MEMBUKA : Wakil gubernur Jatim Emil dardak saat membuka East Java Investival (EJI) 2019 (duta.co/wiwik)

SURABAYA | duta.co – Masuknya investor untuk investasi kunci  utama memacu pertumbuhan perekonomian. Dengan investor masuk, ekonomi tumbuh, tersedianya lapangan kerja otomatis kurangi pengangguran dan mampu meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

Masuknya investor dalam dan luar negeri berinvestasi memiliki efek besar. Misalnya pendirian pabrik baru mampu menyediakan lapangan ratusan sampai ribuan lowongan kerja. Bagi masyarakat sekitar pabrik, perekonomian akan tumbuh. Perlunya warung, restoran dan tempat kos para pekerja  dan pendapatan pemerintah pastinya dari pajak.

Provinsi Jawa Timur (Jatim) merupakan kawasan sangat strategis dan memiliki kontribusi signifikan terhadap perekonomian nasional. Jatim salah satu provinsi di Indonesia yang konsisten tumbuh diatas pertumbuhan rata rata nasional. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), Pertumbuhan Domestik Regional Bruto (PDRB) 2018 mencapai 5,57% di atas Pertumbuhan nasional Indonesia sebesar 5,27%.

Seiring dengan persaingan pasar bebas, dibawah kepemimpinan Gubernur  Khofifah Indar Parawansa, Jatim diharapkan menjadi ujung tombak ekonomi kerakyatan berbasis digital. Dalam konteks ini, maka dibutuhkan peran aktif dan karya nyata Provinsi Jatim mengangkat dan meningkatkan ketertarikan para investor PMA maupun PMDN untuk berinvestasi di berbagai bidang di Jatim. Di samping itu sinergitas antara OPD terkait, BUMD , dari seluruh lapisan masyarakat.

Untuk merealisasikan target tersebut, Pemprov Jatim melakukan terobosan besar dengan menggelar East Java Investival (EJI) 2019. Perhelatan EJI 2019 diselenggarakan 12-15 September 2019 lalu untuk mendorong investasi baru baik dari dalam negeri maupun luar negeri untuk masuk ke Jatim.

Wakil Gubernur Jatim, Emil Elestianto Dardak mengatakan  EJI 2019 diharapkan menjadi magnet bagi investor berinvestasi ke Jatim juga mengeksplor potensi ekonomi di Jatim. Masuknya sejumlah investasi ini diharapkan bisa menciptakan lapangan kerja. Apalagi di Jatim potensi ekonomi masih sangat luar untuk bisa di eksplor.

“Kegiatan ini dikemas dengan cukup menarik. Biasanya kegiatan seperti ini terkesan formal. Tapi kali ini dikonsep festival sehingga lebih menyenangkan,” kata Wakil Gubernur Jatim, Emil Elestianto Dardak saat membuka EJI 2019, Kamis (26/9/2019) di Ballroom Grand City Mall Surabaya.

Dan hasilnya ratusan miliar niai investasi yang berhasil ditandatangani. Emil menambahkan pada hari pertama pembukaan festival ini, terdapat Rp 135 miliar nilai investasi yang ditandatangani melalui letter of agreement. Jumlah nilai itu berasal dari lima investor, terbesar investasi sektor wood pellets di kabupaten Probolinggo senilai Rp 75 miliar. Investormya berasal dari konsorsium dan realisasi pada 2020.

“Hampir seperempat industri manufacturing ada di Jatim. Apa bisa tumbuh? masih sangat bisa. buktinya pertumbuhan ekonomi 50 persen masih di sekitar gerbangkertosusila , kawasan sekitar  Kota Surabaya yakni Gresik–Bangkalan–Mojokerto–Surabaya–Sidoarjo–Lamongan. Ini yang bisa dipacu, karena infrastruktur dan pendukung ainnya ada,” ungkapnya.

Dorong Investasi Masuk Kembangkan SDM dan Infrastruktur

MENINJAU : Wakil gubernur Jatim Emil dardak (dua dari kiri) saat meninjau salah satu stand di East Java Investival (EJI) 2019 (duta.co/wiwik)

Pemprov Jatim terus mengembangkan berbagai sektor pembangunan untuk mendorong investasi di Jatim. Pengembangan tersebut berupa pembangunan konektivitas atau infrastruktur di kawasan utama (ring 1) dan wilayah lain agar berpeluang bagi dunia usaha dan dunia industri.

Wagub Emil mengatakan pengembangan kawasan ring 1 seperti di Kab. Gresik, Kab. Bangkalan, Kab. Mojokerto, Kota Surabaya, Kab. Sidoarjo dan Kab. Lamongan dengan istilah Gerbangkertosusilo dilakukan dengan cara pemantapan infrastruktur dan pengembangan sumber daya manusia (SDM).

