Pengabdian masyarakat untuk mengedukasi dan mendeteksi dini kesehatan jiwa masyarakat di Kelurahan Wonokromo Surabaya beberapa waktu lalu. DUTA/ist

Kesehatan mental sering kali diabaikan. Padahal, kesehatan ini tidak kalah penting dibandingkan dengan kesehatan-kesehatan lainnya. Karena itu, tim dosen dari Fakultas Keperawatan dan Kebidanan (FKK) Universitas Nahdlatul Ulama Surabaya (Unusa) mengedukasi masyarakat agar memperhatikan kesehatan mental ini bahkan harus mendeteksi sejak dini jika ada kelainan.

Empat dosen Keperawatan, FKK Unusa yakni Andikawati Fitriasari, Khamida, Nunik Purwanti dan Nur Hidaayah mengedukasi masyarakat khususnya para kader di RW VII, Kelurahan Wonokromo, Surabaya.

Edukasi ini penting karena sering kali masyarakat mengabaikan kesehatan mental emosional ini, Padahal, seseorang dikatakan sehat kalau jasmani dan rohami serta mental emosionalnya juga sehat.

Ketua tim pengabdian masyarakat, Andikawati mengatakan, saat pandemi Covid-19 lalu, kasus gangguan mental emosional ini meningkat. Masyarakat banyak yang tidak menyadari jika dirinya mengalami gangguan mental emosional.

Info Lebih Lengkap Buka Website Resmi Unusa

“Di kelurahan Wonokromo sebenarnya sudah cukup banyak warga mengalami gangguan mental emosional jauh sebelun pandemi Covid-19. Data yang kami pegang dari Puskesmas Wonokromo sejak 2016 sudah ada kasus yang jumlahnya terus meningkat dari tahun ke tahun,” ujar Andikawati.

Dari kasus itu banyak masyarakat yang tidak menyadari jika gangguan tidur, tidak bisa tidur, mengalami kesulitan tidur adalah deteksi awal gangguan mental emosional. “Kalau gangguan tidur tidak diatasi bisa mengarah ke kecemasan, depresi dan semacamnya. Karena tidak peduli itu, akhirnya berobatnya kalau sudah parah,” ujar Andikawati.

Tim pengmas Fakultas Keperawatan dan Kebidanan (FKK) bersama masyarakat di Kelurahan Wonokromo. DUTA/ist

Dengan kehadiran tim pengmas ini, ternyata banyak warga yang mengaku jika sering kali mengalami gangguan tidur, sakit kepala, jantung berdebar dan sebagainya. Itu semua tidak dianggap sebagai sebuah gangguan padahal itu tanda-tanda dini terjadinya gangguan mental emosional.

“Edukasi ini bagian dari tindakan promotif yang bisa kami lakukan. Selain kami juga melakukan aksi preventif, kuratif dan rehabilitatif,” kata Andikawati.

Untuk preventif sendiri, tim pengmas menyebarkan kuisioner untuk mengetahui kondisi kesehatan mental warga. “Dengan cara itu bisa kita ketahui kondisi mental warga. Kalau kita deteksi itu indikasi gangguan mental emosional, maka kita akan mengajak keluarga untuk terlibat dalam proses penyembuhannya,” jelas Andikawati.

Kegiatan yang digelar 25 Maret 2022 lalu itu diharapkan masyarakat lebih peduli dengan kondisi kesehatan mental emosional di keluarga dan lingkungannya. ril/end

Bagaimana Reaksi Anda?
Like
Love
Haha
Wow
Sad
Angry