Edza Aria Wikurendra, S.KL, M.KL – Dosen S1 Kesehatan Masyarakat, Fakultas Kesehatan

SEKELOMPOK peneliti dan praktisi menerbitkan sebuah artikel yang menguraikan strategi baru, teknologi inovatif, metode manajemen dan kasus-kasus praktis yang dapat mendukung pengembangan ekonomi sirkular.

Hal itu memungkinkan penggunaan sumber daya alam yang berkelanjutan, dan membantu mencapai Agenda 2030 untuk Pembangunan Berkelanjutan dan SDGs-nya.

Artikel ini merangkum diskusi dari acara tentang kemitraan internasional untuk layanan pengelolaan limbah menuju SDGs, yang diadakan selama Konferensi Internasional ke-16 tentang Pengelolaan dan Teknologi Limbah.

Info Lebih Lengkap Buka Website Resmi Unusa

Sesi ini berfokus pada solusi ekonomi sirkular yang inovatif, dan menyoroti kebijakan dan praktik 3R (reduce, reuse, dan recycle) di negara-negara yang berkembang.

Perbandingan antara pendekatan “take-make-consume-dispose” dari model ekonomi linier tradisional dan filosofi “made-to-be-made-again” dari model ekonomi sirkular.

Mereka menyoroti bahwa dengan menciptakan sistem loop tertutup, ekonomi sirkular menghadirkan peluang luar biasa untuk secara drastis mengurangi kebutuhan akan sumber daya murni, memikirkan kembali penanganan sumber daya dan limbah, dan mendesain ulang produk untuk menjadi hemat biaya, menciptakan lapangan kerja, dan mendorong inovasi.

Di antara solusi ekonomi sirkular untuk mengatasi limbah, terdapat beberapa hal yang perlu dicatat:

1. Metode inovatif pengelolaan limbah yang membantu mengurangi dampak lingkungan dari produk dan layanan, termasuk mekanisme “sharing economy” seperti berbagi sepeda, bio-toilet sistem dengan menggunakan kembali limbah toilet, mendaur ulang kontainer kargo, dan proyek “Sustainable Infrastructure for the Belt and Road Initiative” untuk mempercepat SDGs di wilayah dengan akses air dan listrik yang buruk;

2. Solusi ekonomi sirkular untuk sampah plastik laut di Tiongkok, seperti mekanisme pengumpulan mulch film di Mongolia, penggunaan kembali kemasan plastik untuk pengiriman online di Haikou, dan skema fishing-for-litter di Provinsi Hainan;

3. Solusi ekonomi sirkular untuk food loss, meskipun ada manfaat finansial namun terbatas karena kurangnya penilaian ekonomi dari kebijakan pencegahan dan pengurangan limbah makanan;

4. Integrasi “final sink” ke dalam ekonomi sirkular berkelanjutan; dan

5. Kontribusi solusi berbasis alam terhadap ekonomi sirkular.

Studi kasus yang ditampilkan dalam conference tersebut meliputi: sistem pengelolaan limbah yang dapat terurai secara biologis di Filipina, kegiatan pengelolaan limbah padat perkotaan di Bangladesh, pengelolaan limbah berkelanjutan di Guyana.

Berdasarkan strategi bertujuan untuk mencapai SDGs 8 (pekerjaan yang layak dan pertumbuhan ekonomi) dan SDGs 11 (kota dan komunitas yang berkelanjutan) di antara tujuan-tujuan lainnya, strategi ekonomi sirkular di Thailand dan penambangan perkotaan mineral antropogenik di Cina.

Kesimpulannya adalah transisi ke ekonomi sirkular dapat menjaga nilai sumber daya dan produk pada tingkat yang tinggi dan meminimalkan produksi limbah. Hal ini juga dapat membantu mencapai masyarakat tanpa limbah dengan mengoptimalkan efisiensi sumber daya, meminimalkan polusi lingkungan, dan mengurangi emisi.

Selain itu beberapa ahli menyoroti tentang limbah yang mengandung polutan organik persisten (POPs) karena berpotensi sebagai masalah dengan perhatian khusus. Mereka menyerukan “the green chemistry principle” untuk membantu mendesain produk kimia agar tidak terlalu berbahaya dan untuk siklus material bersih guna menghilangkan risiko yang tidak dapat diterima bagi kesehatan lingkungan.

Mereka menggarisbawahi bahwa dengan berfokus pada 3R, kebijakan dan rencana pemerintah, yang didukung oleh kemitraan publik-swasta (PPP), dapat membantu meningkatkan penggunaan sumber daya alam dan mencapai SDGs. *

Bagaimana Reaksi Anda?
Like
Love
Haha
Wow
Sad
Angry