Kemudian di luar kawasan ring 1, Pemprov Jatim akan terus mengembangkan konektivitas antara satu daerah dengan daerah lain, salah satunya dengan infrastruktur jalan tol. “Jatim ini benar-benar dikembangkan dari segala penjuru, baik di kawasan ring 1 yang sudah tumbuh sampai dengan daerah di luar ring 1,” katanya.

Emil menambahkan realisasi investasi bidang usaha di Jatim dari tahun 2014 sampai dengan semester 1 tahun 2019 terdiri dari listrik, gas dan air (Rp 36,33 triliun rupiah), industri makanan dan minuman (Rp 29,38 triliun rupiah), dan industri kimia dasar, barang kimia dan farmasi (Rp 20,66 triliun rupiah). Kemudian industri logam dasar, barang logam, mesin dan elektronik (Rp 15,99 triliun rupiah) serta transportasi, gudang dan telekomunikasi (Rp 11,58 triliun rupiah).

Selain pengembangan konektivitas antar wilayah, lanjut Emil, Jatim juga memiliki kawasan industri yang eksisting sampai dengan kawasan industri yang tengah dikembangkan. Saat ini, penyediaan kawasan industri di Jatim sendiri totalnya mencapai 36.851,28 Ha.

Dengan rincian kawasan industri eksisting 5.066,5 Ha terdiri PT. Maspion Industrian Estate (341,5 Ha), PT. Surabaya Industrian Estate Rungkut (245 Ha) serta PT. Pasuruan Industrial Estate Rembang (563 Ha). Serta, pengembangan kawasan industri 31.784,78 Ha tersebar di Jombang, Tuban, Malang, Lamongan dan Banyuwangi.

Selain pengembangan konektivitas, infrastruktur dan kawasan industri, Pemprov Jatim juga terus memastikan proses birokrasi terutama perizinan baik di tingkat provinsi sampai dengan kab/kota dipermudah. Dan berbagai upaya ini menjadi bagian dalam mendorong investasi di Jatim agar terus meningkat.

“Intinya kami baik dari provinsi maupun kab/kota InsyaAllah semua memiliki komitmen yang sama terutama terkait pemberian kemudahan investasi di Jatim,” terangnya.

Emil menambahkan, realisasi investasi Jatim sampai semester 1/2019 sebesar Rp 32,05 triliun menduduki posisi ke-4 nasional setelah Jabar, DKI Jakarta dan Jawa Tengah/Jateng.

“Kita masih bisa mendorong angka realisasi ini. Saat ini kita sedang mempercepat pembangunan sejumlah infrastruktur untuk nantinya memudahkan konektivitas industri. Seperti percepatan proyek pembangunan infrastruktur jalan tol di berbagai titik, pembangunan jalan Pantai Selatan Jatim, pengembangan sejumlah bandar udara termasuk Juanda, jalur kereta api dan sejumlah pelabuhan,” terang Emil.

Sementara itu, Kepala Perwakilan BI Jatim, Difi Ahmad Johansyah mengatakan, kondisi inflasi Jatim selalu di bawah nasional. Sementara pertumbuhan ekonominya pun selalu di atas nasional. Sehingga bila ingin memajukan ekonomi Indonesia maka kuncinya di Jatim.

“Tingkat kemudahan berbisnis atau ease of doing business di Jatim sangat baik, mulai dari faktor memulai usaha serta pemenuhan kontrak di Jatim lebih bagus. Dan ini menjadi salah satu daya tarik investasi,” katanya.

Kenalkan Kaum Millenial pada Investasi

FRANCHISE: Selain menarik pabrikan, pemprov Jatim juga menarik minat kaum milenals buka usaha dengan frachise. (duta.co/kumparan)

Kepala Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu Provinsi Jatim, Aris Mukiyono, menuturkan EJI 2019 menjadi ajang edukasi bagi kaum milenial. ”Untuk menggerakkan minat investasi bergaya milenial, dimana sekarang start up dan franchise menjamur,” katanya.

Oleh karena mendorong milenial berinvestasi, maka peserta pameran yang akan berpartisipasi salah satunya untuk jenis usaha skala kecil dan menengah. Misalnya franchise di bidang makanan dan minuman hingga pendidikan.

‘’Nah, dengan franchise ini selain buka usaha, juga bisa mendidik para pelaku usaha baru. Jadi dengan modal yang tidak besar, mereka sudah bisa membuka usaha sendiri,” jelas Aris.

