DARFUR | duta.co – Banyak sekali permintaan akan peningkatan Polwan pada misi – misi Perdamaian PBB. Hal tersebut disebabkan karena dedikasi yang tinggi dan profesionalisme yang ditunjukkan oleh para Srikandi Polwan Indonesia sebagai Individual Police Officer (IPO) pada saat mereka bertugas di daerah misi masing- masing. Hal ini diwujudkan pula pada misi Perdamian yang ada di UNAMID-Darfur Sudan.

Berikut laporan dari Darfur Sudan seperti disampaikan Kabag Bina Mitra Biro Penmas Divisi Humas Polri Kombes Pol Awi Setiono kepada duta.co Kamis 10 Agustus 2017 dini hari.

MISI Perdamaian di Darfur Sudan di mulai sejak tahun 2006 dengan nama African Union yang kemudian digantikan oleh Misi Hybrid antara African Union dan United Nation (UNAMID) sehingga menjadi misi Hybrid pertama di dunia dan terus bertahan hingga saat ini. Dengan jumlah personel dari komponen kepolisian berjumlah 1.126 personel IPO dimana 208 diantaranya adalah dari Polisi Wanita.

Jumlah IPO Indonesia pada misi UNAMID saat ini adalah 15 personel dan 9 (Sembilan) diantaranya adalah para Srikandi Polwan Indonesia dari berbagai daerah di Indonesia.

Kiprah mereka pada misi UNAMID sangat membanggakan terbukti dari semua IPO Polwan Indonesia tersebut semua sudah menduduki jabatan yang strategis dan untuk mendapatkan jabatan atau posisi dimaksud harus bersaing ketat dengan para IPO dari seluruh dunia baik laki laki maupun perempuan. Jabatan atau posisi tersebut akan dibroad cast pada email di seluruh Main Head Quarter (MHQ)/ Markas Besar dan juga ke Sector maupun Team Site sehingga seluruh komponen akan dapat melihat pengumuman dimaksud.

Kemudian para IPO tersebut akan mengirimkan data mereka sesuai dengan keahlian dan kemampuan yang dibutuhkan oleh jabatan atau posisi tersebut. Selanjutnya akan dilaksanakan Short list dan hanya dipilih 3 hingga 5 calon saja dan dilanjutkan dengan wawancara langsung apabila memungkinkan atau interview via telephon dengan para Panel antara 3 hingga 7 orang dan diantara para calon akan dipilih hanya 1 (satu ) orang IPO saja.

9 (Sembilan) IPO Wanita Indonesia tersebut telah menduduki jabatan yang sangat strategis, yaitu yang berada di MHQ; AKBP Yunik Dwi Astuti, SIK, MSi sebagai Monitoring Liaison Officer menangani semua IPO New Arrival yang berkaitan dengan Monthly Substantial Allowance (MSA) pertama mereka dan menangani para IPO seluruh dunia yang akan purna tugas dan akan kembali ke negara mereka. Bagian ini memerlukan kesabaran dan ketelitian karena berkaitan dengan keuangan terakhir mereka dan rentan akan complain apabila tidak sesuai dengan perhitungan mereka.

Juga dalam proses checking out ini banyak yang mengalami stress sehingga kita harus memberikan pelayanan yang baik, sabar dan penuh dengan senyuman apapun yang terjadi ketiga hal tersebut wajib kita tampilkan.

Kompol Rusdiani, SIK, MSi, sebagai penyidik di Internal Investigation Unit (IIU), dalam posisi ini diperlukan keahlian dalam penyelidikan dan penyidikan mengingat beraneka kasus yang dihadapi, baik masalah pelecehan, cuti di luar ketentuan, pencurian dan lain sebagainya.

IPTU Wastini sebagai Training Officer merupakan satu satunya IPO Wanita Indonesia yang memiliki sertifikat sebagai seorang Tester UNSAAT. Prestasi yang bersangkutan sangat membanggakan sebagai UNSAAT Tester, telah menguji para IPO di berbagai negara antara lain Tanzania, Malawi, Rwanda dan South Africa, serta tidak menutup kemungkinan masih akan menguji di negara lainnya. Selain sebagai seorang UNSAAT Tester yang bersangkutan juga sebagai seorang trainer yang handal di berbagai bidang dan telah berkeliling di berbagai Team Site dan Sector pada misi UNAMDI ini.

Brigadir Fraya Sadewi, sebagai Protocol Officer, dimana diperlukan kelincahan, ketrampilan dalam berdiplomasi dan keahlian seorang protocol. Mengingat yang dihadapi adalah para pimpinan atau pejabat Utama Perwakilan Pemerintah Sudan, Para pejabat utama UNAMD, maupun delegasi yang dating bekunjung ke daearah misi UNAMID Darfur Sudan yang berkedudukan di El Fasher.

Selanjutnya AKBP Dr. Imanta Tarigan sebagai Welfare Officer di Sector South. Welfare Officer adalah orang yang dapat memberikan penanganan yang baik berkaitan dengan management stress, kesehatan, kegiatan kegiatan lain bagi para komponen di UNAMID ini.

Bripka Aprina Pohan pada posisi Planning Officer Sector South juga harus memiliki kemampuan dalam merencanakan kekuatan personnel yang ada di Sector hingga Team Site guna mendukung Patroli kewilayahan, membuat plotting kekuatan dalam suatu Patroli yang nantinya akan dijadikan acuan oleh para Patrol Officer di kewilayahan seluruh Sector South.

