
“Kita evaluasi ide dasarnya, pelaksanannya seperti apa, capaiannya seperti apa. Ini konsolidasi pelaksanaan ke depannya,” ungkap Prof Nuh.
Dikatakan Prof Nuh, ada tiga aspek yang dievaluasi. Yakni aspek fisik dan kesehatan siswa, aspek psikososial dan talenta dan aspek akademik.
Untuk aspek fisik dan kesehatan siswa dengan memetakan kondisi sebelum masuk dan setelah enam bulan di SR perubahan apa yang terjadi pada siswa. “Ini penting karena saat sebelum masuk kondisi kesehatan kurang baik. Karena kita tes kesehTan mata, gigi dan kesehatan lainnya. Itu yang kita evaluasi, selama enam bulan ini bagaimana perubahan itu,” jelasnya.
Untuk aspek psikososial dan talenta, akan dievaluasi talenta yang dimiliki anak. Talenta itu akan dikembangkan. Sementara untuk aspek akademik tentu dengan mengevaluasi kemampuan siswa selama di sana. Dari yang semula tidak bisa baca tulis misalnya menjadi bisa baca tulis dan sebagainya. “Insya Alloh nanti Januari 2026 nilai evaluasi itu akan keluar,” tandas Prof Nuh.
Prof Nuh menegaskan SR ini sangat mulia. Dengan SR harta terakhir kaum miskin dan duaffa yakni asa dan harapan menjadi bisa ditumbuhkan. SR mengurangi keputusasaan keluarga miskin duaffa.
“Program ini menjadikan sesuatu yang tidak mungkin menjadi mungkin dan menjangkau yang tidak terjangkau,” tukasnya. lis





