EJI 2019 langkah awal menjembatani investor pemerintah daerah/pengusaha berinvestasi di Indonesia mendukung program percepatan pembangunan Nasional dan daerah Indonesia khususnya Jatim. “ Ini adalah forum mediasi antara Pemerintah Sektor usaha (investor) Masyarakat Jawa Timur,” katanya.

Selain itu, EJI 2019 menginformasikan dan mengekspos seluruh potensi yang dimiliki Jatim terutama sektor investasi, saham, pariwisata, insfrastruktur, layanan publik dan produk unggulan yang dihasilkan serta hasil pembangunan. Menjadikan Jatim sebagai tujuan wisata investasi skala Internasional.

Meski pertama, perhelatan EJI 2019 dinilai sukses. Rencananya kegiatan serupa dikembangkan ke luar Jatim. “Ini terlihat antusias masyarakat datang,” ucapnya.

Aris Mukiyono mengatakan yang menarik, karena bukan sekedar pameran, juga seminar, Forum Group Discution (FGD), pameran industri lokal, franchise dan startup. “Intinya di sini tidak hanya menjual, tapi juga mengajak masyarakat untuk berinvestasi. Rencanaya akan kita kembangkan ke luar Jatim dengan format lebih kecil. Kita akan gandeng Kadin Pusat, Disperindag dan berbagai pihak,” jelasnya.

Gelaran ini menampilkan berbagai peluang investasi unggulan di bidang infrastruktur,pertanian, perikanan, pariwisata, pertambangan dan sektor energi, dan berbagaisektor lain dari 38 kabupaten / kota di Jawa Timur. Di samping juga dipamerkan peluang investasi dari BUMN, BUMD, sektor swasta , franchise,jasa perbankan dan keuangan, startup, dan travel market.

Buka PLB SIER untuk UKM dan IKM

PEMASARAN: Gubernur Jatim Melakukan Prosesi Pukul Gong Pada Acara Pembukaan dan Pelatihan Peningkatan Kualitas Desain dan Pemasaran Produk Bagi UMKM (duta.co/ical)

Memberi kemudahan investor yang buka pabrik, pemprov Jatim buka  Pusat Logistik Berikat (PLB) yang berlokasi di kawasan Surabaya Industrial Estate Rungkut (SIER).  PLB adalah gudang multifungsi yang atas pemasukan barang impor belum dipungut bea masuk dan pajak impor. Selain itu, pemasukan barang impor PLB juga belum diberlakukan ketentuan pembatasan impor.  Semua kegiatan yang dapat dilakukan di gudang di luar negeri juga dapat dilakukan di PLB, termasuk pemeriksaan surveyor.

Gubernur Jatim Khofifah Indar Parawansa berharap keberadaan PLB  di kawasan SIER mampu memberikan kemudahan pabrikan juga perusahhaan yang akses produk utamanya belum tersubtitusi bagi UKM dan IKM di Jatim.

Khofifah menegaskan hal tersebut selaras dengan harapan Presiden Joko Widodo yakni menggenjot ekspor Indonesia dari sisi UKM dan IKM. Pelaku UKM / IKM harus diberikan kemudahan untuk memperoleh pasokan bahan baku maupun bahan pendukung produksi dengan memberikan fasilitas bebas bea masuk dan Pajak Impor atas bahan baku yang berorientasi ekspor.

 “PLB upaya memudahkan pelaku usaha. Karenanya saya ingin memastikan bahwa nanti dari Sucofindo dan SIER akan bisa mengkomunikasikan kepada importir dan eksportir untuk memenuhi kebutuhan pelaku UKM dan IKM,” ungkap Khofifah saat kunjungan ke PT. SIER, Surabaya, Jumat (13/9).

Khofifah menjelaskan, saat ini kebutuhan bahan baku pelaku UKM dan IKM sebagian besar masih impor. Dicontohkan, industri alas kaki misalnya untuk kebutuhan sol atau alas sepatu 100% nya masih impor. Produk-produk seperti inilah yang harus disubtitusi terlebih dahulu agar pergerakan UKM dan IKM di Jatim bisa lebih kompetitif dibandingkan tempat lain.

“Sebetulnya barang-barang atau kebutuhan apa saja yang dibutuhkan para pelaku UKM dan IKM tetapi belum tersubtitusi di dalam negeri dan masih harus impor kita ingin hal ini bisa terkoneksi lewat PLB,” jelas orang nomor satu di Jatim ini sembari mengimbuhkan bahwa dengan PLB akan bisa memangkas dwelling time dan mereka bisa mengambil barang dan membayar pajaknya di PLB.