Bripka Anastasia Helena Rompas sebagai admin officer sector South dan Bripka Ni Nyoman Trisna Oktaviani Admin Officer Sector West keduanya adalah Admin Officer. Admin Officers merupakan penjuru bagi seluruh personnel pada Sector berkaitan dengan administrasi pergerakan mereka, penjuru informasi bagi Sector dengan Team Site wilayah mereka juga Sector lain dan MHQ.

Sebelum menduduki jabatan tersebut, para IPO adalah sebagai Patrol Officer yang disebar ke seluruh daerah pada misi UNAMID ini. Sebagai Patrol Officer mereka akan melaksanakan Patroli sesuai dengan rencana mingguan patrol yang telah dibuat oleh Operation Officer pada Team Site. Dimana dalam pelaksanaan Patroli tersebut para IPO wanita selain sebagai Patrol Officer juga mengemban fungsi sebagai Community Policing dan Gender Officer yang nantinya akan berinteraksi langsung dengan para wanita dan anak anak masyarakat local Sudan.

Diketahui bahwa Darfur Sudan mayoritas adalah muslim sehingga mereka pun memegang teguh syarikat Islam dan agak tertutup. Sehingga sentuhan para wanita sangat dibutuhkan dalam berinteraksi dengan masyarakat wanita local dan anak-anak. Para IPO wanita ini akan memberikan informasi-informasi yang berkaitan dengan keamanan diri, kesehatan diri dan lingkungan, cara pemberian ASI, pendidikan anak anak dan masih banyak lagi.

Sesuai dengan Mandat PBB yang diberikan bagi para IPO diantaranya adalah Community Policing bagi para pengungsi, Capacity Building bagi Kepolisian Setempat, Patroli aktif pada camp pengungsi, monitoring dan pencegahan berkaitan dengan keamanan bagi para pengunsi, memfasilitasi bantuan keamanan.

Selain keterampilan bagi para pengungsi juga diberikan ketrampilan bagi para anggota kepolisian setempat mengingat nantinya merekalah yang akan menjadi penegak hukum di Sudan ini setelah misi PBB selesai. Sejarah adanya misi pada Darfur Sudan ini karena adanya konflik antara pemerintah Sudan dan beberapa kelompok pemberontak yang meyebabkan situasi politik dan ekonomi masyarakat Darfur Sudan ini termajinalkan oleh otoritas pemerintah di Khartoum.

Sejak saat itu timbul konflik kemanusiaan yang terparah di dunia yang menyebabkan korban jiwa sebanyak 300.000 jiwa dan 3.5 juta jiwa harus mengungsi. Selain itu tindak criminal hampir terjadi setiap hari yang membuat korban jiwa semakin bertambah dan bedampak pada jiwa psikis dan keamanan wanita dan anak anak terancam.

Terdapat beberapa camp pengungsi yang tersebar pada berbagai daerah di Darfur Sudan ini yang sebagian besar dalam pengawasan PBB. Dari sejarah inilah misi perdamaian dilaksanakan di Darfur Sudan dan sangat diperlukan sentuhan para polisi wanita guna pendekatan, berinteraksi dan berkomunikasi dengan anak-anak masyarakat local Sudan.

Namun demikian untuk dapat bertugas pada suatu daerah misi tidaklah segampang membalikan tangan terutama bagi para wanita khususnya pada misi UNAMID ini, karena situasi dan medan khas Africa sangatlah ekstrim, diperlukan suatu ketangkasan dan dedikasi tinggi sebagai seorang peace keeper.

Tantangan tugas yang harus dihadapi sangat jauh berbeda dengan tupoksi di tanah air dan harus jauh dari keluarga. Perekrutan sebagai seorang peacekeeper atau IPO sangatlah ketat. Mulai dari pemanggilan ke berbagai daerah guna diberikan pelatihan pelatihan dalam menghadapi Test UNSAAT.

Diantaranya adalah pelatihan Bahasa Inggris yang nantinya diberikan test peningkatan Bahasa Inggris guna menentukan kelas, pelatihan pengisian riwayat jabatan, pelatihan mengemudi, menembak dan pelatihan test test UNSAAT. Setelah itu dilaksanakan Test United Nation Selection Assistance and Assessment Team (UNSAAT) oleh PBB yang meliputi test Bahasa Inggris, mengemudi dan menembak.

Kemudian setelah lulus mereka juga masih harus melaksanakan test yang dilaksanakan oleh Mabes Polri yang meliputi test kesehatan, kesamaptaan, kesehatan Jiwa, Psycologi dan Bahasa Inggris. Selanjutnya setelah dinyatakan lulus dan terotorisasi untuk diberangkatkan ke daerah misi para IPO mengikuti Pre Deployment Training (PDT) yang digelar oleh Damkeman, Divhubinter Polri dengan materi standar yang telah ditetapkan oleh PBB.

Demikian rangkain proses perekrutan IPO wanita Indonesia yang diharapkan semakin berkembang dan meningkatkan mutu kualitas peacekeeper yang professional yang dtidak saja membawa harum pribadi, institusi tetapi juga bangsa dan negara Indonesia. (gatot susanto)

BAGIKAN

Tinggalkan Balasan