
Kegiatan bertema “Patriot Merah Putih dalam Aksi, Kolaborasi Tanpa Henti” ini diikuti oleh seluruh jajaran struktural administrasi dan struktural akademik (ketua laboratorium) YPTA Surabaya. Hadir dalam kegiatan ini Pengawas YPTA Surabaya, Pengurus YPTA Surabaya dan jajarannya, Rektor Untag Surabaya dan jajaran,
Juga hadir Ketua Umum Asosiasi Badan Penyelenggara Perguruan Tinggi Swasta Indonesia (ABP PTSI), Wakil Ketua Umum ABP PTSI, serta mitra YPTA Surabaya yaitu Jatayu, Bank Jatim, dan BNI.
Pengawas YPTA Surabaya, Ir. Bantot Sutriono, menegaskan pentingnya kualitas sumber daya manusia (SDM) dalam mendukung pencapaian target World Class University.
“Kekuatan sumber daya itu bisa diarahkan untuk meraih World Class University, yang paling ditekankan yaitu pada kualitas akademik,” ujarnya (19/6/2026).
Sementara itu, Direktur Direktorat Sumber Daya Umum dan Manusia (DUSDM) YPTA Surabaya sekaligus Ketua Pelaksana, Eddy Wahyudi, S.H., M.Si., menyebut kegiatan ini sebagai agenda rutin dua tahunan untuk memperkuat kebersamaan sekaligus menyegarkan semangat kerja.
“Kegiatan ini untuk mempererat persatuan dan juga me-refresh, selama ini kita sudah kerja keras. Harapannya dapat membangkitkan kembali suatu semangat kerja di lingkungan YPTA Surabaya,” ujarnya dalam rilisnya, Kamis (25/6/2026).
Hari pertama kegiatan diisi dengan penguatan budaya kerja dan wawasan kebangsaan. Bendahara YPTA Surabaya, Dr. Ontot Murwato menyampaikan materi Mengelola Konflik Menjadi Spirit Kerja Fungsional, sementara Sekretaris YPTA Surabaya, Dr. IGN Anom Maruta, M.M., menyampaikan materi Implementasi Semangat Kerja Inspiratif, Kolaboratif, dan Dampak yang Diharapkan.
Ketua YPTA Surabaya, J. Subekti, membuka sesi refleksi kebangsaan yang diawali dengan lantunan lagu Ibu Pertiwi. Dalam sesi tersebut, mengulas perbedaan antara nasionalisme dan patriotisme pada era perjuangan kemerdekaan dengan era kekinian, namun nasionalisme dan patriotisme sebagai nilai yang perlu dipahami dan diimplementasikan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.
Sebelum sampai pada materi nasionalisme dan patriotisme, J. Subekti terlebih dahulu mengulas Sejarah Indonesia dan kondisi geografis Indonesia.
“Nasionalis itu memang mencintai bangsa dan mencintai negara, tetapi belum tentu siap untuk berkorban, siap untuk mempertaruhkan harta dan nyawa. Hanya mereka yang siap berkorban untuk membela kemerdekaan, kedaulatan, dan Ibu Pertiwi, maka dialah yang disebut patriot,” ujarnya.
Suasana semakin khidmat ketika seluruh peserta bersama-sama menyanyikan lagu nasional, seperti Dari Sabang Sampai Merauke, Indonesia Pusaka, Tanah Airku, dan Maju Tak Gentar.
Kegiatan dilanjutkan dengan arahan Ketua Umum ABP PTSI, Prof. Dr. Thomas Suyatno, mengenai tantangan perguruan tinggi swasta dalam menjaga keberlanjutan institusi. Penekanan diberikan pada pentingnya mencetak kader bangsa berkarakter kuat sebagai fondasi menghadapi dinamika dan perubahan zaman.
“Pada masa itu, ketika kejayaan Sriwijaya runtuh, salah satu penyebabnya adalah tidak tersedianya kader yang memiliki tiga kriteria utama, yaitu integritas, komitmen, dan loyalitas kepada bangsa dan negara,” ungkap Prof. Thomas.
