
SURABAYA | duta.co — Kepala Lembaga Layanan Pendidikan Tinggi (LLDIKTI) Wilayah VII Jawa Timur, Prof Dr Dyah Sawitri, S.E., M.M menghadiri prosesi wisuda ke-133, Universitas 17 Agustus 1945 (Untag) Surabaya, Sabtu (22/8/2026).
Prof Dyah memberikan ucapan selamat sekaligus menyampaikan empat pesan strategis bagi 1.958 wisudawan jenjang S1, S2 dan S3.
“Lulusan harus siap untuk terjun ke dunia kerja maupun menciptakan lapangan kerja baru yang berdampak positif bagi masyarakat,” ujarnya.
Empat hal yang ditekankan Prof Dyah yakni Pengecekan Data PDDikti. Di mana wisudawan diimbau memastikan status kelulusan di portal PDDikti agar ijazah terintegrasi secara resmi di kementerian dan siap digunakan.

Kedua adalah pengisian tracer study. Wisudawan diminta aktif mengisi tracer study guna mendukung pemetaan mutu pendidikan tinggi dan proses perbaikan berkelanjutan (continuous improvement).
Ketiga pengembangan diri dan kolaborasi. Lulusan diharapkan mampu menjadi agen perubahan (agent of change) dengan mengoptimalkan ilmu, keterampilan, serta membangun komunikasi dan kolaborasi yang solid.
Keempat integritas berbasis hati. Prof Dyah mengatakan dalam berkarir, wisudawan diimbau untuk selalu mengedepankan etika, kejujuran, dan integritas.
Standar Mutu dan Arah Pendidikan Tinggi
Prof Dyah juga menegaskan bahwa perguruan tinggi swasta (PTS) seperti Untag Surabaya terus didorong untuk memenuhi standar global dengan tetap mempertahankan kearifan lokal.
Hal ini sejalan dengan regulasi Permendikbudristek Nomor 39 Tahun 2025 dan Nomor 10 Tahun 2026 yang menekankan Tridharma perguruan tinggi berdampak.
Capaian indikator kinerja utama (IKU 1 hingga IKU 4) menjadi acuan penting dalam melahirkan lulusan bertalenta, sekaligus mendukung pencapaian Asta Cita ke-4 Pemerintah dalam mewujudkan SDM unggul menuju Indonesia Emas.
Sebuah Tanggung Jawab
Harjo juga menyampaikan penghargaan dan terima kasih kepada orang tua, keluarga, dosen, tenaga kependidikan, serta seluruh pihak yang telah mendampingi perjalanan para wisudawan hingga hari ini.
Dukungan, doa, dan kepercayaan yang diberikan menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari keberhasilan para wisudawan.
“Momentum ini bukan sekadar penanda berakhirnya masa studi, melainkan awal dari sebuah tanggung jawab baru. Apa yang telah dipelajari di ruang-ruang perkuliahan, akan menemukan maknanya ketika diwujudkan dalam tindakan, keputusan, dan karya yang memberikan manfaat bagi masyarakat,” ungkapnya.
Diakui Harjo, di masa perubahan berlangsung semakin cepat, perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, transformasi digital, kecerdasan buatan, hingga dinamika sosial dan ekonomi global menghadirkan berbagai peluang sekaligus tantangan yang tidak sederhana.
Dalam situasi seperti ini, perguruan tinggi tidak cukup hanya melahirkan lulusan yang menguasai bidang keilmuannya. Perguruan tinggi juga memiliki tanggung jawab untuk membentuk insan yang mampu berpikir kritis, adaptif terhadap perubahan, siap berkolaborasi, serta memiliki integritas dalam setiap peran yang dijalankannya.
“Atas dasar pemikiran tersebut, Untag Surabaya mengangkat tema Wisuda tahun ini, “Berkarya untuk Bangsa, Berdampak bagi Dunia.”
Tema ini bukan sekadar tema penyelenggaraan wisuda, melainkan cerminan dari keyakinan kami tentang makna pendidikan tinggi. Universitas tidak hanya bertugas menghasilkan ilmu pengetahuan, tetapi juga menumbuhkan kemampuan untuk mengubah ilmu tersebut menjadi karya yang memberi manfaat,” tuturnya.
Berbicara tentang kontribusi pada tingkat global, tidak selalu harus dimulai dari panggung internasional. Banyak perubahan besar justru berawal dari kepedulian terhadap persoalan di sekitar kita, namun berdampak bagi dunia.
Pada wisuda kali ini, Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya meluluskan sebanyak 1958 wisudawan, yang terdiri atas 2 Wisudawan Diploma dari 1 program studi, 1.630 lulusan Program Sarjana Strata Satu dari 16 program studi; 1.66 lulusan Program Magister Strata Dua dari tujuh program studi, 89 lulusan Program Profesi Insinyur dan Psikolog serta 70lulusan Program Doktor Strata Tiga dari tiga program studi.
Peduli Korban Gempa NTT
Di momen wisuda ini, Untag Surabaya juga memberikan dukungan kepada mahasiswa asal Nusa Tenggara Timur yang terdampak bencana.
Hal itu melalui kebijakan yang adaptif, berupa relaksasi pembayaran uang pendidikan, relaksasi administrasi akademik bagi mahasiswa yang membutuhkan, dukungan layanan konseling psikososial. Tidak hanya itu, Untag Surabaya ajuga memghimpun bantuan dana dan kebutuhan logistik.
“Kami berharap berbagai bentuk dukungan ini dapat membantu meringankan beban para mahasiswa dan keluarganya, sehingga mereka tetap memiliki kekuatan dan kesempatan untuk melanjutkan proses pendidikan dengan baik,” kata Harjo. ril/lis




































