SURABAYA | duta.co – Ketua Barisan Kiai dan Santri Nahdliyin (BKSN) H Agus Solachul A’am Wahib mengatakan bahwa dukungan ‘akar rumput’ nahdliyin terhadap Komite Khitthah 26 NU semakin besar dan tak terbendung.

Jumat (22/3/2019) pekan depan, sedikitnya 3000 warga NU (termasuk yang aktif di kepengurusan ranting NU) bakal menggelar doa hizib, mendukung gerakan dzurriyah muassis NU menyelamatkan organisasi ini dari cengkeraman politik.

“Mereka bergerak dengan biaya sendiri, urunan. Mereka menggelar doa agar dzurriyah muassis NU yang masih mau meluruskan organisasi ini, diberi kekuatan oleh Allah swt. Saya sampai brebes mili (menangis red) mendengar semangat juang warga NU di bawah yang begitu tulus, begitu cintanya kepada organisasi ini,” demikian disampaikan Gus A’am Wahib panggilan akrab H Agus Solachul A’am Wahib, kepada duta.co usai menemui jajaran panitia ‘akar rumput’ nahdliyin di Surabaya, Kamis (14/3/2019).

Masih menurut Gus A’am Wahib, setelah Jawa Timur gerakan ‘akar rumput’ nahdliyin ini juga meledak di Jawa Tengah dan Jawa Barat. “Ini bersamaan dengan gerilya anak-anak muda NU, para habaib yang terus menerus mensosialisasikan pentingnya menegakkan khitthah NU yang kini sudah terseret jauh politik praktis,” tambahnya.

Lebih dari itu, jelas putra KH Wahib Wahab Chasbullah ini, warga NU yang berada di kampus-kampus, kalangan akademisi juga siap bergerak mendukung gerakan dzurriyah muassis NU. “Sudah dirumuskan bagaimana bentuk gerakannya. Bahkan, kemungkinannya, juga sudah didiskusikan. Misalnya bagaimana kalau Jokowi-Kiai Ma’ruf yang menang dalam Pilpres 2019 dan bagaimana pula kalau Prabowo-Sandi yang menang nanti,” tegasnya.

Diakui, bahwa, soal Pilpres 2019 ikut menjadi variable bahasan. Karena Pilpres ini bisa menjadi pintu masuk pembenahan, atau sebaliknya bakal mempersulit keadaan. “Hampir semua sependapat, kalau Prabowo-Sandi yang menang, khitthah NU bakal tegak. NU bisa menempati posisi sebagai pengayom seluruh umat, NU bisa bicara politik kebangsaan, politik moral. Tidak partisan seperti saat ini,” tegasnya.

Diakui, bahwa Prabowo-Sandi mungkin jauh dari kata ideal dari standar syariat. Namun setidaknya kita bisa melihat bahwa orang-orang di sekelilingnya adalah orang-orang baik. Sementara, di sebelah kita saksikan sekelompok orang yang terang-terangan menolak istilah-istilah Islam, menolak kata kafir dll.

“Ini juga menjadi bahasan serius. Bahkan ada yang menyebut Pilpres ini dimaknai sebagai taruhan kedaulatan dan keutuhan bangsa. Indonesia Vs Asing, Islam vs Syi’ah dan Tauhid vs Komunis,” tegasnya serius. (mky)

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.