Setelah pembekalan dari jajaran pengurus YPTA Surabaya, peserta secara simbolis diserahkan kepada Tim Reborn Organizer. Tim Reborn menyampaikan materi budaya organisasi dengan penekanan pada kolaborasi dan kerja tim, sekaligus menutup rangkaian kegiatan hari pertama.
Memasuki hari kedua, peserta mengikuti Fun Offroad dengan berbagai tantangan yang menguji kerja sama tim, komunikasi, dan kemampuan pemecahan masalah. Rangkaian kegiatan meliputi Taman Bunga Quest berupa pencarian dan pemecahan teka-teki nama tanaman, dilanjutkan memetik serta mengumpulkan apel terbesar di kebun apel untuk penilaian kelompok. Kegiatan ditutup di Econique Coban Talun melalui aktivitas kebersamaan dan permainan air yang mencairkan suasana.
Malam harinya, Gala Dinner bertema Pesona Indonesia Budaya Nusantara diikuti dua belas kelompok yang mewakili berbagai daerah, mulai dari Aceh, Sumatera Barat, Riau, Lampung, Jakarta, Jawa Barat, Jawa Timur, Bali, Nusa Tenggara Timur, Kalimantan, hingga Papua. Setiap kelompok menampilkan drama, dialog, dan tarian daerah dengan balutan busana adat. Tiga kelompok terbaik kemudian ditetapkan sebagai pemenang berdasarkan penampilan yang ditunjukkan.
“Semua kompak, semua bersatu dalam satu tekad untuk mengabdi kepada Indonesia melalui YPTA Surabaya,” ujar Ketua YPTA Surabaya.
Hari ketiga diisi outbound team building yang dipandu Tim Reborn Organizer dengan fokus penguatan kolaborasi, komunikasi, kepemimpinan, dan problem solving lintas unit. Sesi puncak mempertemukan seluruh peserta dalam satu tim besar untuk menjaga lilin tetap menyala di tengah rintangan serangan bola air. Lilin kemudian dibawa kepada Ketua YPTA Surabaya untuk membakar tali pengikat banner. Banner bertuliskan
“YPTA Surabaya Patriot Merah Putih” akhirnya terbentang sebagai simbol persatuan dan kolaborasi. Kegiatan berlangsung lancar hingga seluruh rangkaian terselesaikan sesuai jadwal.
Salah satu peserta, Izzah Aula Wardah,berlaku Kepala Laboratorium Sistem Tenaga, Program Studi Teknik Elektro, Fakultas Teknik Untag Surabaya, mengapresiasi konsep kegiatan yang dinilai matang dan terstruktur.
“Saya bukan orang dengan social energy yang tinggi. Namun, dari kegiatan ini saya justru menikmati prosesnya dan bisa mengenal banyak orang. Konsep kegiatan sangat matang sehingga pressure dalam menampilkan pertunjukan kelompok menjadi lebih kecil karena semuanya tertata dan terarah. Rundown juga berjalan tepat waktu,” ujarnyq.
Ia menambahkan, kegiatan ini memberikan pembelajaran tentang pentingnya kerja sama.
“Semoga semangat ini dibawa pulang dan diterapkan dalam dunia profesional seluruh bagian YPTA Surabaya. Memang terdengar klise, tetapi upgrading seperti ini diperlukan agar semua lini memahami tupoksinya dan menjalankan tugas dengan penuh ketulusan,” tambahnya.
Sementara itu, Wakil Kepala Sekolah SMPTAG Surabaya sekaligus peserta outbound, Aditya Yoastara, S.Pd., menilai kegiatan ini menjadi momentum penting dalam menyatukan visi antarunit di lingkungan YPTA Surabaya.
“Selama tiga hari ini menjadi momentum luar biasa untuk menyatukan visi SMPTAG, SMATAG, dan Untag Surabaya dalam satu kesatuan YPTA. Dari simulasi pembelajaran, pelatihan outbound, sampai misi di jeep dan kegiatan di Coban Talun, semuanya memberi pengalaman lengkap. Saya belajar meruntuhkan ego sektoral demi membangun sinergi antara tim akademik dan administrasi,” tutup Adit. ril/lis





































