EDUKASI : Tim pengmas dosen Unusa memberikan face shield di sela acara edukasi tentang manajemen stres bagi para santri di Pondok Pesantren As-Syafiiyah Tanggulangin Sidoarjo beberapa waktu lalu. DUTA/ist

Pandemi Covid-19 membuat tingkat stres meningkat. Bukan hanya pasien Covid-19 dan keluarganya, tapi masyarakat umum. Termasuk pada santri yang mau tidak mau harus masuk pesantren di tengah kondisi yang memprihatinkan seperti saat ini. Mengelola stres dengan baik penting bagi santri yang tentunya harus didukung banyak pihak terutama pengurus pesantren.

Dosen- dosen keperawatan Universitas Nahdlatul Ulama Surabaya (Unusa) menyadari stres menjadi salah satu pemicu menurunnya daya tahan tubuh. Karenanya mengelola dengan baik stres itu sangat bermanfaat.

Berempat, dosen FKK Unusa yakni Khamida, Syiddatul Budury, Andikawati dan Chilyatiz Zahro dibantu empat mahasiswa S1 Keperawatan mendatangi Pondok Pesantren As Syafiiyah Tanggulangin pada 22 Agustus 2020 lalu.

Mereka memberikan edukasi kepada sebagian santri dan pengelola pondok pesantren. Tujuannya agar kedua belah pihak saling menyadari dan memberikan dukungan untuk saling menguatkan.

Edukasi tentang manajemen stres di masa pandemi sangat penting diketahui semua pihak termasuk para santri. DUTA/ist

Karena diakui Khamida selaku ketua kelompok pengabdian masyarakat ini, di masa pandemi, santri menjadi salah satu kelompok masyarakat yang rentan mengalami stres. Karena, mereka di pesantren tidak boleh bertemu keluarga dalam jangka waktu yang tidak bisa ditentukan. Karena pandemi masih belum bisa ditentukan kapan akan berakhir.

“Bagi santri baru terutama, dan sebagian santri lama, akan stres karena tidak bisa bertemu keluarga. Itu tidak bisa dipungkiri,” kata Khamida.

Karena itu tim pengmas ini memberikan pengertian pada pengurus pondok pesantren agar lebih peka melihat dan memperhatikan santri. Jika ada santri yang terlihat kurang semangat harus diperhatikan dan diajak komunikasi dengan baik.

Bahkan, pengurus pondok juga harus memberikan motivasi kepada santri agar tetap semangat menghadapi cobaan yang dihadapi seluruh masyarakat di dunia ini.

“Tak kalah penting adalah dukungan teman sekamar, sekelas serta ustadzah dan ustadz pembimbingnya. Antar santri harus saling mendukung dan menguatkan agar mereka enjoy di pondok selama pandemi ini,” jelas Khamida.

Bagi santri sendiri juga diberi pencerahan tentang mengelola stres sendiri. Mereka diharapkan bisa mengatasi kegelisahannya sendiri sebelum meminta bantuan orang lain. Santri harus mengenal ciri-ciri stres mulai menimpa dirinya.

Salah satunya adalah ganguan tidur. Ketika santri sudah gelisah tidak bisa tidur nyenyak saat malam, diakui Khamida, santri harus melakukan beberapa hal salah satunya dengan menarik nafas panjang dengan posisi duduk relaks.

“Tujuannya untuk melepaskan semua beban yang ada,  bisa lebih tenang sehingga stres bisa lepas dengan sendirinya,” tukas Khamida.

Selain itu, pihak pengelola pondok juga diwajibkan untuk lebih melonggarkan santri dalam berkegiatan. Jika santri kelihatan kurang sehat harus diberi dispensasi beristirahat lebih banyak dibandingkan santri lainnya.

“Ada saling pengertian agar santri dan pengelola bisa terus sehat lahir dan batinnya termasuk psikisnya,” tukas Khamida.

Tidak hanya memberikan edukasi tentang manajemen stres, Khamida dan kawan-kawannya juga membagikan 100 face shield kepada para santri. Tujuannya agar santri bisa lebih taat terhadap protokol kesehatan.

“Memasuki mas new normal ini semua harus patuh protokol kesehatan. Biasanya para santri itu bosan menggunakan masker dengan berbagai alasan. Karena juga masih anak-anak. Makanya kita kasih face shield, jika sewaktu-waktu mereka pengap pakai masker bisa pake face shield, walau penggunaan faceshield harus tetap pakai masker. Tapi namanya juga anak-anak,” jelas Khamida. end

Bagaimana Reaksi Anda?
Like
Love
Haha
Wow
Sad
Angry