Stimulus Meningkatkan Daya Beli Masyarakat di Era Pandemi

oleh

Reizano Amri Rasyid, ST., MMT.

Dosen Fakultas Ekonomi Bisnis (FEB)

MASA Pandemi yang semakin tidak terkendali telah memberikan dampak yang sangat buruk terhadap daya beli masyarakat. Penurunan daya beli sudah terlihat sejak wabah atau virus ini masuk di Indonesia atau pada Maret 2020. Kebijakan ini membuat daya beli masyarakat turun sehingga perekonomian di kuartal I-2020 hanya mencapai 2,97 persen.

Hilangnya daya beli ini terjadi akibat tidak adanya perputaran ekonomi antara penjual dan pembeli di lapangan. Adapun indikator pendapatan masyarakat menurun itu antara lain penurunan perdagangan industri ritel, penurunan produksi usaha, dan penurunan pendapatan pekerja, yang menyebabkan harga-harga relatif tidak banyak bergejolak.

Karena itu, dalam beberapa tahun terakhir inflasi nasional relatif rendah, dibutuhkan sebuah Inovasi, ide kreatif, dan stimulus untuk bisa menumbuhkan daya beli masyarakat secara perlahan. Akan tetapi melalui rilis laporan dari Perusahaan e- commerce enabler SIRCLO baru-baru ini tentang tren perkembangan e-commerce Indonesia di masa  pandemi  COVID-19  (Laporan   yang  berjudul  ―Navigating  Indonesia’s  E-Commerce: COVID-19 Impact and The Rise of Social Commerce‖).

Dari itu didapatkan dua hal utama dari penemuan tersebut, antara lain adalah tingginya akselerasi adopsi e-commerce selama pandemi COVID-19 dan tumbuhnya tren social c-commerce, yaitu transaksi jual-beli online melalui aplikasi percakapan dan media sosial. Adanya pandemi justru mengakselerasi industri e-commerce di Indonesia, hingga diprediksi bertumbuh sebesar 91 persen—jauh melampaui proyeksi sebelumnya yang hanya sebesar 54 persen.

Lalu apakah bisa disimpulkan bahwa e-commerce merupakan solusi ke depan untuk meningkatkan daya beli masyarakat? Atau hanya sekedar keterpaksaan kondisi yang menjadikan perkembangan e-commerce menjadi sangat pesat di masa pandemi? Jawaban nya bisa jadi gabungan dari kedua hal tersebut.

Sebab tidak dapat dipungkiri lagi, industri e-commerce akan terus mengalami peningkatan pesat dan menjadi penggerak utama ekonomi digital Indonesia. Diperkirakan bahwa terdapat 12 juta pengguna e-commerce baru sejak pandemi berlangsung, dimana 40 persen di antaranya mengatakan akan terus mengandalkan e-commerce bahkan setelah pandemi berakhir.

Dalam kondisi normal, akselerasi kenaikan jumlah pengguna ini bisa tercapai dalam kurun waktu 1,5-2 tahun. Google pun telah merilis laporan resmi bahwa industri e-commerce Indonesia diproyeksikan akan menjadi salah satu pasar dengan pertumbuhan tertinggi di dunia, hingga 36.1 persen per tahunnya.

Tidak hanya dalam transaksi e-commerce, Bank Indonesia mencatat bahwa jumlah transaksi uang digital 16,7 persen lebih tinggi pada April 2020 dibandingkan bulan sebelumnya. Transaksi menggunakan kartu debit atau kredit justru menurun drastis sebesar 37 persen.

Berdasarkan data Bank Indonesia dan Databoks, nilai transaksi uang elektronik pada 2019 telah mencapai Rp 95,75 triliun dan terdapat lonjakan sebesar 241,2 persen dalam penggunaan uang elektronik pada kuartal keempat 2019. Di 2020 ini, penggunaan uang elektronik dan pembayaran digital terus meningkat pesat akibat imbas dari mewabahnya pandemi virus Corona di berbagai belahan dunia.

Metode pembayaran nontunai memang lebih disarankan sebagai alternatif dibanding penggunaan uang tunai, karena lebih higienis dan meminimalisir risiko penularan. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) sendiri menyatakan adanya potensi penularan virus Corona melalui penggunaan uang tunai. Bank Indonesia mencatat transaksi pembayaran digital di merchant telah mencapai 2,2 juta transaksi selama Maret 2020, dengan total nominal mencapai Rp 75,1 miliar.

Pandemi virus COVID-19 memang mendorong kegiatan belanja online dan penggunaan layanan uang digital. Per tahun 2020, terdapat total 51 penyelenggara uang elektronik yang telah mendapat izin dari Bank Indonesia. Tentunya dari jumlah tersebut, ada nama-nama yang cukup menonjol dan menjadi top of mind para pengguna uang elektronik di Indonesia, seperti OVO, GoPay, DANA, LinkAja, dan ShopeePay.

Meski bisa dibilang pemain paling baru dibanding nama besar lainnya, ShopeePay menunjukkan pertumbuhan yang pesat, terutama di masa pandemi. ShopeePay juga memiliki layanan ShopeePayLater yang termasuk dalam 3 besar sistem pembayaran cicilan tanpa kartu kredit yang paling terkenal di Indonesia pada 2019 menurut laporan Daily Social. Stimulus – stimulus seperti inilah yang dibutuhkan di masa – masa seperti ini dalam tujuan untuk memancing minat dan daya beli masyarakat.

Pemerintah sebenarnya juga memiliki program untuk membantu masyarakat kelas bawah untuk bisa  bertahan di masa sulit seperti ini seperti program BLT yang tengah digulirkan. Namun baiknya Pemerintah juga bisa mengadopsi program – program seperti layanan ShopeePayLater untuk  bisa secara perlahan bisa membantu semua lapisan masyarakat di dalam pemenuhan kebutuhan, terutama untuk masyarakat kelas menengah ke bawah. *

Bagaimana Reaksi Anda?
Like
Love
Haha
Wow
Sad
Angry