Siapkan SDM dengan Pendidikan Vokasi

PAMERAN : SMK berhasil mencetak pelaku usaha sejak dini dengan menghasilkan aneka produk yang bisa dijual. (duta.co/dok)

Pemprov Jatim terus berusaha kurangi pengangguran. Dan pendidikan vokasi mampu menekan angka pengangguran di Jatim. Data Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Jatim pengangguran bertambah 16,82 ribu orang. Sedangkan Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) per  Februari 2019 menjadi 3,83 persen. Dari data ini, lulusan SMK mendominasi TPT sebanyak 6,84 persen.

Khofifah Indar Parawansa Gubernur Jatim menyatakan pendidikan vokasi mampu menurunkan angka pengangguran tersebut sejalan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) dan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Jatim.

“Kita sedang ingin fokus pendidikan vokasi. Seiring program nasional. RPJMN juga begitu. RPJMD juga begitu. Kita ingin menyinkronkan TPT tingkat pengangguran terbuka yang tertinggi di SMK, kedua di SMA, kemudian juga perguruan tinggi, melalui Millenial Job Center,” ujar gubernur perempuan pertama di Jatim itu.

Millenial Job Center yang menjadi bagian janji kampanye Khofifah-Emil yaitu Nawa Bhakti Satya khususnya Jatim Kerja, saat ini diklaim Khofifah telah memiliki ekosistem yang matang. Dalam program ini, telah ada mentor sebagai pelatih, talent yang menerima pelatihan dan client yaitu perusahaan yang akan menerima mereka bekerja.

Program ini telah diluncurkan pada akhir Mei lalu. Diharapkan, program ini bisa menjawab tantangan untuk menurunkan angka pengangguran di Jatim. “Ada talent mereka ingin masuk ke sistem itu. Client itu perusahaan, company. Juga ada mentor. Kita ingin itu bersinergi menjadi tripatrid memberikan ruang bagi milenial di Jatim, apakah dia SMK, SMA, apa D1, D4 atau S1. (Mereka akan, red) memiliki skill sesuai kira-kira dengan talent mereka,” pungkasnya.

Keseriusan pemerintah meningkatkan SDM lewat pendidikan vokasi sudah dilakukan sejak Gubernur Soekarwo dengan program vokasi dual track membantu meningkatkan dan menciptakan sumber daya manusia (SDM) yang memiliki kualitas dan berdaya saing.

Dual track strategy diterapkan pada jalur non formal (SMK Mini, BLK dan Madin) serta formal seperti SMK yang di link and match kan dengan industri dan perguruan tinggi, serta filial antara SMK dengan PTN.  Program dual track juga  digunakan mengantisipasi bonus demografi  di Jatim ada sekitar 69,60 persen penduduk berusia produktif.  Lebih tinggi dibandingkan nasional sebesar 67,65 persen.

“Oleh sebab itu, dengan potensi usia produktif yang banyak, harus diimbangi dengan pembekalan skill yang diterima di dunia kerja. Oleh sebab itu, pendidikan vokasi secara besar-besaran dilakukan agar SDM Jatim mempunyai skill mumpuni,” kata Kofifah.

Langkah penerapan dual track, Pemprov Jatim morotarium SMA, memberlakukan rasio 70% untuk SMK dan 30% untuk SMA. Diharapkan pada tahun 2023 bisa mencapai 70:30.

“Dengan banyaknya siswa sekolah di SMK, program double track langsung mengurangi kelompok unskill. Pada awalnya lulusan unskill sebanyak 57-58 persen, kondisi saat ini menjadi 46 persen,” ungkapnya.

Untuk itu meningkatkan skill para  siswa SMK, Pemprov Jatim bekerjasama dengan perguruan tinggi dan perusahaan khususnya yang ada di Jatim. Sebagai contoh ada sekitar 487 SMK yang  bekerjasama dengan 80 perusahaan seperti  SIER dan PT. ETA. Bagi SMK yang akreditasi kurang bagus, maka Pemprov Jatim membuat program filial yaitu  setiap 1 SMK  negeri menjadi pengampu lima SMK swasta. Kerja samanya berupa penggunaan laboratorium dan fasilitasnya sampai jam 6 sore.

”Untuk SMA, Madrasah Aliyah, Ula, dan Wusto dalam pendidikan Diniyah Salafiyah juga diberikan pendidikan vokasional dua hari dalam sepekan. Apabila tidak dilakukan hal semacam ini, semua lulusan SMA akan menjadi unskill,” bebernya. (imam ghozali)

Bagaimana Reaksi Anda?
Like
Love
Haha
Wow
Sad
Angry