CATATAN PINGGIR

Dr. ROMADLON SUKARDI, MM*

DI tengah revolusi industri 4.0, transformasi digital, dan disrupsi kecerdasan artifisial (Artificial Intelligence/AI), kekuatan suatu bangsa tidak lagi hanya diukur dari melimpahnya sumber daya alam, tetapi dari kemampuannya melahirkan sumber daya manusia yang unggul, adaptif, inovatif, dan berdaya saing global. Karena itu, kemenangan yang sesungguhnya bukan sekadar meraih medali, melainkan membangun ekosistem pendidikan yang secara konsisten menghasilkan talenta kelas dunia. Empat kali berturut-turut Jawa Timur dinobatkan sebagai Juara Umum Lomba Kompetensi Siswa (LKS) Nasional menjadi penanda bahwa di bawah kepemimpinan Gubernur Khofifah Indar Parawansa, Jawa Timur tidak hanya mencetak juara, tetapi sedang membangun pusat peradaban vokasi Indonesia (Center of Excellence for Future Skills) yang akan menjadi fondasi kuat menuju Indonesia Emas 2045.

Empat kali berturut-turut menjadi Juara Umum Lomba Kompetensi Siswa (LKS) Nasional bukanlah peristiwa biasa. Ia adalah jejak panjang dari sebuah ekosistem kepemimpinan yang bekerja secara konsisten, visioner, dan berkelanjutan. Prestasi ini membuktikan bahwa Jawa Timur tidak sekadar memenangkan kompetisi, tetapi sedang membangun future talent ecosystem yang menyiapkan generasi unggul untuk menghadapi era kecerdasan buatan (Artificial Intelligence), ekonomi digital, green industry, dan persaingan global abad ke-21.

Keberhasilan Jawa Timur mempertahankan gelar Juara Umum LKS Nasional 2026 untuk keempat kalinya merupakan buah dari kepemimpinan Ibu Gubernur Khofifah Indar Parawansa yang bercorak transformatif, inovatif, kreatif, progresif, adaptif, dan berkelanjutan. Kepemimpinan beliau tidak berhenti pada pengelolaan birokrasi, tetapi mampu mengubah paradigma pendidikan dari sekadar menghasilkan lulusan menjadi membangun manusia unggul yang siap menjadi pemain utama di panggung dunia.
Dalam perspektif kepemimpinan modern, keberhasilan ini lahir karena Khofifah membangun pendidikan vokasi melalui pendekatan ekosistem. Sekolah tidak berjalan sendiri, melainkan dipertemukan dengan dunia usaha, dunia industri, dunia kerja (DUDIKA), perguruan tinggi, lembaga sertifikasi, pemerintah, hingga jejaring internasional. Inilah implementasi nyata konsep link and match yang tidak berhenti pada slogan, tetapi benar-benar menghasilkan lulusan yang kompeten dan terserap dunia kerja.

Yang menarik, keberhasilan ini juga menunjukkan kemampuan beliau membaca perubahan zaman. Ketika dunia bergerak menuju era digital dan *Artificial Intelligence*, Jawa Timur telah menyiapkan siswa-siswinya untuk menguasai bidang-bidang strategis tersebut. Bahkan perhatian beliau terhadap talenta *Cyber Security* hingga mendorong lahirnya beasiswa menuju jenjang internasional menunjukkan bahwa beliau berpikir jauh melampaui satu periode kepemimpinan. Beliau sedang menyiapkan investasi sumber daya manusia untuk puluhan tahun ke depan.

Kepemimpinan seperti ini bukan sekadar mengejar prestasi, tetapi membangun peradaban kompetensi. Sebab ukuran kemajuan suatu daerah pada masa depan bukan lagi ditentukan oleh kekayaan sumber daya alam, melainkan oleh kualitas sumber daya manusianya. Jawa Timur sedang bergerak dari resource-based economy menuju knowledge-based economy.

Keberhasilan menurunkan angka pengangguran lulusan SMK sekaligus meningkatkan penyerapan tenaga kerja menunjukkan bahwa kebijakan pendidikan Jawa Timur semakin presisi. Kurikulum disesuaikan dengan kebutuhan industri, program magang diperluas, kemitraan diperkuat, dan kompetensi terus ditingkatkan. Pendidikan tidak lagi menghasilkan pencari kerja, tetapi melahirkan pencipta nilai (value creator) yang mampu bersaing secara global.

Lebih dari itu, perhatian Gubernur Khofifah kepada seluruh peserta, termasuk mereka yang belum memperoleh medali, memperlihatkan dimensi kepemimpinan yang humanis. Beliau memahami bahwa setiap anak memiliki potensi untuk bertumbuh. Menghargai proses sama pentingnya dengan merayakan hasil. Di sinilah kepemimpinan bertemu dengan pendidikan karakter.

Empat kali Juara Umum LKS Nasional akhirnya menjadi lebih dari sekadar deretan medali emas. Ia adalah simbol bahwa Jawa Timur telah berhasil membangun budaya mutu, budaya kompetisi yang sehat, budaya inovasi, dan budaya belajar tanpa henti. Prestasi bukanlah tujuan akhir, melainkan konsekuensi dari sistem yang dikelola dengan baik.

Pada akhirnya, sejarah akan mencatat bahwa di bawah kepemimpinan Khofifah Indar Parawansa, Jawa Timur tidak hanya dikenal sebagai lumbung pangan dan pusat industri nasional, tetapi juga sebagai barometer pendidikan vokasi Indonesia serta salah satu laboratorium pembangunan sumber daya manusia yang paling progresif di negeri ini.

Karena sesungguhnya, pemimpin besar tidak hanya membangun jalan, gedung, dan infrastruktur. Pemimpin besar membangun manusia. Dan ketika manusia unggul berhasil dibangun secara sistematis, sesungguhnya ia sedang membangun peradaban yang akan melampaui zamannya.(*)

Bagaimana reaksi anda?
Like
Love
Haha
Wow
Sad
Angry