PEDULI IBU MENYUSUI : Tim Pengmas Unusa mendata para ibu pasca hamil dan menyusui. DUTA/ist

Buku Kesehatan Ibu dan Anak (KIA) terkadang diabaikan. Bahkan, sama sekali buku itu tidak diisi. Padahal, bagi ibu pasca salin dan sedang menyusui, buku KIA harus diisi lengkap dan detail agar riwayat kesehatan ibu dan anaknya bisa diketahui sejak awal kelahiran. Itu akan mempermudah mendeteksi kesehatan hingga kelak si anak dewasa.

—–

Karena itu, empat dosen Universitas Nahdlatul Ulama Surabaya (Unusa), Rizki Amali, Uliyatul Laili, Vivi Handayani dan Alvina Andiani Pitaloka     memberikan edukasi kepada para ibu pasca salin dan yang sedang menyusui pentingnya buku KIA diisi lengkap.

Keempat dosen ini memberikan edukasi pada para ibu yang datang ke Puskesmas Paciran, Lamongan pada Agustus 2020 lalu.

Dipilihnya Puskesmas tersebut, diakui Ketua Tim Pengmas, Rizki Amalia karena dari studi pendahuluan yang dilakukan, ibu pasca salin dan menyusui banyak yang tidak  mengisikan kolom kesehatan nifasnya ke petugas Puskesmas. “Sehingga ini membuat kami prihatin, padahal itu sangat penting bagi mereka ke depannya,” ujar Rizki.

Di masa pandemi, penting ibu mengisi buku KIA terutama pasca salin dan menyusui. DUTA/ist

Metode yang dilakukan dalam pengmas ini adalah mengumpulkan ibu dan  pendamping posyandu, kader dan bidan  dengan penyuluhan. Sebelum penyuluhan tim Unusa memberikan kuisioner untuk mengetahui sejauh mana pemahaman ibu tentang pentingnya mengisi buku KIA-nya.

“Kami menjelaskan ibu pasca salin dan menyusui itu rentan terhadap berbagai macam penyakit. Sehingga data kesehatan di KIA harus diisi lengkap ketika datang ke puskesmas atau ke posyandu. Apalagi di masa pandemi Covid-19 seperti saat ini,” kata Rizki.

Karena ibu di masa nifas atau masa persalinan dan menyusui sangat rentan terkena penyakit, apalagi di masa pandemi Covid-19.  Karenanya, ibu setelah melahirkan wajib hukumnya melakukan kunjungan nifas ke tenaga kesehatan yang membantu persalinannya. Kunjungan nifas dilakukan sesuai jadwal yang ditetapkan.

Yakni pada periode enam jam sampai dengan dua hari pasca persalinan. Setelahnya pada periode tiga hari sampai dengan tujuh hari pasca persalinan. Pada periode delapan hari sampai 28  hari pasca persalinan. Pada periode 29 sampai 42 hari pasca persalinan.

“Kunjungan nifas bisa dilakukan di layanan kesehatan atau bisa dengan didatangi petugas kesehatan ke rumah masing—masing. Itu melihat situasi dan kondisi,” tukas Rizki.

Ibu nifas dan keluarga harus memahami tanda bahaya di masa nifas  dengan melihat buku KIA. Jika terdapat risiko atau tanda bahaya, maka periksakan diri ke tenaga kesehatan. “Tahu ada tanda bahaya ya dari buku KIA itu,” ungkapnya.

Dari penyuluhan yang dilakukan, ibu-ibu yang hadir bisa memahami, bahwa buku KIA harus diisi lengkap setelah melakukan pemeriksaan ke puskesmas atau ke petugas kesehatan.

Hal itu diketahui dari hasil kuisioner yang dibagikan tim pengmas Unusa setelah penyuluhan atau edukasi dilakukan. “Semoga masyarakat bisa lebih paham akan pentingnya menjaga kesehatan sejak dini,” tukas Rizki.

Pengmas di Puskesmas Paciran ini akan dilakukan pemantauan selama satu tahun lamanya. Tim Unusa akan bekerjasama dengan petugas  kesehatan atau bidan yang bertugas di puskesmas tersebut. end

Bagaimana Reaksi Anda?
Like
Love
Haha
Wow
Sad
Angry