Calon Wakil Gubernur Jawa Timur, Emil Elestianto Dardak didampingi istri, Arumi Bachsin, saat acara Cangkruk Bersama Zulhasan di Hotel Ja’as Trenggalek, Selasa (24/04/2018). (DUTA.CO/MILA)

TRENGGALEK | duta.co – Calon Wakil Gubernur Jawa Timur, Emil Elestianto Dardak menepis sekaligus memberikan pesan-pesan moral tentang isu-isu yang sedang berhembus, salah satunya tentang pencalonan dirinya yang dianggap sebagai penghianatan.

Doktor termuda ini menjelaskan, salah satu tekadnya adalah memajukan Kabupaten Trenggalek di segala bidang karena ada tiga pilar penting yang penanganannya diambil langsung oleh provinsi, antara lain, bidang pendidikan, kelautan dan kehutanan.

“Kakek saya itu asli Trenggalek jadi tidaklah rasional jika saya akan berkhianat. Hilangnya tiga pilar penting tersebut tentu akan menjadi sebuah tantangan,” terangnya, saat mennghadiri acara “Cangkruan Bareng” bersama Zulkifli Hasan (Zulhasan) Ketua MPR RI di salah satu hotel di Trenggalek, Selasa (24/04/2018).

Kepala Daerah termuda ini berpesan kepada semua masyarakat termasuk jajaran pengurus Partai PAN Trenggalek jika dalam menjalankan roda pembangunan harus bergerak dan berkreasi. Ia tidak akan melupakan Trenggalek, hingga tahun 2019 karena masih menjabat sebagai bupati atau di tahun ke 4 masa kepemimpinannya.

Sementara itu, Ketua MPR RI Zulhasan berharap agar seluruh jajaran pengurus Partai PAN baik di tingkat daerah atau provinsi untuk tetap bekerja keras dalam upaya pemenangan pasangan Khofifah-Emil di Pilgub Jatim. “Tidak boleh berpangku tangan, semua harus bergerak, kekuasaan itu harus dijemput tidak boleh ditunggu,” jelasnya.

Lebih lanjut, Bang Zul, sapaan akrabnya, mengatakan tidak ada istilah menyerah dan harus berjuang sampai titik darah penghabisan karena dua sosok calon gubernur dan wakil ini adalah orang hebat dan cocok menjadi psovemimpin masa depan.

“Semua orang tidak akan ragu kehebatan Khofifah dan Emil, jadi sangat disayangkan jika tidak kita perjuangkan,” ujarnya.

Zulhasan berharap agar masyarakat Trenggalek cerdas dalam menentukan pemimpin karena akan menentukan masa depan daerah yang dipimpinnya. “Saya hanya berpesan, pemimpin itu tidak cukup hanya pandai tapi harus amanah, artinya, harus totalitas dalam bekerja dan itu ada pada Khofifah-Emil,” pungkasnya. (mil/ham)

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.