JAKARTA | duta.co –  Elektabilitas Jokowi dikabarkan turun. Untuk itu salah satunya diduga karena pengaruh insentif elektoral KH Ma’ruf Amin tidak signifikan terhadap Jokowi. 
Namun hal itu dibantah Wasekjen PPP Achmad Baidowi. Dia tidak setuju dengan adanya anggapan bahwa keberadaan KH Ma’ruf Amin sebagai Cawapres pendamping Jokowi tak membuat dampak elektoral yang positif.
Menurutnya, keberadaan Ma’ruf Amin justru dapat mempertahankan pemilih muslim agar tak lari dari Jokowi.
“Itu kalau ditanya faktor elektoralnya. Tapi tidak ditanyakan faktor Ma’ruf di pemilih muslim. Artinya kehadiran Ma’ruf bukan sebatas dimaknai untuk kenaikan elektabilitas, tapi juga harus dilihat perannya mempertahankan pemilih muslim di Pak Jokowi,” kata Baidowi saat dihubungi, Kamis (17/1/2019).
Baidowi mengatakan, keberadaan Ma’ruf Amin dapat menepis isu SARA yang dapat dimainkan oleh kubu lawan terhadap sosok Jokowi.
“Karena kalau bukan dengan Ma’ruf Amin maka isu SARA dan tudingan anti ulama dan anti Islam akan terus dimainkan. Namun dengan kehadiran Ma’ruf, tudingan-tudingan tersebut bisa terbantahkan. Sehingga efeknya elektabilitas Jokowi tetap di atas 50 persen,” katanya.
Sebelumnya PARA Syndicate menganalisis 12 hasil survei dari beberapa lembaga survei terkait elektabilitas pasangan calon presiden dan calon wakil presiden, selama periode Agustus hingga November 2018.
Direktur Eksekutif PARA Syndicate Ari Nurcahyo mengatakan, setelah mereka menarik regresi linear dari data-data 12 hasil survei tersebut, tren elektabilitas pasangan calon presiden dan calon presiden nomor urut 01, Joko Widodo-Ma’ruf Amin, menunjukkan penurunan.
“Secara umum pergerakan elektabilitas Jokowi-Ma’ruf dari bulan Agustus sampai November itu trennya turun,” ujar Ari.
Yang menarik hasil  survei Charta Politika, cawapres nomor urut 01, KH Ma’ruf Amin, dinilai belum memberikan dampak suara signifikan terhadap pasangannya, Joko Widodo (Jokowi). Faktor Kiai Ma’ruf sebagai insentif elektoral ke pemilih Jokowi masih kecil, hanya 0,2%.
“Masih kecil sekali bagaimana faktor Kiai Ma’ruf sebagai calon wakil presiden menjadi insentif elektoral ternyata dari keseluruhan pemilih dan ini hanya ditanyakan kepada pemilih Jokowi hanya 0,2 persen karena suka dengan Kiai Ma’ruf, belum menjadi insentif elektoral,” kata Direktur Eksekutif Charta Politika, Yunarto Wijaya, di kantor Charta Politika, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, Rabu (16/1/2019).
Dibanding Kiai Ma’ruf, pengaruh cawapres nomor 02 Sandiaga Uno justru lebih besar ke pemilih Prabowo Subianto. Hasil survei Charta Politika menyebut faktor Sandiaga sebagai insentif elektoral ke pemilih Prabowo sebanyak 2,5%. Salah satu faktornya adalah Sandiaga punya pengalaman memimpin di Ibu Kota saat menjabat Wakil Gubernur DKI Jakarta.
“Menarik, ada muncul angka suka Sandiaga Uno angkanya lebih besar dari Kiai Ma’ruf ketika kita uji insentif elektoral ada 2,5 persen yang memilih nomor 2 karena faktor Sandi,” paparnya.
Meski demikian, Yunarto memaparkan ada stagnasi elektabilitas dari pasangan Jokowi-Ma’ruf dan Prabowo Subainto-Sandiaga Uno. Stagnasi itu selama 3 bulan terakhir, yakni dari Oktober hingga Desember 2018.
“Pada survei bulan Oktober, Jokowi mendapat perolehan 53,2 persen melawan Prabowo 35,5 persen. Namun, di bulan Desember, suara Prabowo turun menjadi 34,1 persen. Dari situ terlihat suara kedua paslon masih stagnan antara Oktober sampai Desember 2018,” ujar Yunarto.
Dia mengatakan stagnasi itu terjadi karena kedua calon memiliki strong voter 80 persen. Faktor pertarungan ulang antara Jokowi dan Prabowo juga dinilai membuat elektabilitas dua calon jalan di tempat.
“Di situlah stagnasi sangat mungkin terjadi karena ini rematch dari dua kelompok yang itu-itu aja memang berantem terus-terusan,” paparnya.
“Yang kedua, kalau dilihat, ada pola pemberitaan yang agak sedikit mulai datar. Awal-awal ada beberapa isu kontroversial yang menarik jadi pergunjingan, misalnya terkait ‘tempe setipis ATM’ sampai pakai wig pete. Tapi dengan masa kampanye yang cukup lama pasca dua bulan ada kejenuhan,” lanjut Yunarto.
Lebih lanjut, dia juga memaparkan pengaruh isu-isu yang menyerang Jokowi ataupun Prabowo terhadap elektabilitas. Hasil surveinya menyatakan 13,3 persen masyarakat percaya keterkaitan Jokowi dengan PKI. “Isu PKI memang ada 13,3 persen yang menyatakan Presiden Jokowi terkait PKI yang percaya,” kata dia.
Sementara itu, reuni 212 disebutkan Yunarto tak berdampak signifikan terhadap Prabowo. Hasil surveinya membantah hipotesis elektabilitas naik karena reuni 212. “Gerakan reuni 212 lebih diapresiasi positif tapi kalau dari elektabilitas ternyata tak terlalu berpengaruh ke elektabilitas Prabowo. Ini termasuk membantah hipotesa yang menyatakan pasca-212 ada kenaikan elektabilitas pasangan nomor 02,” tuturnya.(em/det)
Bagaimana Reaksi Anda?
Like
Love
Haha
Wow
Sad
Angry