Oleh: Dwi Rima Suprihastuti, M.Si.

Di tengah giatnya seruan tentang penumbuhan ekonomi kreatif, pendidikan vokasi dianggap memegang peran sentral. Apalagi, selain menitikberatkan pada keahlian tertentu, sektor ini juga menekankan jiwa kewirausahaan. Sebuah upaya yang amat dibutuhkan untuk mengentaskan problem ekonomi bangsa, terutama masalah pengangguran usia produktif.

Namun, selama ini masyarakat awam cenderung memahami pendidikan vokasi sebagai pengajaran vokasi atau sekolah vokasi. Padahal, apabila ditelaah lebih lanjut, tiga hal itu berbeda secara definisi, substansi, dan filosofi. Sayangnya, dalam penggunaan sehari-hari, perbedaan tersebut tidak muncul atau tumpang tindih penggunaan dan pengertiannya.

Jika dikembalikan pada esensi pendidikan, pendidikan selayaknya mampu mengeluarkan potensi. Potensi ialah kekuatan. Jika ini dikaitkan dengan manusia, maka potensi tersebut adalah bakat atau kebiasaan alamiah yang dimiliki anak. Setiap orang punya bakat yang beragam. Tugas pendidikanlah untuk mengungkap hal tersebut.

Hal ini tentu perlu diluruskan terlebih dahulu. Sebab, pakar bahasa dari Amerika, Noam Chomsky, pernah mengatakan, jika dalam penggunaan bahasa saja kita kacau, ada kemungkinan terjadi kekacauan dalam format berpikir dan tindakan kita. Bahasa yang jelas akan memberikan instruksi yang jelas pada pikiran. Sementara pikiran yang jelas akan memberikan perintah yang jelas pula pada tindakan. Maka, tidaklah mengherankan apabila John Maxwell, motivator dan penulis buku-buku bertema leadership, mengatakan bahwa apa yang sudah mampu kita pikirkan dengan jelas hampir dipastikan kita akan sanggup melakukannya dengan mudah (Hudaya, 2014: 280).

Karena itu, pendidikan vokasi tidak harus dipahami sebagai sekolah vokasi atau sebatas pengajaran vokasi di sekolah. Seperti diketahui, sekolah vokasi adalah lembaga dengan system dan kurikulum yang sudah dirancang khusus untuk tujuan khusus.

Sekolah vokasi inilah yang biasa kita sebut dengan istilah pendidikan vokasi. Sekolah vokasi adalah jenjang pendidikan khusus yang diarahkan pada penguasaan keahlian terapan tertentu dengan program khusus. Misalnya, SMK, politeknik atau program diploma. Sekolah vokasi mendidik siswa untuk terjun dalam dunia kerja dengan penguasaan keahlian khusus.

Sementara itu, pengajaran vokasi berarti proses mentransfer pengetahuan terapan itu, terutama hard skill atau job skill, kepada para siswa seperti banyak dilakukan oleh dunia pendidikan saat ini. Pertanyaannya, apakah kita cukup menerjemahkan pendidikan vokasi itu sebagai sekolah vokasi atau pengajaran vokasi saja?

Pembangunan Ekonomi Kreatif

Untuk kepentingan pembangunan ekonomi kreatif di Indonesia, dalam arti ekonomi yang berbasis pengetahuan dan kreativitas SDM, kita perlu mengelaborasi pengertian dan aplikasi pendidikan vokasi itu ke ruang yang lebih luas. Juga mengelobarasinya ke dalam bentuk yang semakin variatif sebagai wujud dari penerjemahan yang kreatif.

Menurut pakar pendidikan Hudaya Latuconsina (2014: 282), pelaksanaan instalasi pendidikan vokasi tersebut tidak harus dengan mendirikan sekolah vokasi dan mengubah status lembaga, kurikulum, mendatangkan guru baru, fasilitas baru, mendesain infrastruktur baru, dan seterusnya. Alasannya, selain membutuhkan dana tinggi, hal itu juga akan rawan korupsi. Apalagi, pada dasarnya semua itu tidak kita butuhkan.

Substansi pendidikan vokasi adalah upaya sekolah untuk memberikan keahlian. Keahlian tersebut meliputi soft skill maupun hard skill atau mental skill dan job skill. Tujuannya agar lulusannya nanti dapat beradaptasi dengan dunia kerja secara lancar. Dengan begitu, sekolah tersebut mampu mengangkat harkat dan derajat manusia setelah bertahun-tahun ia belajar di sekolah dengan biaya yang tidak sedikit.

Kedua keahlian itu sangat penting dan saling mendukung. Job skill ialah keahlian yang dibutuhkan oleh suatu pekerjaan. Umumnya, job skill berupa keahlian teknis atau keahlian akademik seperti akunting, komputer, dan lain-lain. Ini penting karena dunia kerja sudah pasti membutuhkan bukti-bukti yang visibel (bisa dilihat).

Sementara soft skill merupakan keahlian yang dibutuhkan oleh manusia untuk melakukan pekerjaan itu. Bentuknya antara lain problem solving, komunikasi, mindset positif, motivasi, manajemen diri, dan seterusnya. Soft skill sangat penting karena menggerakkan seseorang untuk meningkatkan kualitas dirinya tidak sebatas sebagai pekerja seperti robot atau buruh (Hudaya, 2014: 283).

Dari banyak penelitian, bentuk-bentuk soft skill yang paling dibutuhkan oleh lulusan baru adalah fleksibilitas, kemampuan komunikasi, motivasi, kemampuan team work, dan pengetahuan tentang etika kerja. Dengan merujuk pada pengertian yang substansial di atas, pendidikan vokasi tidak harus dipusatkan dan menjadi dominasi sekolah-sekolah vokasi.

Karena itu, pendidikan vokasi perlu pula di-install ke sekolah apa pun, baik SMK, SMA, MA, pesantren, sampai perguruan tinggi. Tujuannya tak lain adalah mengurangi pengangguran. Selain itu, lulusannya diharapkan bisa berpartisipasi dalam pembangunan ekonomi. Contoh yang paling sahih adalah Pesantren Darul Falah Bogor yang mendidik para santrinya dengan berbagai keahlian dan keterampilan di sektor pertanian, perdagangan hasil pertanian, dan produksi pertanian. Sesuai namanya, Darul Falah benar-benar menjadi pesantren pertanian.

Apa yang perlu dilakukan sekolah agar instalasi pendidikan vokasi ini benar-benar terpasang? Ada banyak kegiatan yang bisa dilakukan. Misalnya, identifikasi bakat dan minat siswa dengan cara ilmiah atau alamiah, lalu dikembangkan melalui kegiatan-kegiatan yang edukatif, produktif, atau prospektif di masa depan.

Maka, jika dikembalikan pada esensi pendidikan, pendidikan selayaknya mampu mengeluarkan potensi. Potensi ialah kekuatan. Jika ini dikaitkan dengan manusia, maka potensi tersebut adalah bakat atau kebiasaan alamiah yang dimiliki anak. Setiap orang punya bakat yang beragam. Tugas pendidikanlah untuk mengungkap hal tersebut.

Penulis adalah Pendidik, anggota komunitas menulis MediaGuru

Bagaimana Reaksi Anda?
Like
Love
Haha
Wow
Sad
Angry